Posted in #JumblingJuly2017

Ruang Tamu

Sudah masuk hari kesembilan belas bulan Juli yang berarti, sudah tiba waktunya menuliskan prompt “Ruang Tamu” untuk #JumblingJuly2017. Dan berhubung aku sudah lama tidak menulis capruk juga alias ke sana kemari, mungkin sudah tiba waktunya kembali bagiku untuk menuliskan hal-hal random, hahaha.

Oke, jadi … ruang tamu. Ruang tamu adalah nama sebuah, atau bisa juga lebih dari satu, ruangan untuk menjamu tamu (definisi dikarang oleh penulis, hehe). Ruangan ini wajib berisi beberapa buah kursi atau sofa serta sebuah meja pendek. Tidak wajibnya alias tambahan-tambahannya, ruangan ini biasa dihias oleh rak buku atau rak pernak-pernik, meja tepi dengan lampu atau vas bunga di atasnya, karpet, atau sebuah kotak rotan yang tidak selalu berisi dan hanya berfungsi sebagai pemenuh ruangan.

Ruang tamu di rumahku bukan ruang tamu yang hanya berisi benda-benda wajib. Ada sebuah sofa untuk tiga orang, sebuah sofa untuk dua orang, sebuah sofa untuk satu orang, sebuah kursi, dua buah kotak rotan dengan kalender dan helm di atas yang satu dan tumpukan koran serta majalah di atas yang lainnya, sebuah meja pendek di tengah ruangan dengan beberapa kotak makanan ringan yang sering kucemil (haha!) di atasnya, dua buah meja tepi dengan lampu meja di atas salah satunya serta vas bunga di atas yang satunya lagi, sebuah rak pernak-pernik yang penuh dengan hiasan dari berbagai negara hasil oleh-oleh (bukan hasil perjalanan), dan sebuah karpet oranye menghiasi lantainya. Oke, aku baru saja menuliskan sebuah kalimat yang kelewat panjang, jadi semoga napas virtual kalian tidak kelelahan membacanya.

Intinya, ruang tamu di rumahku cukup penuh. Alasannya sederhana sih, karena Ibu suka sekali pernak-pernik. Berhubung ruang keluarga sudah penuh dan memang ruang keluarga biasanya kami isi dengan barang-barang pribadi yang terbatas bagi anggota rumah, maka pernak-pernik yang bisa dibilang unyu-unyu itu diletakkan di ruang tamu. Tujuan lainnya sih, supaya ruang tamu lebih indah dan enak dipandang. Mungkin alasan lainnya juga, alias alasan yang kukarang berdasarkan apa yang kulihat, adalah supaya pernak-pernik itu “bisa dilihat” (tetapi Ibu kerap mengamuk setiap kali ada anak kecil tidak sopan yang iseng memegang-megang barang-barang kesayangannya, hehe).

Walau cukup penuh, bagiku ruang tamu adalah salah satu ruangan paling nyaman di lantai satu (kamarku di lantai dua, dan tentu saja kamarku adalah ruangan paling nyaman di lantai dua). Ruang keluarga juga nyaman, hanya saja menurutku ruang tamu lebih nyaman. Aku lebih suka bekerja dengan laptop di ruang tamu ketimbang di ruang keluarga. Aku juga lebih suka tidur di ruang tamu karena aku tidak perlu berebut sofa di ruang tamu, toh, sofa panjangnya ada dua sementara di ruang keluarga hanya ada satu. Poin tambahan yang membuat ruang tamu jadi menyenangkan, angin sepoi-sepoi yang melintas di jendela selalu berhasil membuat suhu ruangan jadi rendah. Sejuk, dingin, jarang sekali panas di ruang tamu.

Dan, ruang tamu adalah satu-satunya ruangan tempat aku bercengkerama denganmu. Hahaha.

 

Bandung, 19 Juli 2017 16:42 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Ruang Tamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s