Posted in 30 Days Of Literature (2017), Cerpen, Conversation

Sampai Jumpa

“Maaf.”

“Hm.

Continue reading “Sampai Jumpa”

Advertisements
Posted in 30 Days Of Literature (2017), Opini, Random Thought

Saat yang Sama

Aku tidak pernah merasakan yang namanya musim panas―musim kemarau dikeluarkan dari kalkulasi. Musim ini, sepengetahuanku, identik dengan yang namanya patah hati. Meski begitu, ada pula yang bilang musim panas identik dengan jatuh cinta karena bertepatan dengan waktu liburan, bertemu orang-orang baru.

Akhirnya aku mengambil kesimpulan seperti ini:

Continue reading “Saat yang Sama”

Posted in 30 Days Of Literature (2017)

Mawar Tanda Rindu

Bunga mawar hakikatnya adalah bunga yang dilambangkan sebagai tanda cinta. Kalau kita tinjau kembali keindahan bunga itu tanpa bermaksud menjelek-jelekkan hasil karya-Nya, mawar bisa dibilang adalah bunga yang mengerikan. Dari jauh memang kelihatan indah, tetapi begitu dipetik, jemari kita akan merasakan sakit yang mungkin sedikit―tetap saja namanya sakit―akibat duri pada tangkainya.

Penjabaran fisik ini membuatku bertanya-tanya, apakah cinta memang didefinisikan seperti itu? Kelihatan indah namun nyatanya menyakitkan?

Continue reading “Mawar Tanda Rindu”

Posted in 30 Days Of Literature (2017), Random Thought

Rumah

Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal (KBBI, 2016).

Selama ini memang definisi sempit itulah yang menjajah otak kita, manusia. Rumah adalah tempat kita istirahat, makan, mandi, sampai menggila tidak jelas. Rumah adalah tempat kita menjadi diri kita sendiri, seutuhnya, tanpa intervensi dari pihak luar. Di dalam rumah, kita dapat menyimpan rahasia terdalam kita. Setuju?

Continue reading “Rumah”

Posted in 30 Days Of Literature (2017), Cerpen

Meja di Pojok Ruang Baca

Ada sebuah perpustakaan di pusat kota yang menjadi salah satu tempat kesukaan Reva untuk membunuh waktu menunggu.

Dan tentunya yang namanya fasilitas umum tidak akan bisa dijadikan tempat duduk-duduk pribadi. Meski Reva datang ke sana sendiri dan tanpa memberi tahu siapa-siapa, selalu ada orang yang sudah menempati spot favoritnya di perpustakaan itu; meja untuk empat orang di pojok belakang rak kamus di ruang baca lantai tiga yang letaknya persis di samping jendela.

Continue reading “Meja di Pojok Ruang Baca”