Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 36: Meng Ngeng

Sudah tiga hari aku asyik menceritakan mengenai keluargaku, mulai dari Adik, Ayah, hingga Ibu. Tidak luput juga aku ceritakan keseharian kami yang agak-agak tidak jelas karena terlalu banyak bercanda—beginilah kami. Aku lupa bahwa aku masih punya “satu” anggota keluarga yang belum aku ceritakan.

“Satu” anggota keluarga itu adalah … tiga belas ekor kucing.

Entah aku pernah menyebutnya atau tidak, tetapi kami sekeluarga memelihara tiga belas ekor kucing kini; lima jantan dan delapan betina, delapan dewasa dan lima anak. Sudah tiga tahun lebih kami sekeluarga memelihara kucing, dan kami menikmatinya.

Sejak awal, kami sekeluarga memang semuanya penyuka kucing. Ibu memelihara kucing saat beliau masih kecil sehingga otomatis menyukai hewan menggemaskan itu, aku dan Adik sejak kecil didekatkan dengan kucing yang sering menumpang tidur di rumah, sedangkan Ayah memang menyukai hewan jenis apapun—kurang tahu sih, kalau reptil-reptil mengerikan bagaimana. Akan tetapi, sejak dulu kami tidak pernah memelihara kucing. Bukannya tidak mau sih, lebih karena kami tidak pernah membahasnya secara serius saja. Bukannya mau juga sih, karena memang punya hewan peliharaan itu lumayan merepotkan.

Lalu bagaimana awalnya kami bisa memelihara kucing?

Kisah ini terjadi pada 17 Maret 2014, tiga tahun yang lalu berarti. Hari itu, aku sedang dalam perjalanan ke sekolah. Di jalan, di tengah jalan tepatnya, aku menemukan seekor kucing yang basah kuyup. Aku taruh dia di pinggir, tetapi dia kekeuh berjalan ke tengah jalan—mencari sinar matahari, sepertinya dia kedinginan. Akhirnya karena tidak tega, dan khawatir tergilas mobil pula, aku bawa kucing itu ke sekolah dengan niat mencarikan seseorang yang mau mengurusnya.

Sayangnya, hari itu tidak ada satupun yang menyanggupi untuk mengurus kucing kecil malang itu—padahal dia jenis bagus loh, bulunya tebal pula, tetapi saat itu aku tidak paham mengenai ras-ras kucing yang nondomestik alias bukan kampung itu seperti apa. Guru Biologi yang suka kucing tidak mau karena sudah punya kucing, teman-temanku tidak ada yang biasa memelihara hewan, dan guru-guru lain juga tidak ada yang mau. Akhirnya aku bawa kucing itu pulang setelah mengirim pesan kepada Ibu.

“Ma, aku bawa kucing ke rumah, ya. Kasian dia gak ada yang mau ngurus di sekolah.”

Ibu membalas pesanku dengan setengah protes karena jujur saja, kami tidak ada persiapan untuk memelihara kucing sama sekali. Kandang tidak ada, makanan tidak ada, rumah belum dikondisikan, pokoknya serba mendadak. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Masa kucing itu aku tinggalkan begitu saja di sekolah? Yang ada malah aku yang merasa berdosa.

Sesampainya di rumah dan setelah memperlihatkan kucing imut itu kepada Ibu dan Adik, keduanya seketika jatuh hati. Ibu segera memberiku uang untuk membeli berbagai macam keperluan kucing di pet shop—kebetulan memang dekat dari rumah. Segera saja aku membeli kandang dan pasir. Untuk makanan, karena kami masih pemula dalam memelihara kucing, akhirnya kami hanya mengandalkan makanan yang ada di rumah; sosis, ikan, ayam, dan susu sapi. Belakangan ini baru aku tahu bahwa susu sapi mengandung protein yang terlalu tinggi untuk dikonsumsi kucing sehingga sebaiknya tidak diberikan kepada hewan mungil itu. Lagi, aku merasa berdosa jadinya.

Unyan; hari pertama bertemu denganku

Ah ya, aku lupa. Kucing kecil itu memiliki bulu warna gelap, belang abu-abu dan hitam disertai warna emas di beberapa sisi. Rambut badannya tebal dan rambut ekornya mengembang layaknya kipas. Ujung-ujung setiap kaki kecilnya berwarna putih seolah dia sedang mengenakan kaus kaki. Kucing ini awalnya kuberi nama Nyan (jantan), kemudian Ibu memplesetkannya menjadi Unyan dengan alasan supaya lebih enak disebut. Akhirnya, sejak 17 Maret 2014, Unyan resmi menjadi salah satu anggota keluargaku hingga kini.

Owie

Selanjutnya, 5 Mei 2014, kami sekeluarga mendengar bunyi mengeong tanpa henti di depan pintu rumah kami saat Subuh. Penasaran, Ibu membuka pintu dan menemukan seekor anak kucing domestik berambut putih dengan bercak hitam di beberapa bagian tubuhnya sedang duduk di depan pintu, seolah mengharapkan pintu itu dibuka. Tahu-tahu anak kucing itu masuk saja tanpa permisi, dan langsung meminta makan! Akhirnya kami memutuskan untuk memelihara anak kucing itu juga dan menamainya Owie (jantan). Sayangnya, dia mati pada Oktober 2015 akibat keracunan makanan.

Ushy

20 Juni 2014, pembantuku datang dengan seekor kucing di tangan. Katanya kucing itu ia temukan di selokan, sendirian, dalam kondisi sedang mengeong. Kemungkinan besar kucing domestik kecil bertelinga lebar dengan belang abu tua-abu muda ini tertinggal “rombongan” induknya saat sedang pindah atau semacamnya. Karena kasihan, akhirnya kami memutuskan untuk memelihara kucing ini juga dan menamainya Ushy (betina). Hingga kini, dia masih tinggal bersama kami dengan status empat kali melahirkan dan sedang hamil (lagi).

Ovie

30 September 2014, kini giliran Ibu yang membawa seekor kucing pulang ke rumah. Kucing domestik lagi, kali ini warnanya belang kuning. Tidak pakai ba-bi-bu lagi, kami menjadikannya salah satu dari anggota keluarga kami dengan memberinya nama Ovie (jantan, possibly). Sayangnya, dia mati pada 31 Oktober 2014 akibat HIV. Dia memang masih kecil, jadi tidak mungkin terjangkit HIV akibat “berhubungan” dengan kucing lain. Kemungkinan besar karena keturunan—maklum, kucing liar, kami tidak tahu kondisinya sebelum kami pungut seperti apa.

Ushy dengan keempat anaknya: Obie, Ovie, Uvie, Ogie

Ovie adalah kucing terakhir yang kami pungut. Setelahnya, kami tidak lagi memungut kucing dari mana-mana karena: satu, kucing yang kami punya memang sudah cukup banyak; dua, tidak ada situasi darurat yang memaksa kami untuk memelihara kucing lagi. Akan tetapi, rezeki memang tidak pernah pergi ke mana-mana. 17 Maret 2015, bertepatan dengan satu tahun Unyan menjadi anggota keluarga kami, Ushy melahirkan empat ekor anak kucing yang, AAAH, lucu-lucu! Yang pertama warnanya putih dengan bercak hitam, hampir mirip Owie, hanya saja badannya sedikit lebih besar dan bulunya lebih tebal, kami namai Ovie (jantan)—efek gagal move on. Yang kedua warnanya belang abu-abu, hampir mirip Ushy, hanya saja ekornya pendek dan malah mirip konde rambut, kami namai dia Uvie (jantan). Yang ketiga warnanya belang abu-abu juga, hanya saja ekornya panjang, kami namai Obie (jantan). Yang keempat warnanya belang abu-abu gelap nyaris hitam, kami namai Ogie (betina). Jadi dengan kelahiran mereka, jumlah kucingku bertambah menjadi tujuh ekor! Sayangnya, Uvie mati pada 23 Juli 2015 akibat dehidrasi karena terus-terusan diare, Ovie hilang kabar akibat kepindahan rumah kami di 26 November 2016, dan Obie mati pada 16 April 2017 entah karena alasan apa—kemungkinan besar karena dia sudah kena terlalu banyak penyakit sampai tidak kuat lagi, entahlah. Kini, hanya tersisa Ogie dari empat ekor anak pertama Ushy ini.

Olla, Ollu, Olli

24 November 2015, giliran Ogie yang melahirkan enam ekor anak kucing dengan warna abu-abu mendominasi. Hanya saja, tiga di antaranya mati saat masih kecil dan belum kami beri nama (berturut-turut 24 November 2015, 26 November 2015, dan 5 Desember 2015). Tiga sisanya adalah Ollu (jantan) si belang abu berekor panjang dengan “kaus kaki putih”, Olla (jenis kelamin belum sempat diketahui) si belang abu berekor panjang tanpa “kaus kaki putih”, serta Olli (betina) si hitam-emas berekor panjang juga dengan “kaus kaki putih”. Sayangnya lagi, Olla mati pada 4 Januari 2016 karena sakit dan Olli mati pada 3 Maret 2017 karena keguguran—jadi dia membawa serta bayi-bayinya pergi. Kini, hanya tersisa Ollu dari keenam ekor anak pertama Ogie ini. Dengan kelahiran mereka kala itu, kucingku bertambah jumlah menjadi sembilan—berubah menjadi delapan saat Olla mati.

Owie

Kematian Owie pada 4 Oktober 2015 menimbulkan kesan mendalam kepada setiap anggota keluargaku. Ibu yang paling sedih karena memang beliaulah yang paling dekat dengan Owie semasa kucing itu hidup. Bagian menyedihkannya, bagiku pribadi, adalah aku belum pulang saat Owie dikubur sehingga aku tidak dapat melihat jasadnya. Dengan ini, jumlah kucing kami berkurang menjadi tujuh dari delapan.

Ulla & Ochi

22 Februari 2016, Ushy menyusul kembali dengan melahirkan tiga ekor anak kucing yang berbeda-beda tampilan fisiknya. Mereka adalah Ochi (betina) si putih bercak kecoklatan yang mirip anggora, Ulla (jantan) si belang abu-abu berekor pendek, serta Allu (jenis kelamin belum sempat diketahui) si belang abu-abu berekor panjang. Sayangnya, Allu mati pada 25 Maret 2016 akibat sakit. Kini, tersisa Ochi dan Ulla dari tiga anak kedua Ushy ini. Dengan kelahiran mereka, kucingku bertambah jumlah menjadi sepuluh—berubah menjadi sembilan saat Allu mati.

Ivie, Illi, Ozie, Oxie, Ichi, Omie

4 Mei 2016, Ogie kembali melahirkan enam ekor anak kucing dengan warna yang nyaris serupa dengan anak pertamanya, abu-abu mendominasi. Keenam anak kucing itu ialah Ivie (jenis kelamin belum sempat diketahui) si putih yang mirip Ovie, Omie (jantan) si belang hitam-abu-emas yang mirip Unyan, Ozie (betina) si belang hitam-abu yang mirip kucing kompleks kami si Kubun, Oxie (betina) si dominan hitam dengan “kaus kaki putih”, Illi (jenis kelamin belum sempat diketahui) si belang abu, dan Ichi (jenis kelamin belum sempat diketahui) si belang abu dengan dia garis melintang di atas punggungnya. Sayangnya, Ivie, Illi, dan Ichi (triple I!) mati pada 21 Juni 2016 akibat diare yang menular. Triple O berhasil sembuh, tetapi triple I ini tidak. Sayangnya lagi, Ozie hilang saat kami pindah rumah 26 November 2016 lalu. Kini, hanya tersisa Omie dan Oxie dari keenam anak kedua Ogie ini. Dengan kelahiran mereka kala itu, jumlah kucingku bertambah menjadi lima belas—berubah menjadi dua belas saat triple I mati.

30 September 2016, Ushy kembali melahirkan empat ekor anak kucing. Mereka adalah Owow si putih dengan bercak hitam dengan tulang kaki lemah, Uwie si putih corak hitam yang juga bertulang kaki lemah, Ibie si belang abu yang mirip Obie, dan Odie yang juga belang abu (aku agak lupa-lupa ingat). Sayang keempatnya mati pada rentang tanggal 7 hingga 11 November 2016 sehingga tidak ada yang bersisa dari keempat anak ketiga Ushy itu kini. Dengan kelahiran mereka kala itu, jumlah kucingku bertambah menjadi enam belas.

4 Oktober 2016, hanya berselisih empat hari dengan kelahiran anak ketiga Ushy sehingga mereka bisa dianggap sebaya, lahirlah enam ekor anak kucing yang merupakan anak ketiga Ogie. Sayangnya, satu ekor mati saat baru lahir sehingga tidak sempat diberi nama. Kelima anaknya itu adalah Ubbu si abu-abu tulen, Udie si hitam dengan “stocking putih”, Iwie (sepertinya) si putih, Ixie (sepertinya) si hitam, Izie (sepertinya) si hitam-abu, dan Imie (sepertinya) si hitam-abu-emas. Semuanya juga mati pada rentang tanggal 9 hingga 15 November 2016 sehingga tidak ada yang bersisa kini. Aku tidak begitu hapal ciri-ciri fisik mereka karena selain banyak, aku juga tidak lama mengurusnya. Hal ini tidak dapat kujadikan alasan sih, aku tahu. Pokoknya dengan kelahiran mereka, jumlah kucingku bertambah menjadi dua puluh dua—berkurang drastis menjadi dua belas saat enam anak Ogie dan empat anak Ushy yang sebaya ini mati “berjamaah”.

26 November 2016, tibalah waktu untukku dan keluargaku pindah ke rumah baru. Kami berhasil membawa lima pasang kucing, Unyan-Ushy, Obie-Ogie, Ollu-Olli, Ulla-Ochi, dan Omie-Oxie. Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, Ovie dan Ozie tidak berhasil kami bawa ikut serta sebab mereka keluar dari rumah dan belum kembali hingga waktu pindah tiba. Jadi … yah, terpaksa kami meninggalkan kedua kucing itu. Kini, jumlah kucingku hanya tinggal sepuluh.

6 Desember 2016, Ochi melahirkan untuk yang pertama kalinya dengan tiga ekor anak kucing yang lucu-lucu. Mereka adalah Mochi, Michi, dan Muchi. Secara fisik ketiganya memiliki belang abu dengan panjang ekor yang berbeda-beda, tetapi aku lupa tepatnya. Sayangnya, ketiganya mati hampir berturut-turut dalam kondisi belum dapat aku ketahui jenis kelaminnya apa; Mochi pada 23 Januari 2017, Michi pada 25 Januari 2017, dan Muchi pada 28 Januari 2017. Jadi, bisa dibilang kedatangan dan kepergian mereka membuat jumlah kucingku stabil—sepuluh.

4 Februari 2017, Ushy akhirnya melahirkan anak-anak keempatnya yang berjumlah tiga ekor. Mereka adalah Ubel (betina) si belang abu tanpa “kaus kaki putih”, Omin (jantan) si belang abu dengan “kaus kaki putih” yang mirip Ollu—Omin merupakan singkatan dari Ollu mini, dan Eput (jenis kelamin belum diketahui) si belang abu dengan ujung ekor putih. Sayangnya, Eput mati pada 20 April 2017 akibat sakit. Kini, tersisa Omin dan Ubel dari ketiga anak keempat Ushy ini. Jumlah kucingku pun bertambah menjadi tiga belas—berubah menjadi dua belas saat Eput mati.

11 Februari 2017, Ogie melahirkan anak-anak keempatnya (entah mengapa Ogie dan Ushy sering melahirkan berdekatan) yang berjumlah lima ekor. Sayangnya, dua di antara mereka mati saat masih kecil sehingga belum sempat kami beri nama. Tiga ekor sisanya ialah Ucid (betina) si hitam legam, Ulli (betina) si belang hitam-abu mirip anggora dan mirip Omie, serta Uti (betina) si belang hitam-abu cenderung hitam yang juga mirip Omie. Ulli dan Uti sering kami sebut kembar karena memang mirip. Ketiganya masih hidup hingga kini, menambah jumlah kucing kami menjadi lima belas ekor.

3 Maret 2017 dan 16 April 2017, kematian Olli dan Obie yang nyaris berdekatan—mana keduanya lumayan dengan dengan Adik dan Ibu—membuat kondisi keluarga kami, lagi-lagi, berada pada titik tersedih kami. Akan tetapi, masih ada kucing-kucing lain untuk diurus, kami tidak akan membiarkan diri kami terus bersedih. Kami harus ingat, masih ada tiga belas ekor kucing untuk kami urus. Perjalanan mereka (mungkin) masih panjang.

Dan omong-omong, Ushy sedang hamil, jadi dalam waktu dekat mungkin kucingku akan bertambah lagi, hahaha.

 

Bandung 28 Juni 2017 20:00 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

6 thoughts on “#NulisRandom2017 – 36: Meng Ngeng

  1. Pertama, aku kepalang takjub bahwa kau bisa mengahafal seluruh kronologi tempat dan waktu, ciri-ciri, serta nama mereka tanpa terjadi mix-up! Hahahahaha :”D

    Kedua, aku seperti sedang diajak ke dalam suatu Cat Adventure, tulisan yang menggugah akan suatu perjalanan yang punya ups and downs, but fun 😀

    Last but not least, mereka sangat lucu yaa xD

    Semangat menulis! Tulisanmu sangat enjoyable to read 😀

    Like

  2. Pertama, aku punya catatan tanggal lahir (atau memungut) dan mati (atau hilang) mereka, jadi aku bisa menuliskan tanggalnya dengan benar xD

    Kedua, aww, aku terharu :”)) /yha

    Last but not least, memang! XD

    Yours as well 😀

    Like

  3. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, tapi udah terjawab duluan di atas (tentang Rana yang hafal kronologi beserta nama2 kucingnya). :”)

    Sebenarnya lagi, ini adalah tulisan yang mengandung ratjun karena … YA ALLAH KENAPA MEREKA LUCU SEMUA. :”3 <- gaboleh melihara kucing

    Btw, kalau ditotalin, kamu udah pernah merawat berapa kucing, Ran? xD

    Like

  4. Makasih! Lucunya kayak yang punya, gak? /NGAREP

    Aah … kalau merawat yang “hidup” itu paling banyak 22, tapi kalau ditotal semua … 4+4+6+3+6+4+6+3+4+5=45 ekor?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s