Posted in #JumblingJuly2017

Kelopak Biru

Kita tidak pernah bisa menduga apa yang bisa kita dapatkan dari sebuah perjalanan, baik itu perjalanan singkat maupun jangka panjang. Selalu ada momen berharga di setiap perjalanan, selalu ada pelajaran berharga di setiap perjalanan.

Dan selalu ada benda berharga di setiap perjalanan.

Sebenarnya aku bingung hal apa yang sebenarnya akan aku tulis saat ini: benda berharga yang kudapat saat perjalanan jauh atau perjalanan jauh yang membuahkan benda berharga. Kuharap aku tidak melenceng dari prompt meski aku fokus menuliskan yang pertama.

Aku melakukan sebuah perjalanan bersamamu, yang meski tidak terlalu jauh namun terasa jauh karena panas dan macet. Kita berkendara serasa dibakar matahari, mendorong haus untuk terus-menerus muncul sampai-sampai kita harus mengalah pada minum. Kita berkendara dengan menyusuri jalan kecil yang tidak macet, berharap dapat menangkap angin yang menerpa wajah saat motor tumpangan kami berkecepatan tinggi.

Kita berhenti di kebun binatang, tempat yang sejak awal memang jadi tujuan kita. Kita berkeliling di dalamnya selama … satu jam? Satu setengah jam? Dua jam? Aku tidak ingat benar waktunya, hanya saja aku ingat beberapa momen menyenangkan di dalamnya. Saat seekor macan tutul mengaum dan kamu mengaum balik, saat seekor unggas entah-apa-namanya dengan paruh panjangnya nyaris mematuk kakimu, atau saat aku menolak melihat kandang ular karena memang aku merasa ngeri, aku ingat.

Selesai berkeliling, aku dan kamu keluar. Lalu muncullah konversasi itu dari mulutmu,

“Masukin jaketku ke tas, dong.”

Aku, lucunya, tidak menaruh curiga. Padahal sebelum berangkat aku sudah mengusulkan hal itu kepadamu, tapi kamu bilang “khawatir kusut”. Yah, kalau dipikir-pikir apa bedanya ditaruh sekarang dan ditaruh nanti kalau memang akhirnya sama-sama kusut?

Oke, skip.

Singkat cerita aku membuka tasmu …

… dan menemukan setangkai mawar biru di dalamnya.

Dan kekonyolanku yang tiada tara justru muncul di sana,

“Ini bunga Special Day jaman kapan?”

For your information, Special Day adalah kegiatan rutin per semester di jurusanku. Di sana, kita dapat mengirimkan bunga, cokelat, boneka, ataupun hal lainnya kepada siapapun yang kita mau (terbatas hanya di orang-orang jurusan kami). Aku pernah menyinggungnya sedikit di sini, tetapi aku tidak akan kembali kepada bahasan itu sekarang.

“Mana ada Special Day? Udah mati mereun. Buat kamu itu.”

Aku mengerjap. “Bohong.”

“Beneran.”

“Bohong.”

“Suwer.”

Aku masih tidak percaya. “Bohong.”

“Beneran, asli.”

Daaan … wajahku memerah.

“Oh … iya, makasih.”

Inilah yang tidak bisa kuputuskan: benda berharga yang kudapat saat perjalanan jauh atau perjalanan jauh yang membuahkan benda berharga. Hahaha.

Omong-omong, judulnya “Kelopak Biru” sebab kelopak mawar biru itu terus berjatuhan sepanjang jalan karena sudah terlalu lama dibawa di dalam tas. Tapi, saat kutaruh di vas, dia masih kelihatan cantik, kok.

 

Bandung, 23 Juli 2017 21:10 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

One thought on “Kelopak Biru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s