Posted in #JumblingJuly2017, Kuliah

Andai Nangor Hanya Sekejap Mata

Aku tinggal di Bandung dan kuliah di Jatinangor, sepertinya aku tidak pernah benar-benar menegaskan hal itu. Aku berangkat kuliah pagi, dan pulang ke rumah di waktu yang tidak tentu. Jika tidak ada kegiatan berarti, biasanya aku akan pulang langsung setelah kuliah selesai. Jika ada kegiatan yang penting, rapat misalnya, aku akan pulang setelah rapat. Jika ada kegiatan yang tidak begitu penting, kalau aku ingin hadir, aku akan hadir dan pulang di tengah acara. Jika aku tidak ingin hadir, aku tidak akan peduli dan akan langsung pulang. Kurang lebih seperti itulah.

Jarak antara rumah dan kampusku cukup jauh, sekitar tujuh belas kilometer. Waktu tempuh normal setengah jam, waktu tempuh tidak normal bisa mencapai dua setengah jam. Macet ke arah sana memang bisa jadi berlebihan di saat-saat tertentu, misalnya seperti saat waktu mudik sebab jalur ke Jatinangor adalah jalur orang-orang mudik, atau saat banjir di daerah Rancaekek yang efeknya bisa merembet sampai Bandung. Pokoknya ada saat-saat tertentu kondisi jalan macet parah sampai rasanya lebih baik bolos saja.

Aku bepergian dengan mobil, untungnya mobil berukuran kecil warna hitam yang sering disebut Ibu dengan sebutan “Mobil Kutu” itu sangat sehati denganku. Dibawa dengan kecepatan tinggi oke, dibawa dengan kecepatan rendah tidak oke (karena aku memang benci harus berlambat-lambat saat menyetir), dibawa di jalan kecil oke, dan dibawa di jalan besar pun tidak kalah oke. Si Kutu (aku akan menyebutnya seperti ini mulai sekarang) adalah mobil terbaik yang bisa aku bayangkan, deh! Cuma masalahnya satu … kurang besar, jadi aku tidak bisa menampung banyak orang di dalamnya. Hehe.

Menyetir mobil punya suka dan dukanya sendiri bagiku. Sukanya, aku bisa membawa berbagai barang di dalam mobilku tanpa perlu menurunkan keseluruhannya ke kampus saat aku harus menghadiri kelas atau rapat. Dukanya, aku harus ikut-ikutan menerjang macet karena badan mobil itu besar, tidak bisa dibawa selap-selip ala motor. Jadi … aku senang karena aku bisa membawa segala macam barang, tapi di sisi lain aku juga agak kesal karena harus ikut bermacet ria. Mana jalur yang kulewati macet hampir setiap hari pula. Huft.

Menyetir mobil juga sebenarnya cukup melelahkan karena sebagai pengemudi, kita diharuskan untuk melakukan satu hal penting: fokus. Pengemudi harus melihat ke depan, spion tengah, spion kanan, dan spion kiri secara bergantian, dan bukan hanya melihat, harus memerhatikan. Harus hati-hati saat berbelok, ada motor atau tidak dari kanan-kiri, harus hati-hati saat menyeberang, harus hati-hati saat akan parkir, harus hati-hati saat akan masuk ke jalan raya, pokoknya banyak. Walau begitu, tetap ada sensasi tersendiri saat menyetir. Bagaimana rasanya saat terus menginjak gas di jalanan yang kosong, bagaimana rasanya menekan rem mendadak karena tiba-tiba ada kendaraan atau orang melintas, pokoknya menegangkan, deh! Pengalaman semacam ini tidak bisa didapat kalau pengemudi tidak mengebut tapi, hehehe.

Oke, mengapa aku jadi bahas pengalamanku dengan si Kutu?

Suka dukaku sebagai mahasiswa salah satunya berhubungan dengan si Kutu, memang. Aku harus mencapai kampus dengan si Kutu, mana aku kuliah setiap hari, belum lagi kalau ada kegiatan di luar hari kuliah. Tidak jarang juga aku pulang-pergi rumah-kampus dua kali sehari dengan si Kutu karena terlalu malas menunggu selama lebih dari tiga jam di kampus. Belum kalau macet, aku harus berjuang selama berjam-jam di jalan, bersama si Kutu yang sayangnya tidak bisa diajak mengobrol, sambil mencak-mencak sendiri selama perjalanan. Menyedihkan.

Aku butuh bolak-balik ke kampus sering, tetapi aku tidak diizinkan kost oleh kedua orang tuaku. Waktu itu sempat diizinkan sewa apartemen sih, tetapi gagal lantaran harga dan fasilitas yang tidak sesuai. Akhirnya, yah, aku terpaksa tetap menjadi pejuang pulang-pergi sampai aku lulus nanti (aamiin, lulus!). Tapi tidak apa-apa sih, aku tidak keberatan. Tidak ada kenyamanan rumah manapun yang dapat mengalahkan kenyamanan rumah sendiri, setidaknya begiku.

Tapi, tidak jarang pula aku berharap, andai Nangor (Jatinangor sering disebut hanya Nangor untuk memperpendek kata) hanya sekejap mata, pastinya aku tidak akan butuh si Kutu. Pastinya pula aku akan selalu datang tepat waktu. Pastinya pula aku akan sering bangun siang. Hahaha.

Jadi, terima kasih, Kutu. Terima kasih pula Nangor karena tidak menjadi “sekejap mata” sehingga tidak memperbesar sisi malas dalam diriku.

 

Bandung, 13 Juli 2017 22:43 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Andai Nangor Hanya Sekejap Mata

  1. Judulnya bikin baper dan berandai sambil bernostalgia. Andai Nangor hanya sekejap mata, aku bakal tetap di sana, sekarang aku sudah masuk tahun ketiga, dan kita masih lebih sering bertemu. Tapi, “Tidak ada kenyamanan rumah manapun yang dapat mengalahkan kenyamanan rumah sendiri” itu nggak bisa ditampik juga sih. Jadi, pada akhirnya aku hanya bisa mensyukuri suka (dan duka) yang sudah kudapat. :”))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s