Posted in #JumblingJuly2017, Kuliah

Meninggalkan Tanggung Jawab

Aku adalah tipe orang yang bisa dibilang bertanggung jawab, mulai dari tanggung jawab mengerjakan tugas akademik hingga organisasi—pengecualian tugas rumah, hehe, tetapi meski dengan malas-malasan, aku selalu berusaha mengerjakan, kok. Aku adalah seorang fast responder dan selalu memberikan konfirmasi mengenai kehadiranku, tidak hadir atau terlambat. Hampir tidak pernah aku menghilang tanpa kabar seperti Bang Toyib, kecuali kalau aku memang sedang malas-malasnya menghadapi sesuatu—kejadian seperti ini bisa dihitung jari, sebenarnya. Aku tidak sering melakukannya.

Paragraf di atas mungkin terdengar seperti aku sedang menyombongkan diri, dan aku minta maaf jika ada yang tidak suka membaca tulisan semacam itu. Paragraf sebelum ini sesungguhnya hanya prolog dari ketakutanku yang kesekian—aku tidak pernah benar-benar tahu jumlah tepat ketakutanku—sebelum aku membahasnya lebih dalam di paragraf-paragraf setelah ini.

Aku takut meninggalkan tanggung jawab.

“Loh? Tanggung jawab itu kan, memang harus dikerjakan. Orang-orang gak akan meninggalkan tanggung jawab semudah itu, ‘kan?”

Mungkin beberapa di antara kalian ada yang berpikir seperti itu. Yah, kalian benar di kalimat pertama, tetapi salah besar di kalimat kedua. Tidak jarang aku melihat teman-teman sebayaku, biasanya di organisasi, menghilang tanpa kabar seolah ditelan bumi—bahkan yang ditelan bumi saja ada kabar “ditelan bumi”-nya. Saat rapat, mereka tidak hadir. Saat kegiatan organisasi, mereka tidak hadir. Saat dipanggil di grup online, mereka tidak menyahut. Baru saat di-chat secara pribadi mereka menyahut, itupun setelah menunggu selama beberapa jam. Semua itu adalah contoh nyata dari “meninggalkan tanggung jawab”, bukan?

Berbeda dengan kebanyakan orang yang kukenal itu, aku tidak bisa menjadi manusia yang seperti mereka. Aku tidak bisa meninggalkan rapat saat aku memang berkeliaran di sekitar kampus kala itu—kalau aku sedang di rumah sih, biasanya aku akan izin. Aku tidak bisa meninggalkan kegiatan organisasi saat aku memang sedang luang kala itu. Aku tidak bisa tidak membalas chat di grup online saat aku memang sedang mengakses ponsel. Jarang ada yang mengirimiku chat pribadi karena aku memang selalu muncul di grup online. Pengecualian kalau seseorang itu memang butuh berbicara satu lawan satu denganku.

Aku tidak bisa tidak membalas pesan, sejak dulu aku selalu seperti itu. Aku juga tidak bisa membiarkan ada notifikasi pesan muncul di ponselku saat aku sedang asyik mengakses ponsel. Pasti pesan itu akan langsung kubuka dan kubalas demi menghilangkan notifikasi. Aku tidak tahu apa yang membuatku jadi pribadi yang seperti ini, namun aku bersyukur karenanya. Sejauh ini, tidak pernah ada orang yang protes mengenai caraku membalas pesan karena memang … yah, tidak ada yang perlu diprotes.

Beralih ke tugas akademik, aku merupakan seseorang yang menganggap bahwa tugas akademik itu penting, siapapun yang memberikannya. Mau itu dosen yang killer maupun dosen paling baik hati seantero jurusan, tugas tetaplah tugas dan itu wajib untuk dikerjakan. Yah, meski begitu, bukannya jarang aku lupa mengerjakan tugas sehingga terpaksa mengerjakannya sebelum pelajaran dimulai—jangan ditiru. Untungnya, biasanya tugas-tugas yang kukerjakan mendadak seperti itu tidak dikumpulkan alias hanya untuk latihan soal saja.

Sejauh ini, aku tidak pernah tidak mengumpulkan tugas, kecuali saat dosen tersebut tidak menerima tugas karena aku tidak mengumpulkannya tepat waktu—padahal sudah kukerjakan! Dan bukan karena lewat deadline juga! Sejauh ini pula aku selalu berusaha mengerjakan tugas sendiri—jika tugasnya individu—dan selalu berusaha melibatkan semua anggota kelompokku dalam pengerjaan jika tugasnya kelompok. Tapi, tidak jarang juga aku mengerjakan garis besar tugas kelompokku sendiri, lalu menyuruh anggota kelompokku yang lain untuk menyelesaikan sisanya.

Berangkat dari kebiasaanku yang tidak buruk itu, kecuali poin terakhir, aku kerap merasa heran melihat teman-temanku yang bisa dengan santainya tidak mengerjakan tugas atau menyalin pekerjaan temannya satu jam sebelum pelajaran dimulai. Satu, tugas itu sudah jelas wajib dan memengaruhi nilai nantinya. Dua, tugas yang dikerjakan mendadak itu hasilnya tidak pernah baik, apalagi kuliah kami kan, hitung-hitungan (panjang) semua! Tiga, tugas yang dikerjakan dengan menyalin milik teman hanya membuat penyalinnya menjadi dua hal, malas dan—maaf kasar—bodoh. Empat, memangnya apa yang dilakukan si pelaku sampai-sampai tidak sempat mengerjakan tugas yang diberikan seminggu lalu?

Selain masalah tugas yang sering dikerjakan di hari H, aku juga punya masalah dengan tugas kelompok. Aku sering mengalami dilema pada saat pengerjaan tugas kelompok karena aku tidak ingin tidak mengumpulkan tugas, tetapi anggota kelompokku tidak ada yang punya inisiatif untuk memulai pengerjaan. Tampaknya mereka saling mengandalkan satu sama lain—si A berharap B yang mulai sedangkan si B berharap A yang mulai—sehingga hasilnya adalah, tidak ada yang memulai.

Aku hampir tidak pernah bisa bekerja dalam kelompok. Alasannya egois, sebenarnya, karena aku adalah orang yang lumayan perfeksionis dengan caraku sendiri sehingga hasil yang ada haruslah dari apa yang menurutku benar, dan aku adalah orang yang tidak tahan melihat orang lain tidak benar mengerjakan sesuatu yang bisa kukerjakan sendiri dengan benar. Intinya, aku tidak tahan jika harus dihadapkan kepada mereka yang sedikit-sedikit bertanya, sedikit-sedikit mengeluh, ataupun sedikit-sedikit meninggalkan pekerjaan. Tahu begitu kan, lebih baik aku saja yang mengerjakan semuanya sendiri.

Aku tahu pemikiranku itu tidak baik, aku tahu. Dari namanya saja, tugas kelompok, sudah jelas bahwa kita harus bekerja secara berkelompok, bersama-sama. Kerja kelompok itu penyatuan ide dari berbagai kepala, bukan masing-masing mengerjakan lalu hasilnya digabungkan—ini metode yang sering kugunakan. Akan tetapi, kembali lagi kepada ketakutanku di awal, aku takut tidak mengumpulkan tugas alias meninggalkan tanggung jawab. Jadi, daripada kelompokku nantinya tidak punya apa-apa untuk dikumpulkan, lebih baik aku yang bekerja sendiri. Setidaknya, meski memang tidak ikhlas menuliskan nama orang-orang yang tidak berkontribusi di judul makalah, aku tetap mengerjakan tugas.

Aku masih berusaha menghilangkan kebiasaan burukku dalam kelompok itu, terlalu mendominasi sampai akhirnya mengerjakan semuanya sendiri. Sejauh ini, pencapaian terbaikku dengan tugas kelompok adalah saat aku bisa memilih sendiri anggota kelompokku. Aku senang saat aku bisa memilih sendiri kelompok yang aku mau sebab aku dapat memilih orang-orang yang bisa kuajak bekerja sama. Sayangnya, aku tahu dunia kerja nantinya tidaklah semudah itu.

Dari tulisan yang lumayan panjang ini, aku ingin menyampaikan bahwa jangan menjadi orang seperti aku dalam tugas kelompok, tetapi … bolehlah, menjadi sepertiku kalau masalah tugas individu dan merespons chat. Hehehe.

 

Bandung, 3 Juli 2017 05:51 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “Meninggalkan Tanggung Jawab

  1. Lebih menggelikan lagi, sebenarnya, adalah orang-orang yang senang mengikuti seminar motivasi ‘manajemen waktu’, ‘manajemen diri’, ‘manajemen tim’, dan sejenisnya namun suka meninggalkan tanggung jawab mereka 😦 maksudku, mana hasilnya? Anyway, suatu tulisan yang baik untuk mengingatkan kita tentang menunaikan tanggung jawab yg diemban 😀

    Like

  2. Itulah kenapa aku gak suka ikut-ikut seminar, karena buatku hal-hal seperti itu harus diterapkan, bukan didengarkan. Setuju! Makasih banyaaak! Hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s