Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 32: Tentang Adik

Kalau dipikir-pikir, selama ini aku belum pernah menceritakan sosok gadis berusia empat tahun di bawahku yang sejak belasan tahun lalu tinggal seatap denganku.

Ya, aku belum pernah bercerita mengenai adikku meski sudah sering menyinggungnya―beberapa kali itu sering tidak, sih?

Sebut saja dia Rena―bukan nama asli―seorang gadis yang belum mencapai kepala dua dan kini masih mengenyam pendidikan menengah atas. Hobinya banyak, dan sebagian besar mirip denganku, kusebut satu saja: main game tembak-tembakan. Cita-citanya masih buram karena dia masih dalam proses pencarian jati diri. Penampilannya agak tomboy, selalu tampak mengenakan celana―kecuali ke sekolah―bonus kaus lengan panjang, atau kemeja kalau dia sedang niat bepergian, dan sepatu ala-ala sneakers. Sangat malas gerak alias mager, rajin berkata “aduh”, dan seringkali tidak peka. Pemerhati yang baik alias jeli, utamanya hal-hal tidak penting semacam lipatan celana karakter A di sebuah scene film. Pandai membuat suasana menjadi meriah padahal hanya dengan tingkahnya yang polos serta tukang makan sejati. Cantik, menurutku, dan physically tidak bercela. Banyak disukai anak laki-laki, tetapi setelah tiga tahun didekati banyak laki-laki, baru dua bulan ini dia membuka diri untuk seseorang.

Yap, itulah deskripsi umumku mengenai dia.

Kami dekat sejak kecil, sering bermain bersama, sering bertengkar berdua, sering bercanda bersama, sering bercengkerama berdua, pokoknya segala macam hal yang normalnya dilakukan oleh kakak-adik kami lakukan. Main masak-masakan, salon-salonan, rumah-rumahan, sekolah-sekolahan, boneka, game di komputer, bahkan mobil radio kontrol pun kami main bersama. Tidak ketinggalan, mengubah ruang keluarga rumah kami menjadi jalan tol bohongan juga kami lakukan.

Saat kami sudah beranjak agak dewasa, aku seringkali terganggu dengan eksistensinya yang terkadang menyebalkan. Saat itu, dirinya yang masih belum remaja masih menyandang ketidakpekaan yang amat sangat, membuatnya tidak bisa mendeteksi kapan aku ingin ditemani dan kapan aku ingin dibiarkan sendiri. Saat itu, dirinya yang masih belum remaja tidak bisa kujadikan lahan curhat mengenai segala macam masalah pribadiku. Saat itu, hubungan kami bisa dibilang berada pada titik terendahnya―akibat aku acuh tak acuh, sepertinya. Meski begitu, kami masih tetap berhubungan baik.

Saat kami sudah beranjak lebih dewasa, barulah aku merasa bahwa saudara berjenis kelamin sama itu benar-benar bisa menjadi sahabat baik di rumah. Berhubung dia juga sudah cukup dewasa untuk bisa memahami masalah hati, jadilah dia kini menjadi lahan curhat utamaku. Sama dengannya yang menjadikanku sebagai lahan curhat utamanya. Kami berbagi cerita mengenai rasa, baik terhadap lawan jenis, teman, kondisi di sekolah/kampus, orang tua, lingkungan, dan sebagainya. Hal yang tidak kusangka adalah, memiliki adik sebagai sahabat adalah sesuatu yang amat sangat menyenangkan.

Secara fisik, kami cukup mirip. Tinggi badan kami nyaris sama, berat badan kami juga―bahkan kalau dilihat-lihat sebenarnya dia lebih berisi daripada aku yang kurus akibat depresi. Dia sering disangka anak kuliahan dan aku (saat bersamanya) juga tidak luput disangka anak SMA. Pernah satu kali saat dia diopname akibat typhus dan aku menemaninya di ruang rawat inap saat Ayah dan Ibu pergi mengecek kamar untuk pindah, seorang perawat menyangka aku adalah temannya. Sebegitu disangka sebayanya kami, padahal selisih umur kami empat tahun!

Lebih random lagi, kalian tahu double date? Sepasang sahabat sering ya, melakukan hal ini dengan pasangan mereka masing-masing? Tapi pernah tidak ada yang melakukan double date bersama adiknya?

Aku pernah, satu kali, dan itu sangaaat membuatku geli. Begini, aku duduk di samping seseorang, lalu di hadapanku ada Rena dan di samping Rena ada seseorang lain. Konyol tidak, sih? Double date dengan adik sendiri?

Kami telah melalui banyak hal bersama, baik suka maupun duka. Kami telah melalui belasan tahun ini bersama tanpa benar-benar mengalami pertengkaran berarti―kalau dipikir-pikir, kami ini cukup akur. Kami akan melewati banyak hal lagi ke depannya. Aku tidak tahu sampai kapan tepatnya, aku juga tidak tahu akan ada apa nantinya, tetapi aku tahu pasti.

Aku menyayanginya.

Dan, ya, itulah yang penting.

 

Bandung, 26 Juni 2017 21:30 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “#NulisRandom2017 – 32: Tentang Adik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s