Posted in #JumblingJuly2017

Lift

Selain laut, ada satu hal lagi yang juga kutakuti walau sekarang rasa takut itu sudah jauh berkurang. Sama dengan laut, hal ini terdiri dari empat huruf dengan huruf L sebagai huruf pertama dan huruf T sebagai huruf keempat.

Lift, hahaha.

Sejauh yang pernah kudengar, orang-orang takut naik lift karena takut melihat hantu di dalamnya―umumnya seperti itu. Aku? Oke, aku mungkin agak takut hantu, tetapi bukan itu yang membuatku sebisa mungkin menghindari lift. Lagi pula, aku juga tidak bisa melihat hantu, jadi untuk apa takut?

Satu-satunya alasanku takut naik lift adalah karena aku pernah “tersasar” di dalamnya.

Kejadiannya di sebuah hotel di Surabaya. Saat itu, usiaku masih tujuh atau delapan tahun―sekitar dua belas tahun yang lalu berarti. Ceritanya, kami sekeluarga hendak memasuki lift, tetapi aku yang memang susah diam berlari masuk ke dalam lift lebih dulu. Saat aku membalikkan badan …

Pintu lift-nya sudah tertutup, dan aku sendirian di dalamnya.

Spontan saja aku menangis. Sayangnya, tangisanku tidak bisa mengubah arah lift menjadi ke bawah ataupun membuka pintunya.

Tahu-tahu lift yang kunaiki berhenti di lantai sekian, aku lupa berapa. Ada dua orang bapak-bapak yang langsung bingung melihatku sendirian di dalam lift.

“Aku kesasar, Om,” begitu kataku. Kalau dipikir-pikir, dasar anak kecil, polos sekali.

Untung saja kedua bapak itu baik. Mereka menemaniku di lift sampai akhirnya lift kembali ke lobby dan untungnya, keluargaku masih di sana! Ibu langsung memelukku sambil menangis dan, ya, aku juga menangis lagi.

Sejak saat itu, bukan hanya aku yang trauma, melainkan Ibu juga. Setiap kali kami menginap di hotel, beliau akan mencari hotel yang tidak memiliki lift. Setiap kali kami pergi ke mall, beliau akan mengusahakan sebisa mungkin untuk selalu menggunakan eskalator.

Yah, sekarang rasa takutku akan lift sudah jauh lebih berkurang ketimbang dulu―bahkan sepertinya sudah hilang total. Aku sudah berani naik lift sendiri juga, haha, aku toh sudah besar.

Satu hal lagi yang membuatku takut pada lift adalah pintunya yang suka tiba-tiba menutup sendiri. Alasannya sederhana, dan alasan ini terbentuk akibat memori masa kecil yang begitu mengena di otak.

Saat kecil pula, entah berapa tahun yang lalu, aku sedang duduk di hadapan televisi. Kebetulan Ayah sedang menonton sebuah film yang tidak kuketahui apa judulnya, hanya saja aku tahu bahwa film itu menyeramkan―teror, bunuh-membunuh, thriller pokoknya.

Ada satu adegan mengerikan terkait lift di sana. Jadi ada seorang wanita sedang menaiki lift bersama seorang pria yang membawa berbagai jenis kait di keranjangnya. Saat wanita itu hendak melangkah keluar lift, rambutnya tersangkut di salah satu kait tersebut. Alhasil dia tidak bisa melangkah melewati pintu lift. Kemudian pintu lift-nya menutup …

Dan kepalanya … ah, terpotong, begitulah. Bayangkan saja sendiri. Dan bayangkan pula bagaimana perasaan seorang anak―aku―saat melihat hal seperti itu? Setiap melihat pintu lift menutup aku selalu bergidik ngeri. Haha.

Ah, tapi sekarang rasa takutku sudah jauh berkurang, kok. Terima kasih kepada kedewasaan, hahaha.

 

Bandung, 1 Juli 2017 12:19 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “Lift

  1. Cerita yang menarik! Aku sih dulu gak suka naik lift karena membuat perasaan yang aneh di kepala (?) Entahlah 😀 Tulisan yang bagus!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s