Posted in #JumblingJuly2017

Hari Sabtu

Hari Sabtu, umumnya, adalah hari libur bagi banyak orang. Hari Sabtu adalah hari libur bagi para siswa kecuali yang mengikuti ekstrakulikuler, hari libur bagi para mahasiswa kecuali yang masih harus mengurusi kegiatan non-akademik, hari libur bagi para pekerja kecuali yang Sabtu tidak libur bekerja, dan hari libur bagi para ibu rumah tangga kecuali yang keluarganya tidak ada di rumah pada hari tersebut. Umumnya, Sabtu adalah hari libur. Kalau Minggu, hakikatnya, dia memang hari libur (setidaknya di Indonesia).

Sayangnya, Sabtu lalu aku tidak bisa libur. Ada kewajiban yang harus aku laksanakan. Ada kegiatan kampus non-akademik yang harus aku kerjakan. Ada rapat perihal sebuah kegiatan yang harus aku hadiri.

Ada konsep untuk OSPEK fakultas yang harus aku tuntaskan dan siapkan untuk sosialisasi (tentunya bersama panitia inti yang lain, tapi aku juga ikut serta dalam “menyelesaikannya”, bukan?). Akan tetapi, pada akhirnya, aku tidak ikut menuntaskannya secara benar-benar. Aku hanya hadir di setengah rapat, lalu selesai. Aku pergi.

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa? Padahal aku sudah bilang bahwa menuntaskan konsep itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan, namun mengapa aku tidak melakukannya?

Begini, mari kita tarik mundur dulu waktu ke hari Selasa.

“Teh, aku diajak kakak itu nonton!”

Adikku hari itu mendapat ajakan pergi hanya berdua dengan kakak kelasnya yang memang saat ini statusnya adalah … bukan pacar, tapi kelewat dekat untuk sekadar disebut teman. Karena aku adalah shipper nomor satu si Kakel x Adik (mulai sekarang aku akan menyebutnya Kakel, biar mudah. Yah, meski dia adik kelasku semasa SMA dulu, tetapi kan, dia kakak kelasnya adikku, hahaha), tentu saja aku ikut bahagia untuk adikku yang tidak terasa sudah mau punya KTP itu. Adikku disuruh si Kakel untuk mengatur jadwal pergi mereka, kemudian aku mengusulkan Sabtu (karena banyak faktor yang lumayan menguntungkan dan karena hari itu hari libur juga). Adikku setuju, mengatur ini-itu sedikit dengan si Kakel, dan akhirnya terbentuklah rencana mereka: Sabtu, pukul sebelas, Adik dijemput di rumahku (dan rumah adikku, haha), nonton di sebuah mall yang lumayan dekat dengan rumah.

Lucunya, Ibu merasa agak was-was melepas anak gadisnya yang masih bocah itu (mau sampai kapanpun, anak bungsu pasti akan terasa bocah meski dia sudah puber) pergi berdua dengan laki-laki. Beliau memberikan izin yang agak mengambang kepada adikku, antara ingin memberi izin, tetapi masih ragu. Karena aku tidak mau kalau sampai adikku batal pergi, akhirnya aku mengusulkan hal lain yang menguntungkan juga buatku,

“Kalo Teteh ikut juga sama si Akang (maksudnya kamu) gimana? Tapi di sananya kita misah aja.”

Lalu Ibu dengan cepatnya memberikan izin untuk kami berdua.

Untungnya, kamu bilang belum punya agenda apa-apa di hari Sabtu. Untungnya lagi, kamu langsung mengiyakan saat aku mengajakmu pergi. Untungnya lagi yang kedua, aku dan kamu bisa melepas rindu (hahaha!).

Setelah menyusun rencana segala macam, akhirnya terbentuklah rencana bersama: aku dan adikku akan dijemput di rumah kami, berangkat masing-masing ke tempat tujuan yang sama, dan melakukan kegiatan masing-masing di tempat tujuan tersebut tanpa harus pergi bersama. Selesai masalah.

Sayangnya, di hari Jumat, rencanaku terancam gagal akibat agenda Sabtu dadakan dari kampus yang awalnya adalah libur untuk istirahat mendadak berubah menjadi pembahasan menjelang sosialisasi. Di kala itu rasanya aku ingin mengamuk, serius. Selalu, selaluuu saja kami ini tidak taat jadwal. Kenapa, sih? Aku kan, sudah ada janji dengan kamu, dan sulit lagi bagiku untuk mengatur waktu baru. Yah, meski kamu bilang aku harus melaksanakan tanggung jawabku dulu dan rela jika agenda kita ditiadakan (bohong besar! Haha), aku tetap saja merasa tidak enak. Masalahnya di sini, aku loh, yang mengajakmu, bukan kamu yang mengajakku. Masalah lain, agenda ini kelewat mendadak sehingga menimbulkan perubahan rencana yang mendadak pula. Menyebalkan sekali.

Padahal aku sudah berharap akan menghabiskan Sabtu bersamamu, hahaha.

Untungnya, kamu berhasil membantuku menemukan penyelesaiannya (atas campur tangan Ibu juga, sih).

Keesokan harinya …

Aku menghadiri agenda dadakan di kampus itu dari pagi sampai siang, pulang ke rumah saat siang, lalu pergi denganmu dari siang sampai sore (karena kamu bilang kamu tidak bisa sampai malam, lagi pula aku juga tidak akan boleh bepergian sampai malam). Sesederhana itu.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana kisahku selama di kampus karena memang hanya seperti itu: diskusi, pendapat, fiksasi, dan selesai. Siangnya, akhirnya aku dan kamu bertemu juga setelah satu minggu tidak bertemu (rekor tidak bertemu paling lama!). Pertama, kamu menemaniku ke tempat fotokopi untuk mengurusi beberapa hal seputar print dan jilid yang tidak akan aku perjelas detailnya di sini. Kedua, aku dan kamu membeli es di dekat tempat tersebut karena aku bilang aku ingin (memang pada dasarnya aku ini banyak maunya). Ketiga, aku dan kamu pergi lagi untuk makan sushi di sebuah tempat makan yang kamu rekomendasikan sehari lalu. Keempat, kamu mengajakku keliling kota, mulai dari melihat tempat magangmu (ini sih, aku yang minta) sampai melihat pabrik penerbit yang sejak dulu kamu penasaran di mana tempatnya. Aku tidak akan menjelaskan secara detail tempat-tempat yang kami lewati karena, yah, aku sendiri tidak hapal benar (hehe), jadi untuk jaga aman, sebaiknya tidak kuceritakan betul-betul. Kelima, kamu menemaniku membeli makanan titipan Ibu sekaligus tebusan dariku atas rasa tidak enak yang kurasakan karena meninggalkan beliau sendiri di rumah. Keenam, aku dan kamu mengobrol mengenai segala macam hal sampai-sampai tidak bisa kuingat semuanya di rumahku selama kurang lebih dua jam (bonus makan, haha). Ketujuh, kamu bilang kamu “akan” pulang, tetapi lagi-lagi kita stuck di halaman depan rumahku selama satu jam (tahu begini kita tetap di dalam saja, ya? Haha) sebelum akhirnya kamu benar-benar pulang.

Kamu datang pukul satu, kamu pulang pukul sembilan.

Delapan jam.

Sesungguhnya aku berharap hari Sabtu itu, hari Sabtu dimana kita makan sushi, keliling kota, dan menghabiskan malam sambil mengobrol di rumah, tidak akan pernah berakhir. Layaknya lingkaran waktu dalam “Miss Peregrine’s House for Peculiar Children”, aku berharap kita dapat mengulang 24 jam yang sama terus-menerus karena jujur saja, rindu selama satu minggu tidak cukup dilampiaskan hanya dengan pertemuan selama delapan jam. Hahaha.

Oke, aku berlebihan.

(oh, aku jadi lupa menceritakan bahwa adikku menikmati jalan-jalan singkatnya bersama si Kakel, syukurlah)

 

Bandung, 17 Juli 2017 11:00 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “Hari Sabtu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s