Posted in #NulisRandom2017, Opini

#NulisRandom2017 – 35: Pernikahan

Mungkin ini bahasan yang (tumben-tumbennya) berat dan agak sensitif untuk beberapa kaum, tetapi aku tetap ingin membahasnya. Apa yang akan kubahas di sini lebih kepada pendapatku mengenai ini dan itu seputar tetek-bengek pernikahan, bukan harapanku akan pernikahanku nantinya—meski tidak langsung pendapatku adalah harapanku, sih, pokoknya begitulah maksudku.

Pembahasan mengenai topik sensitif ini dilatarbelakangi oleh post mengenai pernikahan yang kulihat di Facebook, yang mencetuskan bahwa nikah itu sederhana dan apa-apa bersama. Beberapa jam setelahnya, aku kembali menemukan post terkait pernikahan, kali ini di LINE, yang membahas tentang perempuan dengan latar belakang tidak baik tidak selamanya tidak baik. Kemudian pagi ini, aku menonton video animasi mengenai perjalanan cinta seorang laki-laki yang pada akhirnya berhasil meminang gadis idamannya. Semuanya benar-benar membuatku banyak berpikir mengenai pernikahan, yah, meski bagiku itu masih lama.

Satu lagi, karena semalam aku juga membahasnya bersamamu. Apa yang akan kubahas di sini sebenarnya kurang-lebih adalah apa yang sudah kusampaikan kepadamu semalam.

Pertama-tama, aku akan mulai dari latar belakang perempuan yang akan menikah. Tidak jarang aku dengar—meski tidak secara langsung—bisik-bisik di keluarga pihak laki-laki yang membahas mengenai keburukan perempuan itu. Pertanyaan yang paling sering keluar adalah, “Kok kamu mau sih, nikah sama dia? Dia kan, dulunya xxx, bahkan katanya orang tuanya yyy, loh. Nanti anakmu zzz gimana?”

And I be like, “Emangnya salah milih orang yang cocok?”

Menikah memang menghubungkan dua keluarga besar menjadi satu, tetapi bukan berarti keluarga berhak ikut-ikutan memberi judgement terhadap salah satu pihak. Yang menikah toh, hanya satu orang dari setiap keluarga, mereka yang akan menjalani suka-dukanya dalam keluarga nanti, bukan anggota keluarga yang lain. Lagi pula, yang namanya kecocokan itu tidak bisa dipaksakan. Kalau memang merasa cocok dan yakin, apalagi yang menghalangi? Restu, mungkin, tetapi kalau sudah sampai menikah? Berarti sudah dapat restu—setidaknya—dari orang tua masing-masing pihak, ‘kan? Masih pantas menanyakan “Kok kamu mau sih, nikah sama dia?” kepada pihak laki-lakinya?

Lagi pula, berdasarkan sebuah post yang kutemukan di LINE kemarin, perempuan yang memiliki latar belakang tidak baik—konteksnya adalah kondisi keluarga yang tidak baik, bukan masa lalu yang kelam dalam artian negatif—biasanya memiliki daya juang yang lebih besar daripada perempuan kebanyakan. Mereka bisa tetap menjaga senyum di saat tertekan, bisa bersikap lebih dewasa saat orang-orang tidak, dan bisa bertanggung jawab lebih atas apa yang telah ia perbuat. Mereka juga cenderung menjadi seseorang yang lebih baik dan berusaha menciptakan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya yang sebelumnya supaya anak-anaknya tidak perlu bernasib sama sepertinya. Mulia, ‘kan?

Sebenarnya banyak positifnya, tetapi orang-orang masa kini lebih banyak melihat kepada “apa yang telah terjadi kepadanya” ketimbang “apa yang bisa dia lakukan”. Padahal yang akan jauh lebih berpengaruh itu yang mana, sih? Jelas-jelas yang kedua, bukan?

Beralih ke pembahasan kedua, tentang pembagian peran dalam keluarga. Pada pemikiran hampir semua orang, suami mutlak harus mencari nafkah sedangkan istri harus tinggal di rumah. Pada penerapan masa kini, biasanya suami dan istri sama-sama mencari nafkah atau suami mencari nafkah dan istri hang out bersama geng para ibu. Di masa kini, kalau aku perhatikan, aku jarang menemukan keluarga yang benar-benar menerapkan prinsip di atas tadi.

Aku pribadi tidak setuju dengan prinsip di atas. Oke, suami memang mutlak harus mencari nafkah karena itu memang sudah kodratnya, tetapi bukan berarti hanya dia yang harus mencari nafkah untuk keluarga. Seorang istri, kodratnya, memang harus membantu suami dengan mengurus rumah dan anak, tetapi bukan berarti dia mutlak tidak boleh bekerja. Menulis dan merajut adalah dua contoh hal yang dapat seorang istri lakukan di rumah dan berpeluang menghasilkan uang. Bagiku, seorang perempuan yang telah berubah status menjadi istri tidak boleh mendapatkan larangan “tidak boleh bekerja” dari siapapun, kecuali kalau kerjanya di luar rumah, sih—pekerja kantoran, maksudku.

Prinsip kebanyakan orang yang seringkali tidak sesuai denganku adalah uang suami adalah uang keluarga sehingga istri bebas menggunakannya sesuka hati. Kalau untuk keperluan rumah dan anak, tentu saja, semua itu asalnya dari suami. Akan tetapi, kalau untuk keperluan belanja-belanji istri yang zaman sekarang seringkali tidak berfaedah? Untuk keperluan hang out bersama geng ibu-ibu kompleks di tempat mewah yang harga satu porsinya mencapai jutaan rupiah? Istri memang berhak menggunakan uang milik suami, tapi istri juga harus tahu diri, ‘kan? Kalau memang mau ngehedon—bahasa kekinian banget, ‘kan—ya silakan gunakan uang hasil sendiri, toh, uang istri adalah uang istri yang tidak bisa suami ganggu gugat.

Satu lagi prinsip yang kurang kusukai adalah kewajiban untuk bisa mengerjakan segala pekerjaan rumah bagi perempuan, salah satunya adalah memasak. Yah, kebetulan aku adalah satu dari sedikit perempuan yang tidak memasak, jadi mau tidak mau aku sedikit merasakan tekanan batin saat membahas masalah memasak dalam keluarga. Banyak kan, orang tua dari pihak laki-laki yang tidak menyukai calon menantunya hanya karena perempuan itu tidak bisa memasak? Kadang bahkan aku berpikir, apa aku akan jadi salah satunya, tetapi aku membela diri dengan berkata bahwa di dalam Islam bahkan tidak ada hadits, bahkan ayat Al-Quran, yang mewajibkan perempuan untuk bisa memasak (kalau ternyata ada, tolong beritahu aku dan aku akan mengaku kalau aku salah). Yang benar itu, menurutku, kewajiban perempuan adalah untuk membantu suami, salah satu caranya bisa dengan memasak.

Ada satu lagi post di LINE yang pernah kubaca, sudah lama, mengenai masalah masak-memasak ini. Di sana disebutkan bahwa mencari nafkah adalah kewajiban suami. Nafkah di sini maknanya dipersempit menjadi sandang, pangan, dan papan. Sandang alias pakaian, berarti harus menyediakan pakaian yang bersih untuk dapat digunakan seluruh anggota keluarga. Pangan alias makanan, berarti harus menyediakan makanan yang siap disantap oleh seluruh anggota keluarga. Papan alias rumah, berarti menyediakan rumah yang layak ditinggali oleh seluruh anggota keluarga.

Lalu bagaimana jika suami hanya sanggup menyediakan pakaian bersih satu kali yang kemudian akan kotor karena dipakai? Bagaimana jika suami hanya sanggup menyediakan bahan makanan yang siap dimasak? Bagaimana jika suami hanya sanggup menyediakan rumah yang layak satu kali sebelum akhirnya kotor karena digunakan setiap hari?

Menurut post itu, berarti suami hanya memberikan separuh dari nafkahnya. Untuk memberikan nafkah secara utuh, suami harus mencuci hingga menyetrika pakaian, harus memasak untuk keluarga, serta harus membersihkan rumah setiap hari. Akan tetapi, dengan kondisi suami harus bekerja setiap hari demi mendapatkan uang untuk membeli “separuh nafkah” itu, bagaimana mungkin dia dapat mengerjakan semuanya?

Di sinilah peran istri dibutuhkan, membantu suami memenuhi kewajiban menafkahi secara penuhnya. Istri mencuci dan menyetrika pakaian sehingga kembali bersih, memasak bahan masakan yang telah ada sehingga dapat disantap, serta membersihkan rumah agar layak ditinggali setiap hari. Peran istri adalah “memenuhi nafkah suami” atau lebih sederhananya, membantu suami.

Sejujurnya, post ini sangat melegakan hatiku yang sejak dulu waswas karena tidak bisa masak. Eh, bukan berarti aku mencari pembelaaan karena tidak bisa memasak, ya, aku lebih kepada ingin mengatakan kepada orang-orang bahwa menjadikan memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah sebagai “kodrat” dari seorang perempuan itu adalah sesuatu yang salah. Kalau boleh lebih vulgar, bisa saja aku mengatakan bahwa itu justru kodrat laki-laki sebagai bentuk dari pemenuhan nafkah. Harusnya, laki-laki bersyukur kepada perempuan yang sudah membantu mereka menunaikan kewajibannya, iya tidak?

Aku yakin dari semua orang yang membaca tulisanku ini sebagian akan menjeritkan setuju dalam hati karena ketidakcocokan akan mindset yang selama ini ada di orang-orang sekitarnya, tetapi sebagian lagi akan mencemoohku dengan mengatakan bahwa aku hanya mencari-cari alasan untuk tidak memasak untuk calon suamiku nanti. Enak saja, begini-begini juga aku masih bisa menggunakan kompor dengan baik dan benar, ya. Aku masih bisa kok, memasak masakan-masakan sederhana yang sama sekali tidak spektakuler. Dengan menuliskan ini, bukan berarti aku malah jadi malas untuk berusaha menjadi seseorang yang di mata orang lain dianggap sebagai perempuan yang sesungguhnya, tahu.

Inti dari tulisan panjangku ini adalah, jangan pernah meremehkan perempuan mau dia berlatar belakang tidak baik, mau dia tidak bisa memasak, mau dia banyak meninggalkan rumah karena bekerja, mau dia hanya mengabdikan dirinya untuk tinggal di rumah, apapun—kecuali perempuan yang hanya asyik menghabiskan uang suami, sih. Kami punya alasan untuk melakukan sesuatu, meskipun itu hanya sekadar “ingin”. Asalkan kami sudah melakukan kewajiban kami, kami boleh dong, melakukan apa yang kami mau?

 

Bandung, 28 Juni 2017 14:08 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

One thought on “#NulisRandom2017 – 35: Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s