Posted in #JumblingJuly2017

Proses Pengabadian Momen

Rasanya orang-orang masa kini kelewat berlebihan dalam menanggapi sebuah hal.

Hal itu adalah berfoto.

Aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu menyenangkan dengan berfoto, bukan. Lagi pula untuk apa sibuk berpose seperti ini dan itu jika pada akhirnya sesuatu yang seharusnya dinikmati itu hanya berakhir dipajang di media sosial untuk dipamerkan?

Aku tidak mengerti logika manusia masa kini. Bagi mereka, proses pengabadian momen lebih penting ketimbang proses perjalanan momen. Foto lebih penting bagi mereka ketimbang menikmati hal yang mereka foto.

Pertanyaannya, kenapa?

Ini teori asalku. Hampir semua orang punya akun media sosial, benar? Hampir semua orang yang punya akun media sosial rajin mengunggah kegiatan mereka baik dalam bentuk tulisan maupun foto, benar? Dan hampir semua orang pula bisa melihat unggahan tersebut, benar lagi?

Pada dasarnya, manusia adalah pengiri. Mereka melihat unggahan orang, merasa iri, lalu berusaha menciptakan sesuatu yang tidak kalah hebat dengan unggahan orang-orang tertentu itu.

Salah satu caranya adalah menciptakan foto yang sebagus mungkin di tempat yang seunik mungkin dengan caption semenyentuh mungkin.

Padahal, apalah arti foto jika kita harus merelakan diri kita bersakit-sakit ria saat menangkap momennya. Banyak cerita orang terluka atau bahkan tewas hanya karena fokus melakukan swafoto sampai tidak memerhatikan sekitarnya.

Jadi, masih akan lebih mementingkan proses pengabadian momen ketimbang proses perjalanan momen?

 

Bandung, 26 Juli 2017 22:30 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Proses Pengabadian Momen

  1. Setuju banget. :””
    Dan sepertinya sesekali aku terkena sifat “pengiri” itu tanpa kusadari. Berkat aku yang “kebanyakan mikir” ini, aku bisa tiba-tiba tersadar di tengah kegiatan proses pengabadian momen. Semacam, “Apakah begini rasanya ya ketika orang-orang membela-belakan diri untuk mengambil foto momen yang indah?” batinku ketika muncul rasa malu, nggak enak, dan takut-dilihatin waktu aku geregetan untuk mengambil foto langit di sore hari. Ah, kalau yang malu itu kayaknya aku saja ya, aku memang kurang suka jadi pusat perhatian sih, apalagi karena hal sepele, seperti mengambil foto karena melakukan hal yang ‘beda’. 😂

    Liked by 1 person

  2. Aku pun sesekali merasa kalau aku pengiri, meski aku masih bisa menahan rasa iri itu, sih. :”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s