Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 41: Semua Tentang Kamu

Sebagai penutup bulan Juni yang membahagiakan—karena aku bisa menulis sebulan penuh, tentu saja—juga sebagai entri terakhir #NulisRandom2017 yang diadakan oleh NulisBuku ini, aku akan menulis sebuah tulisan yang membahas tentang satu hal yang sudah aku janjikan pada diri sendiri untuk kutulis di akhir bulan …

Kamu, hehe.

Sebelum ini, aku hanya pernah membahas sekilas mengenai kamu, bagaimana perasaanku terhadapmu atau bagaimana perasaanku terhadap perlakuanmu. Aku tidak pernah benar-benar membahas bagaimana cerita antara aku dan kamu dari awal sampai akhir—meski kamu sudah tahu dan aku yakin kamu membaca tulisanku, aku tetap ingin menuliskan ini.

Aku pertama kali menyadari ke’hadir’anmu di sekitarku adalah pada awal semester duaku, berarti awal tahun lalu. Awalnya sederhana, ada yang bertanya, “Siapa di sini yang masuk Departemen X BEM Fakultas?” (nama disamarkan demi kebaikan banyak pihak)

Tentu saja aku jawab, “Aku.”

Lalu si penanya membalas, “Wah, sama kayak ‘kamu’, dong!”

Pada detik itulah sepertinya aku mulai memerhatikanmu—dan langsung berasumsi bahwa kamu akan jadi kepala departemen itu tahun depan. Berarti sudah cukup lama, ya?

Momen berikutnya yang membuatku sadar akan kehadiranmu adalah saat kamu mengisengiku soal info kehilangan flashdisk (yang sesungguhnya bukan flashdisk) di akun resmi jurusan. Pertama, kamu mengisengiku lewat akun itu. Kedua, setelah kamu tahu bahwa akulah sumber kesalahan tersebut, kamu selalu bertanya “Flashdisk-ku mana?” setiap kali kita berpapasan di kampus. Menyebalkan, tapi menyenangkan. Hahaha.

Momen berikutnya adalah saat kamu mengikuti lomba yang diadakan Departemen X BEM Fakultas—aku mengagumi usahamu menghargai program kerja ‘mantan’ departemenmu, omong-omong, hahaha—dan aku bertugas menjadi LO untuk jurusan kita. Aku mengirim pesan padamu untuk memastikan kehadiranmu di lomba, tetapi kamu bilang bahwa susunan pesertanya berubah. Aku sampai bertanya kepada orang yang mengurus pendaftaran, tetapi dia bilang kamu pesertanya. Saat itu aku dibuat bingung, dan melihat kedatanganmu di hari lomba, sumpah, aku kesal setengah mati—tapi kesalku sekilas saja kok, toh, jurusan kita juara dua, ‘kan?

Momen berikutnya adalah saat kamu menjadi penanggung jawab sebuah tim dimana aku adalah salah satu anggotanya—meski akhirnya aku tidak begitu berguna di sana. Awalnya kamu mengirim pesan kepadaku, memintaku untuk ikut serta. Awalnya aku ingin menolak, tapi mau menolak juga tidak enak. Akhirnya … yah, aku menerima permintaanmu.

Omong-omong, aku jadi ingat kalau kita dulu rekan satu divisi di BEM Jurusan, hanya saja beda departemen. Tapi kita tidak pernah berhubungan di sana, ya?

Satu tahun, 2016, nyaris terlewati sampai kamu mengirimiku pesan dan memintaku untuk mendaftar kembali di Departemen X BEM Fakultas. Aku sudah menolak, meski dengan rasa tidak enak hati karena “aku lemah kalo di-PC”, tetapi akhirnya aku mendaftar juga. Kamu mewawancaraiku setelah aku melalui tiga ujian susulan akibat sakit di masa ujian—otakku sudah lelah hari itu, tetapi lebih baik otakku lelah daripada aku harus menyediakan hari lain untuk datang ke kampus. Wawancara kita berjalan serius tapi santai, kalau aku tidak salah ingat. Lalu di akhir wawancara, tepatnya saat wawancara sudah selesai, kamu bertanya, “Nilai Kalkulus itu emang 0 semua?”

Waktu itu salah satu kelasmu memang sama denganku, makanya dia bertanya kepadaku. Aku yang menderita nasib yang sama—nilai 0 semua—kemudian menjawab setelah tertawa, “Iya, itu emang error.”

Sejak aku menjadi stafmu di departemen itulah kita jadi sering berinteraksi. Awalnya karena aku memilih untuk mengetuai program kerja yang secara timeline dilaksanakan di awal kepengurusan—sebenarnya sih, karena aku ingin ke’maso’anku cepat berakhir—sehingga akhirnya aku banyak berurusan denganmu. Buat proposal, buat timeline kegiatan, pengumuman ke sana-sini, surat ini-itu, dan segala macamnya. Bahkan yang mendampingiku memimpin rapat kegiatan dan technical meeting ya, cuma kamu. Ah ya, ada satu kejadian tidak wajar setelah kita selesai technical meeting pukul lima sore itu.

Aku, yang biasanya langsung pulang setelah semua urusanku di kampus selesai, mendadak bertanya kepadamu, “Aku laper. Makan, yuk?”

Dan kamu mengiyakan pula. Hahaha.

Selama makan, jujur saja, ada perasaan aneh yang menjalari diriku. Misalnya pada bagian kamu menceritakan segala macam hal yang tidak kuingat sih, tetapi cukup pribadi dan bukan topik yang menurutku wajar dibahas oleh rekan kerja, atau pada bagian saat kamu menanyakan pertanyaan “sensitif” yang ternyata adalah IPK. For your information, aku tidak pernah benar-benar sensitif soal IPK, dan itu bukan karena nilaiku bagus.

Dan kurasa mulai saat itulah aku merasakan ada yang berbeda, namun belum kusadari.

Selain departemen, rupanya kita juga menghadiri dua kelas yang sama. Dan di salah satu kelas dimana terdapat tugas ber-partner untuk satu semester ke depan, kita kembali bekerja bersama. Mencari jurnal ini-itu dan review jurnal terkait materi kita lakukan bersama setiap malam—online, tentunya. Dan jujur saja, aku menikmatinya.

Bekerja bersama di departemen, bekerja sama di kelas, lama-lama membuatku semakin sering mengobrol denganmu, bukan? Tahu-tahu saat bertemu, kamu mengobrolkan hal-hal yang bisa dibilang agak pribadi terhadapku yang … ah, pada kala itu bukan siapa-siapamu. Tentu saja aku berpikir, mengapa?

Tahu-tahu tiba hari dimana jurusan kami mengadakan kirim-mengirim bunga yang waktu pemesanannya sudah dilakukan satu bulan lalu. Hari itu, aku mendapat dua bunga dan satu cokelat. Satu bunga dari temanku, satu cokelat juga dari temanku, dan satu bunga itu … dari kamu. Ucapan terima kasih atas ke’maso’anku untuk program kerja yang kuketuai serta semangat untuk menjalankan amanah yang lainnya. Kupikir kamu mengirim bunga ini kepada semua stafmu, tahunya, hanya aku yang dapat. Dan ini membuatku … yah, curiga namun senang, sih.

Detik setelah aku tahu bahwa bunga yang kudapatkan itu darimu, segera saja aku mengirimi pesan ucapan terima kasih. Dan sejak saat itulah kita jadi rutin kirim-mengirim pesan via LINE, tidak jarang bahkan sampai lewat tengah malam. Aku menikmati obrolan kita, tetapi di satu sisi heran juga dengan betapa rajinnya kamu mengirimiku pesan. Ada apa, sih? begitu pikirku.

Tidak berhenti sampai chat, kamu juga mengajakku pergi ke kantin bersama, makan di kantin bersama, pergi ke perpustakaan bersama—kalau ini aku yang ajak, bahkan duduk mengerjakan tugas bersama. Tahu-tahu intensitas “mengerjakan apa-apa berdua” kita meningkat drastis saat kamu mulai sering mengantar jemputku pulang, makan bersamaku, membeli hadiah untuk perayaan ulang tahun stafmu, dan lain-lainnya. Momen yang kualami bersamamu terlalu banyak sampai saat menuliskan inipun aku bingung harus menuliskan yang mana saja, hahaha. Akan tetapi, semuanya menyenangkan. Aku tidak menyesal melewatinya bersamamu.

Sampai tiba waktunya aku—kenapa pula aku kepo—menanyakan perihal hubungan kita kepadamu. Dan dengan mudahnya kamu menjawab “Aku sayang kamu” yang kamu awali dengan paragraf panjang mengenai penjabaran perasaan.

Dan mulai hari itu jugalah hubungan kita benar-benar … yah, berubah menjadi sesuatu yang lebih riil. Baru dua puluh hari setelah sesuatu yang “riil” itu terjad ya, kalau diingat-ingat.

Omong-omong, terjawab sudah kan, mengapa aku menanyakan warna kesukaanmu tadi?

 

Bandung, 30 Juni 2017 19:49 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “#NulisRandom2017 – 41: Semua Tentang Kamu

  1. Aku tak akan berkata banyak karena aku tenggelam dalam tulisan ini; tenggelam dalam lamunan betapa beruntungnya aku 🙂 Speechless, is all I am. Hal-hal yang telah kita lewati bersama menimbulkan perasaan dalam diriku yang tak dapat kudefinisikan, namun aku yakin ia ada disana, dan tak ada penyesalan barang sekali telah mengenal dirimu 🙂 Rasanya ingin melayang, hehe.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s