Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 33: Kalau Dipikir-pikir Mirip

Kalau kemarin aku membahas mengenai adikku yang ajaib, kini aku akan membahas mengenai ayahku yang juga ajaib.

Ajaibnya … bukan ajaib secara harfiah, tentu. Ajaib di sini maksudnya adalah unik, tidak biasa, dan benar-benar deh, aku benar-benar merasa bahwa Ayah itu berbeda dengan ayah-ayah yang lainnya.

Ayahku adalah seseorang yang serius, setidaknya begitu kata Ibu saat mereka pertama kali berkenalan sampai ke masa awal pernikahan mereka. Beliau tidak banyak berkata kalau tidak perlu, tidak banyak bercanda, dan tidak banyak berkomentar. Beliau pintar, cenderung jenius menurutku, dengan IPK saat lulus dari S1 (kalau aku tidak salah ingat) nyaris mendekati 4 alias cumlaude. Ayahku juga merupakan orang yang sabar, tetapi saat beliau sudah marah, ah, bahkan Ibu pun lebih memilih menghindar.

Beliau adalah seorang perantau, asalnya dari suatu kota di Sumatera Barat. Beliau bersekolah di sana hingga SMA, lalu melanjutkan kuliah di sana selama dua tahun, Teknik Sipil. Tidak berhasil menemukan apa yang beliau cari di kuliahnya selama dua tahun itu, akhirnya beliau memutuskan untuk merantau ke kota tempat tinggalku kini—sudah tahu ‘kan, di mana?

Tidak melanjutkan ke Teknik Sipil di universitas berbeda, beliau justru melanjutkan ke S1 Hubungan Internasional di sebuah universitas yang kini jadi universitas tempatku menuntut ilmu—tebak sendiri ya, hehe. Beliau masuk tahun 1988, kalau tidak salah. Aku kurang tahu beliau lulus tahun berapa.

Singkat cerita beliau bertemu ibuku, keduanya merasa cocok, lalu keduanya menikah. Sembilan bulan kemudian, lahirlah aku yang cerewet ini. Yah, dulu memang mereka tidak tahu sih, kalau aku ini akan jadi cerewet saat sudah besar, jadi … entahlah, aku tidak tahu beliau (dan Ibu) menyesal atau tidak. Hehe.

Saat aku kecil, sosok Ayah adalah seseorang yang kuanggap sibuk, serius, dan baik hati. Beliau selalu pergi ke kantor di waktu yang sama di pagi hari serta kembali di waktu yang sama pula di malam hari. Beliau jarang melantunkan candaan, jadi memang atmosfer rumah kami seringkali serius, namun tidak sepenuhnya menyeramkan. Cara bicara beliau enak dan menenangkan, tambahan, beliau tidak banyak bicara, jadi aku sedikit membandingkannya dengan Ibu yang sering mengomel, hehe. Namun, di balik semua hal yang kuanggap baik itu, marahnya beliau merupakan marah paling menakutkan yang harus aku hadapi. Sering aku bertekad untuk tidak membuatnya marah, tetapi entah mengapa aku tidak kunjung kapok. Entahlah.

Saat aku menjelang dewasa, sosok Ayah bukan lagi seseorang yang serius sepanjang waktu. Beliau benar-benar hobi bercanda, sering bahkan, terutama dengan tujuan yang sama dengan tujuan Adik bercanda: untuk mengganggu Ibu. Dan aku tidak bisa tidak tertawa saat mereka sudah melancarkan jurus-jurus iseng andalan masing-masing. Kalau Adik menyalah-nyalahkan Ibu dalam segala macam hal, kalau Ayah jurus andalannya adalah … menggombal. Ini salah satunya:

Ayah: Ma, tadi gak sempat beli panah.
Ibu: Emangnya buat apa??
Ayah: Buat panah hati Mama~

Sebenarnya bukan hanya Ibu yang sering beliau jadikan bahan bercandaan. Banyak hal absurd di muka bumi ini yang dalam beberapa detik bisa beliau jadikan bahan untuk bercanda. Salah satunya ini:

Ayah: Di Ciranjang rame tadi.
Ibu: Mau akhir puasa ya, orang-orang pada belanja.
Ayah: Iya, banyak yang mau beli baju dan makanan. Yang mau beli pohon pinang juga ada.
Ibu: Buat apa?
Ayah: Buat tujuh belasan.
Ibu: Kok, pohon pinang??
Ayah: Iya, disangkanya sekarang tujuh belasan, padahal lebaran, jadi gak ada yang jual.
(17 Agustus masih dua bulan lagi)

Walau kini hobi bercanda Ayah sulit direm, tetapi bukan berarti sisi seriusnya menghilang begitu saja. Beliau masih serius kok, saat menonton televisi salah satunya. Kalau Ayah sudah memaku fokusnya kepada televisi, beliau bisa tidak mendengar suara apapun baik itu keluar dari aku, Ibu, maupun Adik. Seolah telinganya ditutup rapat-rapat, hanya bisa fokus kepada apa yang sedang ditonton. Ketika akhirnya beliau menyahut, yang akan terjadi adalah,

“Kenapa? Ada apa? Nggak denger.”

Dan baru-baru ini aku sadar darimana sikap “fokus banget kalo udah asyik”-ku berasal.

Kalau orang bilang perempuan itu pada dasarnya rempong, itu benar, tetapi bukan berarti laki-laki tidak sama rempong-nya. Ayahku sering membantu pekerjaan rumah. Beliau kadang ikut mencuci pakaian, mencuci piring, membereskan ini-itu, dan yah, tentu saja pekerjaan laki-laki seperti mencuci mobil. Masalahnya adalah, meski beliau melakukan pekerjaan-pekerjaan itu atas inisiatif sendiri, pada akhirnya beliau pasti mengandalkan suatu metode yang kami sekeluarga namakan metode partisipatif—metode di mana si pelaku kegiatan pasti membawa-bawa orang lain dalam kegiatannya. Dan inilah yang terjadi saat beliau sedang bekerja,

“Ma, colokannya udah dipasang belum? Ini kok gak mau? Beneran udah dipasang? Eh, bisa, deng.”

“Teh, nanti isiin airnya, ya. Terus lanjutin jemur, Papa mau ke atas dulu.”

“Dek, nanti kalo laptop Papa batrenya udah full, jangan lupa dicabut, ya.”

Dan dari sinilah aku menyadari darimana metode partisipatif adikku berasal.

Ternyata buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, haha.

Terakhir, satu kelebihan Ayah yang sampai saat ini masih sangat aku kagumi adalah beliau mudaaah sekali memulai obrolan dengan seseorang. Aku ingat waktu itu di bandara, pesawat kami delay sehingga kami harus menunggu selama satu atau dua jam di ruang tunggu. Di sana, karena kebetulan kami ada di bandara internasional, jadi tidak ayal lagi pasti ada wisatawan mancanegara atau lebih akrab disapa bule, kan. Ayah duduk di dekat bule itu, lalu mereka mengobrol—aku juga tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Tahu-tahu saat mengobrol kembali denganku, Ayah sudah bertukar kartu nama saja dengan bule itu. Sasuga.

Jadi, dapat kusimpulkan bahwa Ayah merupakan seseorang yang serius namun hobi bercanda, rajin menggombali Ibu, rusuh dan kerap mengandalkan metode partisipatif, sibuk namun masih meluangkan waktu untuk keluarga, cerdas, dan tentunya, baik hati. Mau seperti apapun beliau, secanggung apapun aku yang sudah merasa dewasa ini menghadapi beliau—apalagi masalah laki-laki, tetap saja beliau adalah ayahku, dan aku menyayanginya.

Omong-omong, kalau dipikir-pikir, diri Ayah yang serius namun hobi bercanda, rajin gombal, cerdas, baik, dan mudah memulai obrolan dengan seseorang itu … kamu banget, ya?

 

Bandung, 27 Juni 2017 19:02 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s