Posted in Cerpen, Conversation, Scriven September (2017)

Itu Bohong, Ini Jujur

“Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu.”

Reva mengerutkan dahi, heran. Butuh dari sekadar lima detik untuk berhasil memahami kalimat Lev yang kerap muncul tiba-tiba tanpa preparasi.

Yang jelas, kalimat barusan bukanlah pernyataan perasaan.

“Ulangi coba,” pinta Reva dengan raut wajah serius. Dia tahu tadi Lev hanya berusaha mengucapkan sebaris kalimat yang baru ia baca atau kalimat favoritnya dari salah satu buku favoritnya. Tidak lebih.

“Tidak ada pengulangan,” ujar Lev tegas sambil terkekeh pelan. “Lagi pula, yang tadi itu bohong.”

Lagi, dahi Reva mengerut secara otomatis. Lev sedang senang main tebak-tebakan atau bagaimana? “Bohong bagian mananya?”

“Bagian ‘sejak pertama kali kita bertemu’.”

“O … ke?”

“Karena, Rev, aku nggak mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu.”

Oh, jadi ini bukan kutipan film, begitu pemikiran pertama yang melintas di batin Reva tepat setelah Lev menyelesaikan kalimat terakhirnya. Memutuskan untuk bersikap lebih serius dan tahu diri―merespons dengan baik adalah bentuk tahu diri―Reva mengangkat kepalanya. “Iya, kalau itu sih, aku juga tahu.”

Lev menyipitkan matanya. “Tahu darimana?”

“Karena cinta pada pandangan pertama itu hakikatnya memang gak ada,” jawab Reva lugas tanpa keraguan sedikit pun. “Yang berlaku pada pandangan pertama itu kekaguman, nafsu, perasaan gagal move on dari yang lama, bisa juga―”

Kekeh pelan Lev memotong perkataan Reva yang melaju terus bak kereta api. “Pengalaman, Rev?”

Kesal, Reva mengerucutkan bibirnya. “Intinya, cinta pandangan pertama itu gak ada. Titik.”

“Oke.” Lev mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku udah bilang kalau tadi aku bohong, ‘kan?”

“Iya.”

“Nah.” Jeda sejenak, Lev menarik napas panjang. “Aku mencintaimu setelah aku mengenalmu lebih dekat dan menemukan banyak sisi dalam dirimu yang berhasil membuatku nyaman ada di sekitarmu.”

Hening. Reva mengerjap bingung, tidak sanggup menjawab.

“Tapi bukan itu alasanku jatuh cinta padamu,” lanjut Lev setelah napasnya dapat kembali ia atur. Yah, salahnya sendiri berkata-kata tanpa titik dan koma seperti tadi. “Aku tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Lagi pula, memangnya cinta butuh alasan, ya?”

Masih, Reva hanya mengerjap bingung.

“Titik.”

“Ah ….” Reva mengedarkan pandang, berusaha menghindari kontak mata dengan pemuda di hadapannya. “Aku nggak menunggumu bilang titik, sebenarnya, tapi terima kasih atas peringatannya.”

Lev membentuk senyum simpul. “Sama-sama.”

“Sebentar.” Tangan kanan Reva diangkat oleh pemiliknya, mengisyaratkan Lev untuk menunggu sejenak. “Yang ini jujur, Lev?”

Lev mengangguk tegas.

“Jadi, intinya ….” Reva memejamkan mata cokelatnya, berusaha menyusun kalimat yang tepat di dalam otak. “Kenyamanan mengalahkan segala macam alasan klise yang biasa digunakan orang untuk menjelaskan cinta?”

“Sebenarnya tadi aku gak bilang begitu, tapi iya, benar.”

“Dan kamu mendapatkan kenyamanan ajaib yang bisa menghapus segala alasan klise dan kriteria ‘cewek idaman’ itu … padaku?”

“Iya.”

“Hmm ….” Seulas senyum tipis terbentuk pada bibir Reva. “Aku tersanjung loh, serius.”

“Memang itu kok tujuanku, haha.” Lev nyengir kecil. “Masih ada satu lagi, Rev.”

“Jujur atau bohong?”

“Jujur.”

Reva mengangguk. “Silakan.”

“Aku berjanji pada diriku sendiri, Rev.” Lev menarik tangan kanan Reva lalu menautkan kelingking milik gadis itu ke kelingkingnya sendiri. “Aku akan berusaha untuk terus, selalu, tetap sayang sama kamu.”

“…”

“Mukamu merah, tuh.”

“Ih! Gak usah disebut!”

Konversasi manis mereka berakhir dengan mendaratnya sebuah bantal merah jambu di kepala Lev.

 

– revabhipraya
23.09.2017 14.19

#ScrivenSeptember
#ScrivenSeptemberDay23

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s