Posted in #JumblingJuly2017

Si Boneka Putih-Hitam

Orang-orang mungkin akan menyebutku manusia gagal move on jika membaca tulisan ini. Yah, aku memang akan menceritakan benda-benda yang pernah diberikan mantanku dulu, tapi itu bukan berarti aku gagal move on, bukan? Aku menghargai pemberiannya dan karena aku memang suka dengan benda yang dia berikan, mengapa harus aku buang saat kami sudah tidak lagi berhubungan?

Prolog di atas mungkin agak sedikit melantur, aku tahu. Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan sedikit pembelaan diri dulu mengenai benda-benda kenangan bersama orang yang tidak ingin kita ingat-ingat lagi. Kenangan itu tidak akan hilang, akan tetap berbekas di memori, dan kita tidak boleh menyesal akan kehadirannya. Kenangan ada untuk memberi kita pelajaran, menguatkan diri kita, bukannya untuk menjatuhkan kita sampai-sampai jadi gila. Amit-amit, deh.

Oke, skip ke bahasan sesungguhnya.

Benda-benda yang pernah dia berikan kepadaku, semuanya, adalah benda-benda yang tidak membuatku tidak bisa menyukainya. Ada sebuah boneka panda raksasa yang saaangat enak untuk dipeluk, ada sebuket bunga mawar biru muda yang sekarang sudah mati (tentu saja), ada sekotak cokelat, dan ada sebuah boneka beruang merah jambu yang sampai sekarang masih terbungkus rapi di dalam plastik. Semuanya punya kisah tersendiri, dan aku akan menceritakannya di sini.

Satu, boneka panda. Boneka ini adalah hadiah ulang tahun yang dia berikan kepadaku saat aku berubah menjadi gadis 16 tahun—dan akibat hadiah inilah ulang tahunku yang ke-16 lebih berkesan ketimbang 17, padahal orang-orang biasanya menantikan usia ke-17. Begini, keluargaku bukanlah keluarga yang hobi merayakan ulang tahun, pun memberikan hadiah kepada yang ulang tahun. Sejak kecil aku sudah terbiasa untuk tidak menerima hadiah saat aku ulang tahun, jadi aku tidak berharap apa-apa saat ulang tahunku tiba. Makanya aku benar-benar terkejut ketika dia menyodorkan sebuah boneka panda besar sambil berkata “selamat ulang tahun” dengan muka malu-malu. Jelas aku senang, lah. Sampai sekarang pun boneka itu masih duduk manis di atas lemari pakaian kamarku, kok.

Sebenarnya ketiga benda yang terakhir itu punya cerita yang serupa karena diberikan pada waktu yang sama, yaitu saat himpunanku sedang melakukan pengiriman bunga di akhir tahun lalu. Dia mengirim satu paket yang seingatku harganya paling mahal sampai-sampai dia kehabisan uang untuk “bertahan hidup” di sisa minggu itu. Tapi, aku akan membahas satu hal yang unik dari masing-masing benda.

Dua (melanjutkan dari boneka panda), buket mawar biru. Aku bukan tipikal orang yang benar-benar menyukai bunga, tapi bukan berarti aku tidak suka jika diberikan satu—atau bahkan lebih. Kebetulan, warna favoritku memang biru muda. Rupanya dia sengaja memberikan bunga biru muda karena dia tahu warna yang kusuka.

Tiga, cokelat. Aku memang suka cokelat dan tidak akan menolak jika diberikan makanan manis berwarna sama dengan namanya yang satu itu. Itu juga salah satu alasannya memberikanku cokelat, setidaknya begitulah yang aku tahu.

Empat, boneka beruang merah jambu. Tidak ketinggalan, ada sebuah bantalan berbentuk hati dengan sepenggal kalimat cinta tertera di atasnya. Kalau boneka sih, sudah jelas, aku memang suka—buktinya aku senang bukan kepalang saat diberikan boneka panda. Yang membuatku lebih speechless sebenarnya adalah kalimat yang tertera pada bonekanya. Bikin meleleh tidak, sih?

Yap, aku masih ingat bagaimana perasaanku saat menerima hadiah-hadiah itu. Aku tidak akan membohongi diri sendiri, aku suka sekali hadiah-hadiah yang diberikannya meski harus kuakui, aku bukan tipikal orang penerima hadiah yang bisa dibuat bahagia setengah mati hanya karena benda. Aku lebih suka orang yang jujur dalam bersikap dan berkata ketimbang orang yang suka memberikan ini-itu. Dan kurasa … inilah alasan kenapa kami kini tidak berhubungan lagi.

Eh, tapi bukan berarti aku membuang barang-barang pemberiannya, ya! Aku tetap menyayangi kedua boneka itu hingga kini, kok. Kalau bunga dan cokelat sih, sudah jelas kan, larinya ke mana?

 

Bandung, 5 Juli 2017 11:19 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Si Boneka Putih-Hitam

  1. Kesamaan yang lain? XD

    Lari ke … setengah ke perut, setengah ke tempat sampah. Aku lupa makan cokelatnya dan tahu-tahu sudah berapa bulan berlalu :”D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s