Posted in Cerpen, Fallen Vibes (2018)

Buket Bunga Hari Itu

Sebagai pegawai toko bunga, aku sudah biasa dihadapkan kepada jutaan kata romantis yang disampaikan orang-orang melalui bunga pesanan mereka.

Ada mereka yang klise; menyampaikan cinta dengan mawar merah. Ada mereka yang sedikit berbeda; menyampaikan cinta dengan clover putih atau salvia biru. Ada mereka yang unik; menyampaikan cinta dengan begonia.

Dan hal-hal itulah yang kutemui hari ini.

Pagi hari saat toko baru buka, seorang pria pirang dengan kekasihnya yang berambut merah datang. Mereka berkeliling toko sejenak sebelum kekasihnya minta dibelikan mawar merah. Akhirnya mereka membeli satu buket tanpa pesan―tentu karena langsung diberikan. Artinya, seperti yang kita tahu, adalah cinta.

Siang hari, seorang pria pirang lain datang dan langsung memesan sebuket clover putih dengan pesan ungkapan cinta. Ia minta bunga itu dikirimkan saat itu juga kepada seorang perempuan yang sampai saat itu hanya berstatus sebagai tetangga dan teman baiknya. Makna clover putih, “pikirkanlah aku”.

Malamnya menjelang tutup, seorang perempuan tinggi berambut cokelat datang dengan tergopoh-gopoh. Ia memesan sebuah buket kecil bunga salvia biru dan meminta buket itu segera dikirim kepada pria tetangganya―astaga, bunga balasan! Cepat sekali! Makna salvia biru, “aku memikirkanmu”.

Setelah tutup, tentu, aku pulang ke rumah dan mendapati sebuket bunga begonia tepat di depan pintuku. “Hati-hati” adalah makna bunga itu. Apa yang harus aku waspadai? Apa bunga ini pertanda teror?

Aku mengambil buket itu lalu membaca pesan yang diselipkan di antara bunganya. Untung saja isinya tidak kosong.

Hati-hati, kau akan jatuh cinta padaku. Dan hati-hati, seseorang berbohong tepat di depan wajahmu.

Detik berikutnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk dari pacarku. Aku menerimanya dan bukannya mendapat ucapan manis, aku justru dihujani hinaan oleh seorang perempuan yang mengaku-aku sebagai istri dari pacarku! Astaga!

Tidak ingin merusak rumah tangga orang, aku buru-buru menyampaikan maaf meski kurang sopan jika melalui telepon―masalahnya, pacarku itu tidak pernah mengenakan cincin kawin! Mana aku bisa tahu? Aku mengajak wanita itu bertemu, tetapi ia tidak terima sehingga langsung menutup teleponnya tanpa mendengar ucapan maafku lebih lanjut.

Yah, setidaknya aku sudah meminta maaf. Dan setidaknya bukan akulah pihak yang berbohong di sini.

Maka aku melangkah masuk ke dalam rumah sembari membawa sebuket begonia yang entah siapa pengirimnya ini.

 

(Kuharap suatu hari dia akan menemuiku dan menjelaskan maksud dari bunga yang ia kirim ini.)

 

– revabhipraya
04.02.2018 00.36

#FallenVibes
#FallenVibesDay03

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s