Posted in #JumblingJuly2017

Sepucuk Surat dari Sahabat

“Sepucuk” sebenarnya bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan surat yang diberikan sahabat-sahabatku dulu sebab selain karena sahabat yang kupunya—setidaknya saat itu aku yang masih polos menganggap orang yang akrab denganku adalah sahabat—ada lebih dari satu, surat yang mereka berikan juga lebih dari satu. Tidak tepat satu orang satu surat sih, pokoknya lebih. Kalau aku tidak salah ingat, ada dua atau tiga surat yang kudapat. Sampai sekarang surat-surat itu masih kusimpan, kok.

Surat-surat itu adalah surat ucapan perpisahan dari mereka untukku yang akan pindah ke kota lain. Alasannya … pribadi dan berhubungan dengan keluarga, jadi mungkin tidak akan pernah kuceritakan. Kalaupun akan kubeberkan, setidaknya tidak akan kubahas sekarang di dalam tulisan ini.

Perpindahanku kala itu memang cukup mendadak. Walau begitu, sebenarnya keluarga kami memang sudah berencana untuk pindah sejak awal pertengahan tahun 2010. Hanya saja, aku adalah pihak egois yang menolak untuk pindah karena satu: aku tidak mau meninggalkan teman-temanku yang berharga dan telah bertransformasi menjadi sahabat-sahabatku itu. Hanya itu.

Ayah selalu bilang bahwa di kota yang baru, aku tidak mungkin tidak akan mendapatkan teman. Ya, aku juga tahu itu, tapi memangnya akan terasa sama antara teman yang lama dengan yang baru? Selain karena aku akan butuh waktu untuk beradaptasi lagi, aku juga tidak akan bisa langsung menunjukkan sisi diriku saat bersama teman-teman lamaku. Aku bukan tipe orang yang mudah bersosialisasi dan membentuk kubu kenyamanan, jadi sebenarnya pindah merupakan keputusan yang benar-benar berat untukku.

Aku berhasil mempertahankan keinginan egoisku selama satu semester sampai akhirnya, di awal tahun 2011, kami memang benar-benar harus pindah—aku, Adik, dan Ibu. Hari Senin aku masih bersekolah, tetapi aku sudah mengucapkan perpisahan kepada teman-temanku. Hari Selasa aku juga masih bersekolah, tetapi Ibu sudah mengurus surat pindahku. Hari Rabu aku juga masih bersekolah, tetapi surat pindahku sudah disetujui. Hari Kamis aku hanya datang ke sekolah untuk berpamitan dengan teman-temanku, dan hari itu juga, kami berangkat ke kota yang kutinggali sekarang. Hari Jumat aku dan Adik mengikuti ujian masuk di sebuah sekolah swasta dan, alhamdulillah, kami diterima. Senin berikutnya, kami sudah bersekolah dengan seragam, barang, dan lingkungan baru.

Nah, di hari Kamis sebelum aku pergi meninggalkan sahabat-sahabatku itu, beberapa orang di antara mereka memberiku beberapa lembar kertas. Seseorang yang kreatif membuatnya ala-ala milik agen federal dengan menuliskan “confidental” di bungkusnya. Aku hanya bisa tersenyum saat menerima surat-surat itu. Aku putuskan untuk membukanya di mobil saat perjalanan, dan saat aku mulai membaca baris pertamanya …

Tangisku langsung membuncah keluar. Air mataku seolah ada di seluruh bagian wajahku tanpa kecuali, benar-benar terasa seperti habis mencuci muka dengan air mata. Aku menangis sejadi-jadinya, tidak peduli dengan tanggapan Ibu yang sedang menyetir ataupun Adik yang hanya bisa bengong karena dia yang masih kelas 4 SD belum paham akan perasaan kehilangan orang-orang yang berarti. Yah, aku tahu mungkin aku terdengar berlebihan, tetapi memang itulah yang kurasakan kala itu. Aku hanya ingin menangis dan menangis, dan itu semua karena aku tidak rela kehilangan sahabat seperti mereka.

Lucunya, aku kini mendadak teringat akan post-ku berjudul “Perpisahan” dimana aku menceritakan bahwa aku harus berpisah dengan dua orang gadis luar biasa dalam satu hari yang sama. Kalian bisa mengklik judul tersebut untuk membaca tulisan itu, atau tidak, bebas. Di sana aku menuliskan kalimat ini:

“Allah yang paling tahu apa yang kita inginkan, paling bisa membolak-balikkan hati manusia, dan paling tahu kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana-Nya.”

Saat kupikir-pikir sekarang, benar, memang sebenarnya apa yang ada di kota tempat tinggalku yang baru inilah yang aku inginkan. Benar, hatiku telah dibolak-balik dengan begitu mudahnya. Dan benar, waktu itu adalah waktu yang tepat untuk kepindahanku. Allah Maha Mengetahui.

Setelah berhasil beradaptasi di lingkungan yang baru, aku tidak lagi banyak menangis karena pindah. Aku tidak lagi mendadak ingin pulang atau bagaimana sebab aku memang sudah di rumah. Aku tidak lagi berharap kepindahanku tidak terjadi karena … yah, aku betah. Dan, aku tidak menyesal telah berada di tempat yang baru.

Akan tetapi …

Bukan berarti aku melupakan sahabat-sahabat lamaku. Aku tidak lupa soal mereka, bahkan sambil menuliskan ini pun aku bisa melafalkan nama mereka satu per satu di dalam benakku. Hanya saja, pada dasarnya kami memang ditakdirkan untuk berpisah, aku di sini dan mereka di berbagai belahan Jakarta—bahkan ada yang go abroad. Mungkin takdir yang dituliskan untuk kita hanya sebatas “pernah bersahabat” dan bukan “bersahabat hingga ajal”. Atau, sebenarnya aku saja yang mencari-cari alasan karena lama tidak berhubungan dengan sahabat-sahabatku.

Dan, sepucuk surat itu mengingatkanku …

Bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.

 

Bandung, 4 Juli 2017 14:25 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “Sepucuk Surat dari Sahabat

  1. Orang-orang yang pernah ditinggalkan atau meninggalkan pasti ingin punya hal yang bisa dikenang satu sama lain ya.. Gak coba hubungi lagi sahabat-sahabatmu rey? Siapa tahu bisa ketemu atau sebatas chat gitu~

    Like

  2. Bukannya gak mau juga sih, sebenarnya lebih kepada aku juga baca post-post mereka udah merasa gak nyambung … dan, yang bener-bener deket sama aku, lost contact. 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s