Posted in #JumblingJuly2017, Cerpen

Dibangunkan Kembali

Hari ini setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya aku dibangunkan kembali.

Rasanya menyenangkan deh, sungguh. Tidur lama itu memang enak, tetapi tidak selamanya enak. Apalagi kalau harus tidur dalam posisi tidak mengenakkan selama beberapa tahun dan kalian tidak punya kuasa untuk mengubah posisi tersebut. Yah, mau bagaimana ya, aku tidak bisa menggeser badanku sendiri, sih.

Continue reading “Dibangunkan Kembali”

Posted in #JumblingJuly2017, Cerpen

Sibuk, Kata Televisi

Aku pusing melihat kondisi ruangan ini.

Ini masih pagi, matahari juga belum terbit, tetapi entah mengapa semua orang rumah sudah berseliweran ke sana kemari sambil meneriakkan kata-kata yang sulit tertangkap maknanya apa. Semuanya rusuh, tidak ada yang mau diam. Semuanya berseru, tidak ada yang mau diam. Semuanya saling bicara, tidak ada yang mau mendengar. Bagaimana informasinya bisa tersampaikan?

Continue reading “Sibuk, Kata Televisi”

Posted in Cerpen

PHP

Kalian yang hidup dengan puluhan―mungkin ratusan―mantan mungkin sudah tidak asing dengan istilah ini. PHP, singkatan dari Pemberi Harapan Palsu, adalah sebuah julukan bagi mereka yang sering mengangkat seseorang hingga langit ketujuh kemudian menghempaskannya ke tanah tanpa ampun.

Aku, Reva, di sini tidak akan membahas para PHP dalam masalah cinta. Di sini, aku akan membahas ratusan PHP yang kutemui saat aku hendak… pulang kuliah.

Continue reading “PHP”

Posted in Cerpen

Antara Ditya dan Ditya

Hai, namaku Ditya. Aku punya sebuah kisah sederhana. Sebuah kisah mengenai aku dan sahabatku, Ditya. Tunggu, nama kami memang sama, tapi kami berbeda jauh. Aku perempuan, sedangkan dia laki-laki. Kepribadian kami juga berbeda jauh. Ditya adalah seseorang yang dapat meramaikan suasana, berbeda denganku yang cenderung diam dan tertutup.

Aku dan Ditya sudah berteman sejak kami kecil. Yah, cerita awalnya sih, Ditya menolongku yang tersandung akar pohon dan masuk ke lumpur. Ditya membantuku berdiri, menyuruhku duduk di bawah sebuah pohon, kemudian berlari ke rumah putih megah yang entah milik siapa. Beberapa menit kemudian, Ditya keluar sambil membawa kotak P3K dan pakaian ganti. Setelah mengganti pakaian dan mengobati luka-lukaku, kami duduk bersama dan berkenalan.

*

“Aku Ditya,” katanya memperkenalkan diri. “Kamu?”

Aku tertawa kecil sebelum menjawab, “Aku juga Ditya.”

Ditya tertawa. “Kalo gitu, seneng ketemu kamu, Kembaran.”

“Aku juga.”

*

Continue reading “Antara Ditya dan Ditya”