Posted in Cerpen, Conversation, Noctober (2017)

Secangkir Kopi dan Teh

“Kamu ambil minuman apa, Lev?”

“Kopi. Kamu?”

“Teh manis rasa vanila.”

“Gak akan minum kopi pagi ini?”

“Itu pertanyaan yang salah.”

“Hah?”

“Sampai kapanpun aku gak akan minum kopi, baik itu pagi, siang, sore, maupun malam.”

Tea person ya, Rev.”

“Aku nggak teradiksi pada teh, tapi ya, I’m not a coffee person.”

“Padahal secangkir kopi selalu punya cerita untuk dikisahkan, loh.”

“Oh ya? Apa?”

“Saat kamu menyesapnya, kamu akan merasakan pahitnya di dalam mulut. Sama seperti saat tertimpa masalah, kita hanya akan merasa terpuruk. Kemudian saat kopi itu tiba di kerongkongan, kehangatannya menenangkan jiwa dan raga, tetapi pahitnya masih terasa. Sama seperti saat kita menemukan solusi untuk masalah kita, kita senang, tapi masalah kita belum tuntas. Nah, saat kopi itu tiba di perut, yang ada hanya kenikmatan. Sama seperti saat kita berhasil memecahkan masalah yang menimpa kita itu.”

“Secangkir teh juga selalu punya cerita.”

“Oh ya? Apa?”

“Dia membuatmu bicara panjang lebar mengenai kisah secangkir kopi dan membuatku terlena dalam kisahmu.”

“Haha, benar.”

 

– revabhipraya
31.10.2017 23.31

#Noctober2017
#Noctober2017Day31

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s