Posted in #NulisRandom2017, Opini

#NulisRandom2017 – 39: Relationship Nowadays

Akhir-akhir ini aku merasa terlalu banyak membahas mengenai masalah hubungan, tetapi kurasa bahasan ini memang perlu aku keluarkan dari otak. Semua orang berhak untuk bahagia, baik perempuan maupun laki-laki. Tidak ada yang berhak disakiti dan menyakiti. Manusia itu makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain, masa mau saling menyakiti?

Sebenarnya hal yang memicuku untuk menulis mengenai hal ini; satu, karena temanku yang sudah tunangan mendadak bermasalah dengan tunangannya perihal kecemburuan; dua, karena temanku yang kini ingin serius berhubungan dengan lawan jenis mendadak bimbang akibat status calon pacarnya dua tahun terakhir; tiga, karena kamu menyuruhku menulis ini.

Pertama-tama, pernah dengar konversasi semacam ini?

Cewek: Kamu gak pernah ngertiin aku!
Cowok: Terus aku mesti gimana?
Cewek: Turunin aku sekarang! (ceritanya lagi naik mobil)
Cowok: Tapi ini udah malem, terus jalanan sepi juga—
Cewek: Turunin aku sekarang!
Cowok: Oke, oke. *berhenti di pinggir jalan*
Cewek: Kamu tega nurunin aku di sini?!
dan seterusnya …

Kita hidup di zaman dimana prinsip “cewek selalu benar dan cowok selalu salah” menjadi salah satu prinsip yang paling digandrungi jutaan pasangan muda. Mungkin terdengar menyenangkan bagi kaum Hawa sebab dengan prinsip yang sebenarnya sejak awal sudah tidak berdasar ini, kaum Hawa jadi “ditakuti” oleh para lelaki. Padahal apa sih, yang harus ditakuti dari kami yang lemah lembut begini? Kami juga manusia, perkataan dan perbuatan kami juga bisa salah—bahkan perempuan lebih mudah berbuat salah karena dalam Islam sendiri banyak larangan yang diberikan kepada perempuan untuk “menjaga” diri.

Sebagai seorang perempuan, aku pribadi tidak menyukai prinsip yang satu ini. Prinsip ini seolah hanya dijadikan para perempuan sebagai alasan untuk bertingkah semena-mena kepada pasangan mereka. Padahal keduanya sama-sama manusia, sama-sama bisa berbuat salah, sama-sama bisa berbuat benar, dan tidak pernah ada yang terus-terusan benar. Sebagai sama-sama penyandang status makhluk hidup yang paling sempurna namun juga tidak sempurna—manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna, bukan?—seharusnya kita saling menghargai dan membenarkan, bukan saling menyalahkan.

Untuk para perempuan yang hobi menyalahkan para lelaki atas kesalahan mereka yang sepele, coba kalian ingat-ingat lagi seberapa sering kalian melakukan salah? Apakah tidak sebanyak dan tidak sefatal kesalahan yang diperbuat seorang laki-laki kepada kalian? Coba kalian ingat-ingat lagi, seberapa berpengaruh kesalahan yang diperbuat laki-laki itu kepada kalian? Apakah hanya kesalahan sepele seperti salah memilih warna hadiah atau salah besar sampai membuat kalian bertengkar dengan orang tua? Tidak semua hal yang mereka lakukan itu salah, pun tidak semua kesalahan mereka yang kalian anggap salah itu kadang mereka sadari. Tidak semua laki-laki bisa membedakan mana yang magenta mana yang pink rose, tidak semua laki-laki bisa seketika memahami isi hati kalian tanpa kalian menjelaskan, dan tidak semua laki-laki bisa memahami kalian yang mungkin sedang PMS. Kita ini makhluk yang lemah lembut, mengapa harus membuang titel itu dengan marah-marah demi prinsip tak berdasar “cewek selalu benar”? Kalau memang selalu benar, mengapa nilai akademik perempuan tidak semuanya 100 saja sekalian?

Untuk para lelaki yang sering dijadikan sarana marah-marah atas kesalahan kalian yang sepele dan tidak kalian sadari, coba kalian ingat-ingat lagipula hal apa yang tidak disukai pasangan kalian dan masih kalian lakukan atau berikan? Apakah kalian benar-benar sudah tidak melakukan atau memberikan hal tersebut? Coba kalian ingat-ingat lagi, seberapa cueknya kalian terhadap pasangan kalian? Apakah kalian memang sudah memberikan perhatian yang cukup untuk memuaskan hatinya? Tidak semua amarah yang mereka keluarkan itu tidak berdasar, pun tidak semua amarah yang mereka keluarkan itu hanya alasan yang dibuat-buat untuk memarahi kalian. Tidak semua perempuan bisa memahami hobi bermain game kalian, tidak semua perempuan tahan diperlakukan dengan acuh tak acuh seperti yang mungkin biasa kalian lakukan, dan tidak semua perempuan bisa tahan menjelaskan isi hatinya yang tidak kunjung kalian pahami. Prinsip “cewek selalu benar” memang salah, tetapi bukan berarti kalian bisa dengan seenaknya memperlakukan perempuan, bukan?

Kedua, tidak hanya prinsip “cewek selalu benar dan cowok selalu salah” yang sedang tren saat ini. Ada juga prinsip lain yang agak mirip dengan prinsip sebelumnya, hanya saja perannya terbalik. Contohnya kurang lebih seperti ini.

Cowok: Kemarin gak bisa ngangkat telepon?
Cewek: Nggak bisa, susah sinyal.
Cowok: Aku gak suka kamu gak ngangkat teleponku.
Cewek: Habis gimana …
Cowok: Pokoknya, aku gak suka.
Cewek: Iya, iya.
Cowok: Awas kalo diulang lagi.
Cewek: Iya …
Cowok: Pokoknya harus diangkat.
dan seterusnya …

Prinsip kedua ini adalah “cowok selalu benar dan cewek selalu diam”. Sebenarnya perempuan bukan mutlak diam karena merasa salah, tetapi lebih kepada menghindari keributan yang tidak perlu. Hakikatnya, semua orang ingin hubungan yang aman, damai, dan tentram, tetapi semua itu jelas tidak mungkin terjadi. Tidak pernah ada hubungan yang berjalan dengan mulus seratus persen, pasti ada error-nya.

Dan seorang perempuan yang mendambakan hubungan mulus seperti itu umumnya akan bersikap diam saat ada masalah alias berusaha untuk tidak mengungkit masalah yang ada. Seorang perempuan seperti ini akan cenderung diam saat disalahkan, juga cenderung diam saat dia tahu pasangannya berbuat salah. Bukannya dia mau disalah-salahkan seperti itu saat dia tahu kenyataannya, bukan pula dia bodoh karena membiarkan pasangannya tetap berbuat salah. Seorang perempuan diam karena dia tidak mau memicu sebuah keributan.

Terkadang, diamnya perempuan inilah yang jadi masalah (lumayan) besar dalam suatu hubungan. Dengan diam, laki-laki kadang beranggapan bahwa apa yang dia lakukan tidak salah sehingga dia terus saja mengulanginya padahal sesungguhnya si perempuan tidak suka. Dengan diam, lelaki kadang beranggapan bahwa perempuan yang jadi pasangannya dapat ia atur sesuka hati sehingga bukannya saling mendukung dalam suatu hubungan, lelaki itu justru akan memanfaatkan si perempuan. Padahal apa tujuan diam perempuan? Untuk menghindari pertengkaran.

Untuk para perempuan yang berharap diam dapat menyelesaikan segala masalah karena diam itu emas, lebih baik kalian berpikir ulang. Diam memang emas, tetapi tidak selamanya diam akan menjadi emas. Doa itu bisa mendatangkan rezeki, tetapi hanya berdoa selama dua puluh empat jam tidak akan membuat kita jadi berpenghasilan, bukan? Sama halnya dengan diam, semua masalah tidak akan mendadak selesai hanya karena kita diam. Seringkali kita juga harus menyuarakan pendapat kita mengenai apa yang menurut kita salah. Untuk apa ada undang-undang mengenai kebebasan berpendapat kalau kita hanya diam demi menghindari konflik?

Untuk para lelaki yang menyangka diamnya perempuan adalah karena kalian telah melakukan hal yang benar, lebih baik kalian berpikir ulang. Perempuan yang lebih banyak diam justru harus kalian khawatirkan karena biasanya dia menyimpan banyak rahasia di balik diamnya. Bolehlah sesekali kalian merasa bebas, bolehlah sesekali “memonopoli” pasangan kalian, tetapi kalian juga harus ingat bahwa kalian harus mendengar. Coba sesekali minta pasangan kalian untuk berkata jujur mengenai apa yang tidak ia suka dan apa yang ia pendam, karena tidak selamanya hubungan dalam diam itu sehat.

Kurasa hanya itu (dulu) yang ingin aku bahas mengenai hubungan zaman sekarang. Intinya, tanpa menahan egoisme dan menjalin komunikasi yang baik, hubungan yang sehat dan aman itu tidak akan tercipta. Tidak selamanya perkataan perempuan itu benar dan tidak selamanya diam itu dapat menghindari konflik—malah menimbulkan konflik batin, ‘kan?

 

Bandung, 30 Juni 2017 15:25 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

4 thoughts on “#NulisRandom2017 – 39: Relationship Nowadays

  1. Wah, spot on loh. Aku sangat setuju dengan pemikiranmu! Perempuan tidak boleh semena-mena, dan laki-laki pun tidak boleh terlalu mendominasi. Apa lah artinya suatu hubungan, apabila justru malah saling memberatkan, saling mengekang, dan membuat penat. Haha, relationship nowadays, memang. Buah dari social construct yang salah menurutku. Opini publik yang telah lama dibangun mengenai peran perempuan dan laki-laki dalam hubungan, dan menjadi tradisi. Harus belajar membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa 😀 Overall, good piece!

    Like

  2. Yap, itu dia! Hidup sudah sulit, kenapa harus dipersulit dengan hubungan antar manusia? 😀

    Setuju, cara mendidik perempuan dan laki-laki yang agak salah mungkin sehingga berbuah seperti sekarang ini.

    Again, thanks!

    Like

  3. Banyak orang kurang pede ya dengan status mereka. Lalu terlalu takut untuk menjadi ‘non-konformis’, dan pada akhirnya mempertahankan status quo mereka; berpacaran itu gak boleh ini gak boleh itu dengan yang lain! Harus selalu cepat tanggap, ga boleh peduli sama hal lain! Hmm, apa enaknya hubungan seperti itu ._.

    Anytime!

    Like

  4. Yep, terlalu mengikat dan seringkali malah menyakiti masing-masing pihak dengan cara yang tidak bisa dibayangkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s