Posted in #JumblingJuly2017, Kuliah

Sama-sama Sibuk

Alkisah, aku mengikuti sebuah kepanitiaan kaderisasi tingkat fakultas di kampus. Mari kita samakan penyebutannya biar mudah, OSPEK Fakultas (aku tahu sih, rata-rata orang akan menyebutnya seperti ini, sejujurnya nama aslinya lebih rumit dan bermakna ketimbang ini, tapi yah, untuk apa pula aku umbar-umbar nama aslinya, pokoknya kalian tahu saja bahwa aku adalah panitia inti OSPEK Fakultas di fakultasku, titik).

Alkisah lagi, kamu dalam program kerja menjelang tugas akhir karena memang, yah, sudah tiba waktunya juga kamu untuk lulus. Mari kita samakan penyebutannya biar mudah, Magang (memang apalagi sebutan untuk program kerja? Mau itu program kerja menjelang tugas akhir, mau itu program kerja sebelum jadi pekerja tetap, mau itu program kerja hanya untuk iseng-iseng berfaedah mengisi liburan, namanya tetap magang, bukan?).

Aku sibuk mengurus OSPEK Fakultas, kamu sibuk magang. Aku dan kamu sama-sama sibuk di tempat masing-masing yang (menyedihkannya) berjarak lumayan jauh satu sama lain. Aku dan kamu sama-sama sibuk delapan jam sehari, mulai dari pagi sampai sore, Senin sampai Jumat. Aku dan kamu sama-sama sibuk setelah menyelesaikan urusan kesibukan masing-masing di tempat masing-masing, tapi masih harus menunaikan tugas di rumah masing-masing baik itu tugas rumah maupun tugas yang terpaksa dikerjakan di rumah.

Aku dan kamu sama-sama sibuk, tetapi kita tahu bahwa kita sama-sama sibuk dan sama-sama mengerti bahwa kesibukan memang tidak bisa ditinggalkan juga tidak bisa tidak dikerjakan.

Kita sama-sama tahu bahwa akibat kesibukan ini, kita akan tidak bertemu dalam waktu yang lama.

Dan sialnya, ah, ini benar-benar sial pokoknya, kata-kata yang dulu selalu berakhir wacana itu kini tidak lagi berubah menjadi wacana. Kita benar-benar lama tidak bertemu, benar-benar hanya bisa melepas rindu melalui obrolan online dan mentok-mentok, telepon menjelang tidur.

Oke, rindu itu wajar, tapi yang aku heran, mengapa aku sampai sebegininya? Aku tidak pernah benar-benar merasa rindu pada seseorang sampai seperti ini sebelumnya. Aku terbiasa tidak bertemu selama sebulan atau bahkan dua bulan padahal kami tidak bisa dibilang “berjarak”. Aku tidak apa-apa akan hal itu. Aku tahan-tahan saja. Saat bertemu pun melampiaskannya hanya dalam beberapa jam bukan masalah buatku, serius.

Anehnya, sejak bersamamu, tidak bertemu seminggu yang hanya dilampiaskan dalam delapan jam rasanya tidak cukup buatku.

Aku tahu aku dan kamu sibuk, kamu juga tahu itu. Aku tahu aku dan kamu berjarak cukup jauh, kamu juga tahu itu. Aku tahu aku dan kamu punya kewajibannya yang harus dikerjakan ketimbang sekadar bertemu, kamu juga tahu itu.

Satu lagi, aku tahu aku dan kamu akan tidak bertemu dalam waktu yang lama, kamu juga tahu itu.

Tapi, boleh ‘kan aku berharap bahwa lagi-lagi kalimat itu akan menjadi wacana?

 

Bandung, 17 Juli 2017 08:12 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “Sama-sama Sibuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s