Posted in 30 Hari Bercerita (2018), Cerpen, Random Thought

Randomisasi Pagi

Minggu pagi ini aku bangun di atas kasurku yang kelewat nyaman dengan perasaan tidak enak. Benar-benar tidak enak. Sama sekali tidak enak.

Sialnya, perasaan tidak enakku terbukti benar. Masih pagi, tapi pintuku sudah digedor dengan tidak manusiawinya oleh seorang oknum berjenis kelamin laki-laki dengan nama Lev Shiva Nararya. Namanya? Ganteng. Orangnya? Jangan tanya―ganteng overload.

“Rev! Misi baru, Rev!”

Manner-nya? Hilang saat bersamaku.

Lev segera menyeruak masuk ke dalam apartemenku dan membuka pintu rahasia menuju ruang super komputer pribadiku. Duh, dasar lelaki ini, mentang-mentang sudah tahu, seenaknya berlaku.

“Lev, seenggaknya ngerusuh tuh bawain sarapan, kek,” gerutuku sambil menarik jaket yang kugantung di dekat pintu depan. Kupakai jaket itu sebagai rasionalisasi atas tidak layaknya kaus tidurku dilihat umum. Yah, meski Lev sudah melihatnya tadi saat aku membuka pintu.

“Habis ngecek misinya, ayo sarapan,” sahut Lev, sama sekali tidak memuaskan hati maupun perutku. Sambil menahan kesal, aku berjalan menuju ruang super komputerku. Lev sudah ada di sana, asyik mengutak-atik entah-hal-apa di dalam super komputerku. Semoga saja dia tidak merusak.

“Kamu belum sarapan juga?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Belum,” jawab Lev tanpa menoleh. “Karena aku gak bisa makan sebelum memeluk tiang listrik.”

“… hah?” Aku mengernyit. “Gimana?”

“Perumpamaan itu, Rev.” Lev mendecak. “Aku gak bisa sarapan sebelum melakukan hal gak jelas, gak penting, dan gak berfaedah.”

“Hal apa, tuh?”

“Ngerusuhin kamu pagi-pagi.”

Giliran aku yang mendecak. “Sial.”

“Oke, selesai,” ujar Lev sambil menekan tombol enter. Dia menoleh, menatapku. “Selamat pagi, Reva~”

“… maumu apa, sih.”

Lelaki itu terkekeh. “Reva mau sarapan apa? Bubur? Kupat tahu? Nasi kuning? Aku beliin di bawah, deh.”

“Sebentar, sebentar.” Aku mengibaskan kedua tanganku. “Misinya? Tadi kamu bilang ada misi?”

“Oh.” Lev meletakkan tangannya di atas papan ketik. “Gampang, kok. Biasa, Dilan nyuruh kita hadir di pesta perayaan. Kali ini pesta lima puluh tahunan salah satu museum seni di daerah atas. Ada surat ancaman, dan isi suratnya aneh.”

Aku mengedikkan kepala, menuntut lanjutan kalimat.

“Aneh banget ini, Rev.”

“Gak apa-apa, yang penting fakta.”

Lev menghela napas pelan. “Katanya, ‘aku tidak akan memulai kerusuhan di dalam pesta asalkan diiringi musik dangdut’.”

… oke.

 

– revabhipraya
25.01.2018 22.48

#30HariBercerita
#30HBC1821
#30HBC18Mengarang

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s