Posted in Cerpen, Scriven September (2017)

Membuat Jantung Mencelos

Malam itu kebetulan Reva tidak punya kegiatan penting yang harus dilakukan sehingga dia mengajak―setengah memaksa―Lev untuk pergi bersama ke “tempat yang bisa membuat jantungmu mencelos hanya karena melihatnya”.

“Kamu sadar gak barusan kamu ngapain?” tanya Lev sambil mencabut kunci motornya dari kendaraan beroda dua itu. Dilepasnya helm lalu digantungnya di spion kanan, berlawanan dengan helm yang tadinya dikenakan Reva, digantung di spion kiri.

“Hmm.” Reva mengangkat kedua bahunya. Matanya menyiratkan jahil yang berusaha ditutupi namun gagal total. “Nyulik kamu, mungkin?”

“Tapi aku yang bawa motor?”

Reva terkekeh kecil. “Terus kenapa?”

“Kamu yang nyulik, tapi aku yang bawa motor?”

“Hei, gak ada seksisme di sini.”

“Apanya coba yang seksis?”

Lagi, Reva terkekeh. “Aku cuma gabut dan lagi pingin ganggu orang, itu aja.”

“Hmm.” Lev mengangguk setuju. Ditariknya lengan Reva sembari dibawa berjalan menjauh dari area parkir motor. “Ganggu orang, ya. Hmm.”

“Bukan ganggu orang, sih.” Reva tersenyum simpul. Ia biarkan lengannya ditarik oleh si pemuda yang ia akui tengah ia “culik” itu. “Ganggu kamu.”

“Hmm, iya.” Lev tidak menoleh, hanya terus berjalan masih sambil menggenggam lengan Reva. “Aku gak keberatan kok diganggu kamu.”

“Aku tahu kok, makanya aku lakuin,” kekeh Reva lagi. Ia menurunkan pandangan, memfokuskan mata kepada tangan Lev yang masih mencengkeram lengannya. “Ini … sampai kapan mau dipegang?”

“Sampai nyampe.”

Reva tidak mengajukan tanya lagi.

Setelah lima menit meniti langkah, Lev dan Reva akhirnya tiba di pinggir sebuah danau kecil dengan dermaga di salah satu sisinya. Langit sudah bertabur bintang sehingga tiada lagi terlihat perahu berseliweran di genangan air raksasa itu. Tak lupa, jangkrik ikut menyumbangkan suara merdunya demi menghapus kesunyian di danau itu. Damai, begitu perasaan Reva.

Tidak ketinggalan, jantung mencelos

Lev akhirnya, sesuai janji, melepaskan cengkeramannya pada lengan Reva. Ia lalu menoleh, menatap sang gadis. “Di sini aja … gak apa-apa?”

Reva mengangguk. “Sesuai kriteria, kok.”

“Kriteria?”

“Membuat jantung mencelos begitu melihatnya,” jawab Reva diiringi kekehan pelan. Lev mengekor.

“Duduk?” ajak Lev sambil bersiap mengambil posisi duduk. Reva mengangguk, lalu duduk setelah Lev telah nyaman bersila.

“Jadi ….” Reva membuka pembicaraan sambil mendongak menatap langit. Oh, banyak bintang! “Apa yang bikin kamu kepikiran soal tempat ini?”

“Hmm … kamu udah liat sendiri, kok.”

Reva menoleh. “Eh? Iya gitu?”

“Iya, barusan.”

“Emang aku liat apa?”

Lev mengedikkan kepalanya ke arah langit, mengisyaratkan Reva untuk kembali melihat si biru dongker yang tanpa batas. Reva menurut.

Masih, gadis itu tidak menemukan apa yang dimaksud Lev. “Apaan, Lev?”

“Bintang, Sayang.”

Reva menurunkan kepala. “Hah? Apa?”

“Taburan bintang, Rev, ini yang mendorongku buat ngajak kamu ke sini.”

“…”

“City of stars, kalau aku boleh mengutip istilah dari beberapa buku yang kubaca. Taburan bintang sebanyak ini disebutnya … ya itu, kota bintang―bukan secara harfiah.”

“Hmm.”

“Begitulah, hehe.”

Reva tersenyum kecil. Dilemparnya pandangan tepat ke mata pemuda yang duduk di sampingnya. “Lev.”

“Hm?”

“Makasih, ya.”

“Haha, makasih juga.”

 

– revabhipraya
24.09.2017 20.20

#ScrivenSeptember
#ScrivenSeptemberDay24

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s