Posted in Cerpen, Fallen Vibes (2018)

Tempat yang Selalu Sepi

Setiap pantai yang berkarang biasanya punya sebuah cekungan kecil di salah satu sisinya; sebuah gua bermulut kecil yang tidak dalam.

Biasanya itulah yang kucari setiap saat aku pergi ke pantai. Selain karena penasaran, gua pantai yang tersembunyi kerap membuatku penasaran akan apa yang ada di dalamnya. Apa yang disembunyikannya sampai-sampai lokasinya harus tersembunyi?

Sebenarnya tidak ada apa-apa selain batu, karang, dan pasir. Tidak ada harta karun, teluk tersembunyi dengan duyung tinggal di sana, atau bahkan mutiara termahal di dunia di dalam gua tersembunyi itu. Selalu gua biasa yang kutemukan, gua yang hanya istimewa karena letaknya tersembunyi.

Namun hari itu berbeda.

Seperti biasa, aku selalu mencari gua tersembunyi saat tiba di sebuah pantai. Setelah berkeliling sekitar lima belas menit, akhirnya aku menemukan apa yang kucari.

Aku tidak sendiri di sana. Ada orang lain, seorang laki-laki, yang sudah tiba di sana lebih dulu. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk sambil menatap kosong ke lautan. Ingin aku abai terhadap eksistensinya, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Apalagi jika aku hendak duduk di tempat yang sama dengannya.

“Hai,” sapaku sambil menghampirinya. Ia menoleh. “Pemandangannya kelihatan bagus dari sini, eh?”

“Tidak juga karena tetap biru dan luas,” jawab laki-laki itu sekenanya. Dia tersenyum. “Duduklah.”

Aku duduk, menurut pada kata-katanya. “Lalu, apa yang membuatmu duduk di sini?”

“Gua?” Dia mengangkat bahu acuh tak acuh. “Pantai lebih enak dinikmati saat sepi, dan satu-satunya tempat yang selalu sepi―”

“Adalah gua yang tersembunyi,” ucap kami bersamaan. Kami saling melempar senyum, lalu dia kembali menatap laut dengan tatapan hampa. Berbeda denganku yang masih ingin mengahapalkan setiap inci wajahnya di dalam ingatanku.

Sayang, telah kutemukan dirimu.

 

– revabhipraya
03.02.2018 23.42

#FallenVibes
#FallenVibesDay02

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s