Posted in #JumblingJuly2017, Cerpen

Dibangunkan Kembali

Hari ini setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya aku dibangunkan kembali.

Rasanya menyenangkan deh, sungguh. Tidur lama itu memang enak, tetapi tidak selamanya enak. Apalagi kalau harus tidur dalam posisi tidak mengenakkan selama beberapa tahun dan kalian tidak punya kuasa untuk mengubah posisi tersebut. Yah, mau bagaimana ya, aku tidak bisa menggeser badanku sendiri, sih.

Ah, rasanya kurang sopan ya, muncul-muncul langsung berceloteh mengenai ini-itu padahal prolog saja belum. Oke, jadi, perkenalkan, aku adalah sebuah benda mati (tentunya) yang terbuat dari logam. Aku ada hampir di semua rumah dan bangunan, kecuali mungkin rumah-rumah tradisional yang masih menimba air dari sumur. Aku tidur, biasanya, saat manusia memutarku ke kiri, dan bangun kembali saat manusia memutarku ke kanan. Saat bangun, aku akan membuka sebuah katup lalu mengeluarkan air dalam jumlah banyak dari pipa logamku. Saat tidur, aku akan menutup katup tersebut sehingga tidak ada air yang dapat lewat. Bisa menebak aku ini apa?

Iya, aku ini keran.

Eh, atau kalian tidak menebakku sebagai keran?

Ya sudahlah, pokoknya aku ini keran. Kalian bisa membayangkan sebuah pipa bengkok dengan pemutar di atasnya, bukan? Nah, itu aku.

Jadi, aku adalah sebuah keran di salah satu kamar mandi di sebuah rumah yang sudah lama kosong. Kosong karena pemiliknya mengontrakkan rumah ini ya, bukan karena pemiliknya meninggalkan rumah. Justru pemiliknya, kalau aku boleh sok tahu, kelihatan sayang sekali kepada rumah ini. Tapi, karena dia sudah punya rumah di seberang sana (serius deh, hanya berjarak lima belas meter!), dia jadi tidak bisa mengurus yang satu ini, makanya rumah ini dikontrakkan.

Dan itu juga yang menjadi penyebab aku harus tidur dalam waktu lama. Kalau rumah kosong kan, listrik dan air biasanya dimatikan. Aku juga selalu dalam kondisi tidur karena tidak ada yang butuh air di rumah ini, jadi, yah, begitulah. Aku merasa seolah aku adalah Putri Aurora atau Snow White yang tidur panjang dan hanya bisa dibangunkan oleh pangeran idaman mereka.

Sayang, tidak akan ada pangeran seperti itu di dalam hidupku. Mereka yang membangunkanku paling-paling hanya manusia yang sedang melihat-lihat isi rumah. Lebih parahnya lagi, terkadang manusia yang melihat-lihat rumah itu membawa anak kecil yang, uh, super menyebalkan! Terusss saja dia membangunkan dan menidurkanku selama berkali-kali sampai aku pusing. Dia kira aku tahan apa diperlakukan seperti itu?

Oke, singkat cerita, kini rumah yang telah lama kosong ini telah ditempati oleh sebuah keluarga yang biasa disebut sebagai keluarga Receh (aku mendengar para baju bergosip setiap kali mereka masuk ke dalam kamar mandi, aku kan tidak bisa ke mana-mana). Kini setiap hari ada yang membangunkanku untuk mengeluarkan air. Kini setiap hari ada yang membangunkanku karena membutuhkan air. Rasanya menyenangkan sekali karena kini aku punya jadwal bangun dan tidur yang teratur.

Sampai satu hari yang ajaib datang.

Aku biasa dibangunkan oleh si Kakak, si Papa, atau si Nenek dari keluarga Receh ini sebab hanya mereka yang biasanya menggunakan kamar mandi tempatku tinggal. Akan tetapi, hari ini aku dibangunkan oleh orang lain yang jarang menggunakan kamar mandi ini.

Aku dibangunkan oleh si Adik.

Oh, tumben? begitu batinku saat melihat wajah yang tidak familier di hadapanku. Tapi, yah, aku tidak punya wewenang apapun untuk menolak keberadaannya, jadi ya, silakan saja dia membangunkanku sesuka hati asal dia tidak lupa untuk menidurkanku kembali.

Si Adik sedang asyik memenuhi tangannya dengan busa sabun sampai-sampai dia nyaris tidak menyadari bahwa air di dalam wadahnya sudah nyaris penuh! Aku ingin berteriak, menyuruhnya menidurkanku kembali, tetapi aku tidak bisa. Eh, kalaupun aku bisa berteriak, si Adik tidak akan bisa mendengarku yang bersuara pada frekuensi yang berbeda dengannya.

“Waduh, mau penuh.”

Akhirnya dia sadar!

Si Adik celingak-celinguk, bingung karena tangannya penuh sabun sementara dia, sepertinya, tidak ingin mengotori badanku dengan busa basa itu. Akhirnya dengan badannya yang tidak terselimuti sabun, alias telapak kakinya, dia berusaha menidurkanku. Dia mengangkat kakinya, menyentuh pemutarku, mendorongnya, dan …

CTAK!

… pemutarku terpotong.

Oh, sial.

 

Bandung, 12 Juli 2017 21:02 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

One thought on “Dibangunkan Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s