Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 34: Bukan Ibu Biasa

Bahas Ayah … sudah. Bahas Adik … sudah. Berarti kini tiba giliran untuk membahas mengenai wanita yang melahirkanku ke dunia ini alias Ibu.

Ibuku bukan ibu biasa, itu sudah jelas. Semua orang pasti beranggapan bahwa ibu mereka beda dari yang lain, ya, hanya saja dalam konteks yang berbeda-beda. Ada yang merasa ibunya berbeda secara pemikiran, secara perilaku, secara penyikapan terhadap sesuatu, dan berbagai hal lainnya. Kalau Ibu, menurutku, berbeda dengan jutaan ibu lain di dunia dalam berbagai aspek.

Pertama, beliau adalah orang yang sangat pengertian dengan cara pandang yang bagiku kelewat luas. Di saat anak-anak sebayaku menyembunyikan hubungan mereka dengan lawan jenis karena dilarang, Ibu malah mempersilakan aku dengan syarat, aku harus menceritakannya kepada beliau. Pada akhirnya, aku malah tidak ada keinginan untuk pacaran sama sekali―setidaknya sampai empat tahun lalu. Caranya menggunakan sudut pandang seorang anak membuatku agak kaget, sejujurnya, karena beliau bisa seringkali dengan tepat mengatakan apa yang sepatutnya kulakukan―dan bukan hanya masalah cinta.

Kedua, beliau adalah sosok yang cerdas, baik akademik maupun agama. Sisi akademik, tidak perlu ditanya, sejak SD, Ibu selalu menyabot gelar juara umum di angkatannya. Kuliahnya, yang kebetulan sama denganku baik jurusan maupun universitasnya, juga terselesaikan dengan baik meski tidak dengan IPK cumlaude. Tidak berhenti di S1, beliau melanjutkan kuliah di S2 Magister Manajemen Aktuaria (aku lupa menyebutkan bahwa Ayah menempuh S2 Magister Manajemen Ilmu Politik) dan lulus dengan IPK yang juga bagus. Sedangkan untuk sisi agamanya, Ibu memang bukan seseorang dengan pendidikan agama terbaik di dunia, tetapi beliau mau mendengarkan kata-kata anaknya, aku khususnya, yang bersekolah di sekolah Islam dulu. Lebih sering aku yang mengajari beliau mengenai ini-itu, dan beliau selalu menerimanya dengan saaangat baik.

Ketiga, beliau adalah sosok yang kuat. Semasa aku kecil, tidak pernah aku melihat beliau menangis karena suatu masalah atau apa―meski kadang aku tahu beliau menangis diam-diam. Beliau juga selalu mengerjakan jutaan pekerjaan rumah, selalu selesai (meski sering dibantu pembantu juga, hanya saja aku tahu itu karena beliau tidak dalam kondisi sehat), selalu bisa meluangkan waktu untuk mengantar-jemput aku dan Adik, dan selalu membantuku dan Adik belajar di rumah. Semua hal yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu berhasil beliau lakukan, dengan baik pula, dan itulah yang membuatku melihatnya sebagai sosok yang kuat.

Keempat, beliau adalah organisator ulung. Bukan hanya menjadi bendahara organisasi semasa kuliahnya dulu, beliau juga mengurus tetek-bengek pekerjaan non-rumahnya dengan amat sangat baik. Dulu, Ibu dan Ayah bekerja sebagai distributor buku. Pekerjaan mereka adalah membeli buku dari penerbit lalu menjualnya ke toko-toko buku, tapi sekarang tidak lagi. Output dari pekerjaan mereka ini adalah: satu, aku dan Adik jadi mencintai buku sebab rumah kami bagai gudang buku―bukan lagi bagai perpustakaan, haha; dua, kami berhasil membuka toko buku keluarga selama dua atau tiga tahun sebelum akhirnya ditutup karena kami pindah ke luar kota. Beralih dari buku, Ibu bekerja di konsultan aktuaria milik temannya. Belajar dari sana, akhirnya beliau membuka konsultan aktuaria sendiri (dan kini ada pula konsultan statistik), bersamaku. Ya, aku karyawannya, hehe.

Kelima, beliau adalah sarana curhat yang baik. Mulai dari masalah sekolah/kampus, guru/dosen, teman, lingkungan, pelajaran, Adik, Ayah, bahkan sampai masalah cinta-cintaan pun aku ceritakan pada beliau. Beliau tahu semua laki-laki yang pernah akrab denganku, bahkan mengenal tiga di antaranya dengan cukup baik. Dan, bukan hanya beliau yang menjadi sarana curhatku. Simbiosis mutualisme, beliau juga menjadikanku sebagai sarana curhatnya mengenai, nyaris, segala hal. Hal inilah yang membuatku semakin berpikir bahwa Ibu adalah sosok yang kuat, dan secara tidak langsung mendewasakan cara berpikirku juga.

Keenam, beliau adalah sasaran keisenganku, Adik, dan Ayah saat atmosfer keluarga sedang baik. Keluarga kami pada dasarnya memang iseng, semuanya, termasuk Ibu, tetapi mengganggu Ibu yang seringkali polos dan tidak sadar bahwa dirinya sedang jadi korban adalah hal paling asyik untuk ditertawakan.

Ketujuh, beliau adalah orang yang keras, namun mudah terbawa perasaan. Beliau sangat keras kepala―sifat ini menurun kepadaku dan adikku―dan susah mengaku kalah maupun salah, tetapi begitu beliau mengaku, wajahnya berubah menjadi wajah malu-malu yang berusaha disembunyikan. Soal terbawa perasaan, beliau mudah sekali menangis saat menonton film yang mengharukan atau menyedihkan. Beliau juga mudah tertawa akibat candaan setidak lucu apapun―keluargaku keluarga receh.

Kedelapan, dan mungkin ini yang terakhir. Memang tidak semua sifat beliau bisa kutuliskan di sini. Aku juga yakin masih banyak hal yang belum kutuliskan, namun aku tahu satu hal.

Aku menyayanginya.

 

Bandung, 28 Juni 2017 11:41 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

One thought on “#NulisRandom2017 – 34: Bukan Ibu Biasa

  1. Aku cukup mengenal ibumu, dan kupikir ia orang yang menyenangkan! Dan sudah kuduga ia pun seorang ibu—sekaligus teman—yang baik untukmu 😀 anyway, tulisan yang menggugah sisi anak-anak kita terhadap seorang ibu 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s