Posted in #JumblingJuly2017, Kuliah

Semasa Sekolah, Semasa Kuliah

Sebagai mahasiswa, aku tahu benar bahwa duka yang kami alami kebanyakan lebih pahit ketimbang siswa. Akan tetapi, tidak dapat kupungkiri bahwa suka yang kami alami kebanyakan lebih manis daripada siswa. Jadi kami selalu lebih, tetapi bisa jadi lebih buruk, bisa jadi lebih baik. Tergantung situasi dan kondisi apa yang kami hadapi, tergantung kejadian apa yang terjadi.

Sederhananya, mari gunakan contoh. Mahasiswa akan berubah menjadi sangat bahagia ketika ditraktir, benar-benar bahagia karena biaya hidup saja sudah menggunung, coy. Kalau siswa kan, ditraktir teman … senang sih, tetapi senangnya juga biasa saja, tidak benar-benar sumringah sampai makan lima porsi nasi padang, bukan? Contoh yang buruk, saat dapat nilai C, mahasiswa akan cenderung down dan berpikir keras sebaiknya mengulang mata kuliah tersebut atau tidak. Kalau siswa saat dapat nilai C … sedih sih, tetapi efeknya tidak akan seburuk efek terhadap mahasiswa. Mentok-mentok dimarahi orang tua, tapi masih bisa naik kelas dan mentok-mentok remedial. Done, remedial tidak harus dilakukan di tahun depan, ‘kan?

Sebenarnya tulisan ini lebih kepada curhat singkat mengenai apa yang kualami semasa sekolah dan kualami semasa kuliah. Menurutku perbedaannya cukup signifikan sih, entah menurut kalian bagaimana. Pokoknya kini aku akan menuliskannya saja dulu, ya? Hehe.

Satu,

Semasa sekolah, aku tidak pernah khawatir akan nilaiku sebab setiap selesai ujian, guru-guru di sekolah selalu membeberkan nilai kami yang akan dimasukkan ke raport dan menawarkan perbaikan nilai alias remedial bagi yang tidak puas dengan nilai akhirnya. Semasa kuliah, aku selalu khawatir akan nilaiku yang bisa saja jeblok lantaran dosen-dosen itu metode pemberian nilainya lebih acak ketimbang guru sekolahku dulu.

Inilah sukaku saat menjadi siswa, dan dukaku saat menjadi mahasiswa. Aku saat menjadi siswa bisa meminta perbaikan nilai sesuka hatiku, mau mengubah 90 menjadi 95 pun bisa, kasarnya begitu. Sayangnya, aku saat menjadi mahasiswa hanya bisa berharap-harap cemas sambil menunggu nilai keluar. Seringkali nilai memang tidak sesuai harapan, karena aku seringnya berharap nilaiku tinggi lantaran usahaku cukup keras, tetapi nyatanya tidak. Di sini kadang aku merasa pepatah “hasil tidak akan mengkhianati usaha” itu bullshit, tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin memang usahaku yang belum optimal. Jadi, bisa dibilang ini adalah sukaku sebagai seorang siswa dan dukaku sebagai seorang mahasiswa.

Dua,

Semasa sekolah, rasanya aku selalu tahu apa yang aku pelajari hari ini, apa yang kupelajari kemarin, dan apa yang kupelajari di hari-hari sebelumnya. Semasa kuliah, tidak jarang aku melongo setelah kelas selesai, lalu bertanya-tanya di dalam hati, “Aku belajar apa tadi?”

Inilah sukaku saat menjadi siswa, dan dukaku saat menjadi mahasiswa. Sebenarnya mau dibilang duka juga tidak sepenuhnya benar, sih. Melongo pascakelas adalah hasil dari fokusku yang tidak sepenuhnya tertuju pada dosen, atau hasil dari ketidakjelasan materi yang disampaikan dosen, atau dari suara dosen yang tidak terdengar sampai ke tempatku duduk, atau banyak faktor lainnya yang masih tidak terukur. Mungkin ini adalah bentuk adaptasi dari sekolah ke kuliah yang masih gagal, mungkin. Saat sekolah, isi kelasku hanya sepuluh orang murid. Kini, aku harus dihadapkan kepada satu kelas yang berisi, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, bahkan kadang sembilan puluh. Mungkin hati kecilku masih rindu sekolah, hahaha. Jadi, bisa dibilang ini adalah sukaku sebagai seorang siswa dan dukaku sebagai seorang mahasiswa.

Tiga,

Semasa sekolah, aku banyak mengikuti kepanitiaan namun aku tidak merasa sibuk-sibuk amat karenanya. Semasa kuliah, aku mengikuti kepanitiaan juga, tidak sebanyak saat sekolah memang, tetapi aku merasa waktuku terkuras seluruhnya oleh kepanitiaan-kepanitiaan itu. Belum organisasi yang … saat sekolah juga aku tergabung dalam organisasi, sih.

Inilah sukaku saat menjadi siswa, dan dukaku saat menjadi mahasiswa. Sebenarnya harus kutinjau ulang sih, apakah memang “suka” namanya jika aku tidak sibuk padahal ikut banyak kepanitiaan? Dan, apakah memang “duka” namanya jika aku sibuk padahal ikut sedikit kepanitiaan? Kalau kuingat-ingat lagi pula, sepertinya aku tidak sibuk bukan karena memang kegiatannya tidak berat, tetapi karena tidak ada pembagian ranah kerja yang jelas dari “atas”. Aku tidak ingin menyalahkan ketua atau semacamnya, tetapi bagaimana bawahannya bisa bergerak kalau atasannya saja tidak tahu arah? Alhamdulillah, aku tidak menemukan hal ini ketika aku berubah status menjadi mahasiswa. Setidaknya di lingkungan baru ini kegiatan lebih terarah, dan semua orang tampak sudah paham akan jalannya masing-masing. Jadi, bisa dibilang ini adalah dukaku sebagai seorang siswa dan sukaku sebagai seorang mahasiswa.

Mungkin tiga hal itu dulu yang bisa aku bagikan kepada kalian hari ini. Besok, mungkin, aku akan menceritakan kembali suka dan dukaku sebagai seorang mahasiswa, dimulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang tidak besar. Hahaha.

 

Bandung, 13 Juli 2017 20:59 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Semasa Sekolah, Semasa Kuliah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s