Posted in #JumblingJuly2017

Laut

Entri pertama untuk #JumblingJuly2017, nih! Di sini, aku mau menceritakan mengenai ketakutanku yang … tidak terbesar sih, tetapi yang terbaru. Aku tidak takut menghadapi hal ini, tetapi memang hal ini sempat membuatku agak waswas untuk beberapa waktu.

Hal yang kutakuti ini adalah laut, atau lebih khusus lagi, ombak laut. Gelombang yang kecil maupun besar dapat membuatku bergidik.

Mungkin kedengaran aneh karena pada dasarnya, aku suka berenang dan bermain air. Dulu sebenarnya aku tidak takut laut. Setiap pergi ke pantai, dengan tidak ragunya aku pasti bermain di pinggir pantai sampai seluruh tubuhku basah kuyup—padahal rencana awalnya hanya “merendam kaki”, namun aku tahu pasti rencana ini akan berbuah wacana. Aku cinta air dan tidak berminat ataupun berniat menghilangkan kecintaanku padanya.

Akan tetapi, pengalamanku tiga tahun lalu mengubah segala yang kurasakan soal laut.

10 Agustus 2014, aku ingat benar karena bertepatan dengan ulang tahun adikku. Hari itu kami sekeluarga besar—tidak hanya ada Ayah, Ibu, Adik, dan Nenek, tetapi juga sepupu-sepupuku beserta orang tua mereka dari pihak Ibu—pergi ke pantai bersama. Awalnya kami melakukan gamegame ringan seperti kuda bisik dan semacamnya, lalu saat game selesai, barulah aku dan sepupu-sepupuku bermain ombak. Pengecualian untuk seseorang yang asyik mengoperasikan layang-layang dan surfing, hahaha.

Padahal kami hanya duduk sambil menikmati hempasan ombak, tidak melakukan hal-hal aneh. Memang sih, posisi kami agak terlalu jauh dari pinggir pantai, aku sadar akan hal itu. Hanya saja selama kami bisa berpijak pada pasirnya, harusnya tidak jadi masalah, bukan?

Kami duduk berenam di sana, aku, Adik, dan empat orang sepupuku. Lalu entah ada angin apa, tiba-tiba keenam orang itu pergi ke tempat orang tua kami duduk-duduk, menyisakanku sendiri duduk di sana. Lalu tiba-tiba saja ombak datang “menarikku” ke laut, lalu membawaku berguling sejenak di dalamnya. Aku tidak tahu seperti apa aku waktu itu, aku bahkan tidak yakin bisa bernapas—sumpah, tidak ada udara yang dapat kurasakan di sekitarku, hanya air dan pasir. Aku tidak bisa mengontrol diri, untuk berenang saja rasanya tidak sanggup. Tahu-tahu aku diangkat oleh seseorang dan saat aku sudah bisa kembali melihat langit, rupanya itu Ayah.

Itu pengalaman yang mengerikan, sejujurnya. Aku bersyukur saat itu seluruh keluargaku melihatku terbawa arus. Kalau tidak, yah, entahlah apa yang akan terjadi. Aku sendiri tidak mau membayangkannya. Sesak napas saja sudah membuatku tidak bisa berpikir jernih, apalagi … kalau lebih.

Sejak saat itulah aku tidak lagi bisa melihat laut, khususnya ombak, dengan cara yang sama. Saat kunjungan edukasi sekolah ke suatu tempat dimana terdapat sebuah arena bermain di arus sungai di sana, aku butuh waktu untuk berpikir panjang sebelum akhirnya mengiyakan. Saat perpisahan sekolah ke Anyer, aku ogah mendekati pantai dan lebih memilih untuk menikmati pemandangannya dari kolam renang saja. Lebih parah lagi, saat aku mencari gambar laut di internet, tubuhku otomatis bergidik dan jantungku berdebar-debar seolah khawatir sewaktu-waktu akan ada ombak yang menerjangku lagi.

Akan tetapi, bukan berarti aku jadi benar-benar takut sampai memutuskan untuk tidak akan pernah lagi mendekati laut seumur hidupku, ya. Aku masih senang diajak pergi ke pantai, masih senang menikmati angin pantai yang kencang, masih senang menulis-nulis di pasir, dan masih pula senang merendam kakiku dengan air laut yang dibawa angin. Hanya saja untuk waktu yang cukup lama, mungkin aku tidak akan lagi bermain ombak sampai basah kuyup total. Aku masih sayang nyawa, hehe.

 

Bandung, 1 Juli 2017 10:10 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “Laut

  1. Pengalaman yang cukup menegangkan 😦 Aku pun tak begitu suka laut, bukan karena ada suatu pengalaman yang spesifik, sih. Hanya saja, what’s so fun about it? Pantai? Ombak? Matahari terbenam? Aku belum menemukannya. Bukan berarti aku tidak menyukai laut 😀 Nice piece of work!

    Like

  2. Ombak adalah salah satu hal yang menyenangkan soal laut! Angin juga! Aku selalu menikmati angin laut setelah traumaku ini muncul, dan menurutku itu menyenangkan xD iyaa, memang agak menyeramkan ;v; dan hal ini membuatku menghindari laut―lebih baik mencegah, bukan? Lagi, terima kasih!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s