Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 40: Merawat + Mendidik

“Mengurus anak dengan merawat anak itu beda. Merawat anak itu gampang, cuma tinggal kasih makan, suruh tidur, begitu-begitu aja. Yang susah itu apa? Mendidik anak.”

-Ibu

Jadi, pagi ini aku bangun di sofa ruang tamu—maafkan aku yang kebo ini—dalam kondisi kaki pegal sebelah lantaran tidak berubah posisi tidur selama empat jam. Jadilah aku mengobrol dengan Ayah dan Ibu yang sedang asyik makan buah di ruang tamu, entah dalam rangka apa. Dan topik yang mereka bawa pagi ini adalah masalah anak.

Suatu hari, aku (insya Allah) akan punya anak, begitu kata mereka. Sejujurnya, aku bahkan belum ada rencana menikah dalam waktu dekat, tetapi aku sudah mendapat berbagai petuah mengenai cara mengurus anak yang baik dan benar. Bukannya aku tidak mau sih, hitung-hitung belajar juga, tetapi rasanya agak terlalu cepat, tidak, sih?

Petuah yang diberikan Ayah dan Ibu berbeda jenisnya. Ibu selalu menekankan kepadaku untuk merawat anakku sendiri alias tidak membiarkan pembantu atau pengurus anak yang mengasuh mereka. Ibu bilang, anak yang masa kecilnya tidak diasuh oleh ibunya sendiri saat besar akan cenderung mencari perhatian terhadap orang tuanya. Sering merengek manja, minta dibelikan ini-itu, bertingkah tidak sopan, dan semacamnya. Somehow, aku setuju, sih.

Sedangkan Ayah selalu menekankan kepadaku untuk mengajari anak-anakku ilmu agama—dan menekanku juga untuk rajin menunaikan kewajiban agama. Dekatkan anak-anak kepada Al-Qur’an, katanya.

Selain kedua itu, pagi ini aku belajar bahwa menekankan sikap-sikap baik kepada anak itu tidaklah mudah, butuh perjuangan super keras. Contoh sederhananya seperti bertamu saja, banyak anak kecil yang saat bertamu ke rumah orang lain dengan tidak sopannya mengutak-atik ini-itu, masuk ke sana kemari, padahal jelas itu tidak sopan. Atau ketika di mall, tidak sedikit aku melihat anak-anak kecil berlarian ke sana kemari tanpa peduli siapa atau apa yang ditabraknya, atau memainkan barang-barang pajangan di toko. Kita sebagai orang dewasa—aku asumsikan pembaca tulisan ini sudah dewasa—kesal bukan, melihatnya?

Ibu bilang, mengajarkan hal-hal seperti itu butuh sedikit “kekerasan”. Bukan berarti kekerasan fisik, melainkan ketegasan. Kalau ucapan peringatannya lembut seperti mendongeng saat hendak tidur sih, anak-anak juga tidak akan takut. Ibu bilang, sedikit menyentak tidak apa-apa, asal anak-anak diberi pengertian mengapa hal tersebut dilarang. Beliau bilang dulu aku sering dilarang melakukan ini-itu—pada dasarnya, tanganku memang tidak bisa diam—dan dengan sedikit pengertian, aku mau menurut dan mengerti, sehingga jadilah diriku yang tidak berlaku tidak sopan di rumah orang seperti saat ini.

Ada lagi, perihal merengek soal meminta dibelikan barang yang diinginkan. Aku pribadi merasa bahwa aku memang bukan orang yang mudah tergiur untuk membeli suatu barang, mau itu pakaian, buku, apapun. Aku sendiri tidak tahu alasannya apa, tetapi aku cukup menikmati diriku yang seperti ini, jadi aku tidak boros-boros amat. Rupanya saat aku kecil, setiap aku minta dibelikan mainan dan pada kondisi tersebut Ayah dan Ibu sedang tidak ada uang, mereka akan bilang padaku untuk tidak membelinya dulu dan mereka berjanji akan membelikannya nanti. Dan saat mereka punya uang, mereka akan menagih keinginanku itu—biasanya aku bilang ingin mainan yang lain. Intinya, jangan selalu memberikan apa yang anak inginkan, lantunkan alasan jujurnya mengapa, lalu tepati janji yang telah diucapkan. Dari sini (menurut analisisku), akan tercipta pribadi seseorang yang tidak selalu memaksakan kehendaknya.

Akan tetapi, semua hal itu hanya bisa diterapkan kepada anak-anak kecil alias sebelum mereka beranjak lebih dewasa. Kepada anak-anak yang sudah banyak bergaul juga bisa sih, tetapi jatuhnya akan jauh lebih sulit sebab mereka sudah terbiasa diperlakukan dengan manja sejak kecil. Mengubah kebiasaan orang dewasa itu jauh lebih sulit ketimbang kebiasaan anak kecil, benar?

Semangat untuk para calon orang tua masa depan (termasuk aku)!

 

Bandung, 30 Juni 2017 17:57 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

3 thoughts on “#NulisRandom2017 – 40: Merawat + Mendidik

  1. Setuju! Semuanya harus dimulai sejak kecil. Ibarat gelas yang isinya kosong akan lebih mudah menampung air ketimbang gelas yang sudah terisi penuh; akan sulit mengajarkan banyak hal untuk ‘gelas’ yang sudah penuh 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s