Posted in Puisi

Rahasia

Kau tidak pernah tahu
Ya, memang tidak
Aku menyimpannya sendiri
Tanpa membiarkannya diketahui olehmu

Untuk apa kau tahu?
Tak kan ada perubahan berarti
Tetap saja kau berpaling
Tetap saja kau melihatnya

Kau tidak pernah tahu
Sesakit apa hati ini melihatnya
Sesakit apa dada ini berusaha menerima
Sesakit apa tersenyum saat terluka

Aku tahu aku bodoh
Mengharapkan hal yang sia-sia
Kau selalu menganggapku adik
Padahal kita sama sekali tak berhubungan darah

Kau tidak pernah tahu
Bagaimana rasanya menahan ucap
Melihatmu tepat di samping
Hanya mampu menyebut namamu

Ah, lagi-lagi
Hanya rutinitas yang kulontarkan
Sesuatu yang kau hapal di luar kepala
Sial, tak adakah hal lain?

Kau tidak pernah tahu
Aku berdiskusi dalam diam
Menyatakan perasaanku padamu
Tidak semudah membentuk senyum

Hari itu
Jembatan itu
Langit kemerahan itu
Payung merah-ungu itu

Kau datang, akhirnya
Menghampiriku dengan peluh
Tidak tahukah kau betapa gugupnya aku?
Tidak sadarkah kau akan keresahanku?

Namaku terucap dari mulutmu
Tak kusangka kau dapat mengingat namaku
Nama tak penting yang hanya menghiasi otakmu
Bukan hatimu

Aku menyukaimu
Dua kata sederhana bermakna
Yang sanggup membulatkan mata sipitmu
Menunjukkan keterkejutan di sana

Payung merah-ungu menjadi saksi
Pernyataan cintaku padamu
Yang tak berbalas
Yang cukup sampai di sini

Curahan hati seorang Takayama Yanagi terhadap Imi Yukinari

Posted in Puisi

Kau, Siapa?

Lama kupandang dirimu.
Siapa kau sebenarnya?
Wajah tirus, rambut acak-acakan.
Sungguh bukan figur idaman.

Mereka bilang kita ini pasangan. 
Aku lebih suka menyebut kita sebagai malapetaka.

Tak ada kerusuhan tanpa kita.
Tak ada kita tanpa pertengkaran.

Lagi-lagi itu.
Kau bercerita lagi soal itu.
Soal janji antikmu.
Yang belum engkau temukan pemiliknya.

Aku tidak tahu.
Aku tidak ingat.
Aku bahkan baru mengenalmu.
Bagaimana aku bisa ingat?

Lantas kubuka buku harianku.
Halaman demi halaman coretan anak kecil.
Seorang gadis kecil yang jatuh cinta.
Pada sosok anak lelaki idaman.

Itu bukan dirimu, kan?

Kunci.
Gembok.
Dua hal yang saling melengkapi.
Dua hal yang mengikat sebuah janji.

Aku memiliki kunci.
Kau memiliki gembok.
Apa kita terhubung dengan sebuah janji?
Atau kita hanya bagian dari rencana terselubung?

Waktu terus berjalan.
Perlahan ada yang berubah.
Wajah tirusmu tidak lagi membosankan.
Rambut acak-acakanmu tampak indah.

Sial, apa yang kau lakukan padaku?

Aku membencimu.
Hei, kau dengar?
Aku selalu membencimu.
Aku membenci semua hal dalam dirimu.

Aku tidak pernah mau menyukaimu.
Aku tidak pernah mau menyayangimu.
Aku tidak ingin jatuh cinta padamu.
Sayangnya, aku terlanjur melakukannya.

Curahan hati seorang Kirisaki Chitoge terhadap Ichijou Raku

Posted in Puisi

Katakan

Katakan,
Apa aku bodoh?
Dariku satu tolakan
Kau lari tergopoh

Katakan,
Apa aku gila?
Saat kutunjukkan ketidakmauan
Kau bekerja sukarela

Katakan,
Apa aku durhaka?
Meski benci kukatakan
Kau banggakanku pada mereka

Katakan,
Apa aku jahat?
Karena banyak bangkangan
Ku tetap kau rawat

Sebenarnya siapa engkau ini?
Manusia? Atau malaikat?
Mengapa kau bertindak begini?
Atau kelak kau akan meralat?

Sungguh,
Aku ini bodoh
Mengeluh dan mengeluh
Saat kau sibuk memberi contoh

Sungguh,
Aku ini gila
Bertindak seolah dunia runtuh
Saat kau memberi bahu rela

Sungguh,
Aku ini durhaka
Di dalam dada petir bergemuruh
Saat kau siap mencabut luka

Sungguh,
Aku ini jahat
Air wajahku keruh
Saat kau bernasihat

Apa aku ini?
Manusia? Atau iblis?
Mengapa ku bertindak begini?
Padahal cintamu tulus?

Bodoh itu aku
Gila itu aku
Durhaka itu aku
Jahat itu aku
Ya, semua itu adalah aku

Tetapi…

Cerdas itu aku
Cermat itu aku
Sopan itu aku
Ramah itu aku
Bagimu, semua itu adalah aku

Lantas, pantaskah aku masih di sisimu?
Haruskah aku pergi darimu?
Haruskan aku tinggalkan dirimu?
Yang senantiasa memaafkan dosaku?

Bodoh, benar-benar bodoh

Engkau yang begitu mulia,
Begitu penyayang,
Seorang pelita
Seorang penenang

Andaikan aku mengatakan,
Akankah kau menerima?
Akankah kau memaafkan?
Akankah kau mengatakan ‘ya’?

Kuharap, ya…

Ibu…
Maafkan aku…

Dan terima kasih.