Posted in #JumblingJuly2017

Photobox Pertama

Sejak aku bisa mengenali diriku sebagai seorang manusia, aku sadar bahwa aku bukan orang yang suka difoto. Mau itu difoto sendiri, berdua, bertiga, ataupun banyakan, aku tetap tidak suka. Aku ingat benar wajahku yang cenderung flat alias tidak berekspresi setiap kali aku difoto. Sangat mencirikan ketidaknyamananku saat difoto.

Eh, tapi waktu kecil aku hobi direkam, sih. Kalau aku buka-buka lagi kaset-kaset rekaman dari handycam lama yang sudah setia menemani keluargaku selama dua belas atau tiga belas tahun—tapi masih bagus, loh!—di sana banyak sekali rekaman aku dan Adik saat masih kecil, dan di sana kami … amat sangat narsis. Memalukan kalau diingat.

Semakin tua, tingkat narsisku semakin kembali, hahaha. Aku belajar selfie—setidaknya bagiku pribadi aku butuh belajar menggunakan kamera belakang tanpa melenceng—lalu aku mulai sering wefie berdua dengan Adik. Standar kamera kami pun meningkat, dari kamera ponsel beralih ke kamera digital. Kemudian tibalah eranya kamera depan, selfie jadi jauh lebih mudah dengan kamera itu. Sepertinya inilah awal mula aku mulai suka difoto (lagi).

Walau begitu, tetap saja, aku ber-selfie di tempat-tempat tertutup alias bukan di tempat umum. Tempatku melakukan selfie, yah, di mobil, di kamar, di ruang tamu, pokoknya di wilayah rumah dan sekitarnya, deh. Aku tidak pernah melakukan selfie di restoran, mall, apalagi halte. It’s completely a big no, hahaha (omong-omong, mohon koreksi kalau grammar-nya salah).

Nah, jadi photobox pertama ini sebenarnya tidak direncanakan alias mendadak. Kala itu, tingkat kenarsisanku memang sudah agak meningkat, tetapi berfoto di tempat umum tetap menjadi suatu hal yang bagiku agak memalukan. Dilihat orang-orang yang lewat, memangnya tidak malu?

Oke, photobox memang berfoto di dalam sebuah kotak raksasa tertutup yang membuat orang-orang tidak bisa melihat kerusuhan yang terjadi di dalamnya, tetapi tetap saja, tempat umum, loooh. Bagaimana aku bisa tidak malu?

Cerita awalnya, aku dan kedua temanku pergi ke sebuah mall di kota tempatku tinggal kini untuk menonton sebuah film yang baru rilis. Sambil menunggu waktu menonton tiba, mereka memutuskan untuk melakukan photobox. Aku yang belum pernah photobox sama sekali karena terlalu malu untuk melakukannya, akhirnya hanya bisa pasrah karena kalah suara. Eh, sebenarnya aku tidak bersuara sama sekali sih, hehe, aku hanya iya-iya saja. Lagi pula, mau aku menolak pun, mereka pasti akan memaksa, jadi … ya sudah.

Kami memasuki bilik itu bergantian, aku terakhir karena aku masih merasa waswas terhadap kotak raksasa itu—aku separanoid itu karena baru pertama kali. Aku membiarkan kedua temanku mengatur segala macamnya sebab, serius deh, aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti saat layar sudah melakukan countdown artinya kita harus siap-siap berpose, sudah, itu saja.

Tiga kali berpose, tapi hasilnya tidak membuat kedua temanku puas. Alhasil ketakutanku terjadilah.

“Ulang, ah!”

… kuatkan aku, ya Allah.

Kami melakukan tiga kali pose lagi, dan untungnya, yang kedua ini hasilnya memuaskan. Setelah selesai memilah-milih ini-itu yang tidak kupahami, kami keluar dari kotak raksasa itu dan menunggu hasil cetak fotonya. Saat hasilnya sudah selesai dicetak …

UWAAAH. TERNYATA SEBAGUS INI, YA!

Oke, sebut saja aku berlebihan atau semacamnya, tetapi aku memang benar-benar takjub, hehe. Foto itu kami bagi tiga lalu kami segera keluar dari tempat itu karena film yang hendak kami tonton akan segera dimulai.

Pengalaman photobox pertamaku mungkin terdengar biasa saja, mungkin juga terdengar berlebihan. Akan tetapi, aku tidak menyesal melakukannya bersama kedua temanku itu. Foto yang kami “hasilkan” itu kujadikan display picture selama beberapa lama yang tidak bisa kuingat tepatnya, namun aku tahu benar aku menghargai momen itu.

 

Bandung, 5 Juli 2017 10:58 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Photobox Pertama

  1. Aku pun bukan orang yang suka difoto (tahu kan, sangat sulit mencari fotoku) dan aku seumur-umur hanya pernah sekali merasakan photobox. Haha! xD

    Like

  2. That “Ulang, ah!” juga menjadi kata-kata yang bikin aku deg-degan dan merasa diterpa cobaan hidup. :”) Ujian hidup banget emang, apalagi kalau foto bareng teman yang foto empat kali itu baru masuk pemanasan….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s