Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 29: Kecelakaan

Sebenarnya topik ini bukan topik yang menyenangkan untuk dibahas, tetapi rasanya aku perlu mengingat-ingat kenangan yang membuatku merasa bersyukur masih hidup dengan normal hingga saat ini.

Tepat tanggal 25 Juni 2016 alias satu tahun yang lalu, adalah hari dimana keluargaku berada dalam kondisi … bisa dibilang kondisi terendah kami.

Hari itu berjalan tidak seperti biasanya, sebab aku, Ibu, dan Adikku yang biasa berada di rumah selama satu hari penuh hari itu pergi ke ibukota—Jakarta—untuk menemui keluarga Ayah yang tinggal di Depok. Kami bertiga pergi menggunakan travel sebab Ayah belum dapat kembali dari urusan kantornya. Beliau memang hanya pulang ke rumah satu minggu sekali, setiap hari Sabtu dan Minggu, terkadang hanya Minggu sebab ada kesibukan lain di luar urusan kantor yang harus beliau kerjakan.

Setibanya di Jakarta, barulah Ayah menjemput kami. Kami dibawa ke kamar kostnya yang lumayan nyaman tetapi berantakan untuk menunggu hingga pekerjaan beliau di kantor selesai. Setelah itu, barulah kami berangkat ke Depok. Kondisi jalan, untungnya, tidak begitu macet meskipun sudah menjelang waktu berbuka—memang sedang bulan Ramadhan.

Kami sampai cukup cepat di tempat tujuan, setidaknya ada waktu untuk menarik napas dan mendinginkan badan sejenak lantaran baru aku sadari … Jakarta ternyata panas, ya! Padahal dulu aku tinggal di sana dan aku tahan-tahan saja, tetapi sejak tinggal di tempat yang baru, dengan udara yang cenderung lebih dingin, aku rasanya nyaris mati kepanasan hanya dengan menginjakkan kaki di luar rumah atau mobil barang sedetik saja. Tapi … ya sudahlah.

Tadinya rencana kami adalah berkunjung sebentar lalu pulang sebelum maghrib, tetapi rencana itu batal akibat hasutan—bukan dalam konteks negatif—dari keluarga Ayah yang berkata bahwa jalanan Depok menjelang maghrib itu benar-benar macet. Berhubung kami sekeluarga juga malas bermacet ria lalu buka puasa di jalan, akhirnya kami memutuskan untuk buka puasa di Depok, lalu pulang setelah shalat.

Ada dua ucapan “aneh” yang terjadi selama kami di Depok. Yang pertama, aku berkata,

“Dek, kayaknya hari ini keluarga kita (aku, Adik, Ibu, dan Ayah) gak akan ada yang tarawih.”

Yang membuat kalimat ini aneh adalah karena kami sekeluarga hampir tidak pernah melewatkan tarawih, sama sekali tidak. Saat itu, aku mengira bahwa kami yang kelewat lelah akibat perjalanan jauh tidak akan sanggup untuk shalat lagi, jadi aku berpendapat seperti itu. Sedangkan ucapan yang kedua, Ibu berkata,

“Teh (merujuk kepadaku), telepon Mbak (yang hari itu menjaga rumah), suruh bersihin pasir kucing sekali lagi, biar pas kita pulang bersih.”

Membersihkan pasir memang menjadi agenda wajib bagi kami, pemelihara kucing. Akan tetapi, rutinitas kami adalah membersihkan pasir satu hari satu kali yang pastinya sudah kami lakukan sebelum berangkat tadi pagi. Lalu kenapa Ibu bilang begitu?

Tentunya kala itu aku tidak berpikir sampai ke sana, hal-hal ini baru kupikirkan sekarang.

Singkat saja, kami selesai makan dan shalat, tibalah waktunya bagi kami untuk pulang. Setelah mengucapkan perpisahan, kami naik ke mobil, lalu Ayah menyetir pulang. Jalurnya, tentu saja, lewat tol. Dan memang benar, setelah maghrib jalanan lebih lengang, tidak semacet sore—tadi kami sempat keluar saat sore dan macetnya memang melelahkan jiwa dan raga. Sepanjang jalan aku hanya sibuk memainkan ponsel sambil mendengarkan lagu. Lagi, ada satu peristiwa tidak biasa yang aku lakukan selama di mobil.

Aku mengenakan sabuk pengaman.

Mengenakan sabuk pengaman saat duduk di kursi penumpang belakang, utamanya bagiku, adalah hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Sebenarnya waktu itu sih, aku dan Adikku sedang rajin-rajinnya menonton saluran televisi di mana terdapat iklan soal langkah-langkah aman saat berkendara—dan salah satunya adalah penumpang juga harus mengenakan sabuk pengaman. Entah mengapa, aku menuruti perkataan iklan tersebut (sebut saja aku korban iklan karena memang benar), padahal Adikku saja tidak melakukannya.

Sekitar pukul delapan, aku tertidur tanpa sadar dengan ponsel masih di tangan. Aku tidak ingat apa-apa lagi sampai …

Mobil kami menabrak—entah tertabrak—truk, lalu berputar sedikit hingga ditabrak oleh mobil lain dari belakang (ini berdasarkan cerita Ayah, aku sedang tidur jadi tidak tahu).

Lalu, aku terbangun dalam kondisi sesak napas.

Saat aku membuka mata, jujur, aku bingung. Mobil kami berhenti, Ayah tidak ada di kursi pengemudi, kaca depan mobil pecah seluruhnya, dan asap keluar dari mesin bagian depan. Aku yang masih linglung berusaha untuk duduk sambil melepaskan sabuk pengamanku. Saat duduk itulah aku merasakan nyeri yang amat sangat di perutku, satu hal yang mendorongku untuk berusaha tidur lagi. Sebenarnya, aku juga berusaha tidur lagi untuk memanipulasi otakku sendiri, berharap bahwa apa yang kusaksikan barusan hanyalah mimpi buruk sekadar lalu yang akan hilang saat aku kembali membuka mata.

Sayangnya, tidak, itu nyata.

Aku mendengar keributan di pintu tempat Ibu duduk, dan aku bisa menarik kesimpulan bahwa bagian kiri depan tempat Ibu duduk penyok sehingga sulit mengeluarkan beliau dari dalam mobil. Rupanya, Ayah juga ada di antara keributan itu, berusaha membuka pintu dengan seluruh kekuatannya dan untungnya, berhasil. Ibuku berhasil keluar dari mobil, kini tinggal aku dan Adikku.

Kami berdua, secara umum, berada dalam kondisi cukup baik. Yah, sejauh apa yang kurasakan sih, aku hanya sesak napas sementara Adikku hanya menderita benjol di kepalanya—akibat tidak mengenakan sabuk pengaman, dia sedikit terlempar ke sana kemari. Kami buru-buru membereskan barang berharga kami: ponsel, dompet, dan semacamnya, dan memasukkannya ke dalam tas. Aku keluar lebih dulu dari mobil, dan karena aku mengeluhkan sesak napas yang lumayan menyiksa, aku cepat-cepat diungsikan ke mobil lain entah milik siapa yang mau berhenti untuk menolong keluargaku. Ibu sudah ada di sana, menyandar ke sandaran jok dengan darah di sekujur tubuhnya sementara Adikku menyusul dengan membawa tas-tas kami yang masih tertinggal di mobil. Ayah? Ah, beliau sibuk mengondisikan ini-itu, memanggil ambulans dan sebagainya.

Tidak lama setelah kami diungsikan ke mobil baik hati itu—aku sebut saja begitu, ya—ambulans datang. Kami kembali pindah ke sana, dengan aku dan Ibu yang dipersilakan untuk tidur sebab kondisi kamilah yang lumayan parah jika dibandingkan dengan Ayah dan Adikku. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku dan Ibu diwanti-wanti untuk tidak tidur. Setahuku, memang orang yang baru kecelakaan itu tidak boleh sampai tidak sadar kan, ya. Entahlah.

Sesampainya di rumah sakit, kami segera dilarikan ke UGD, lalu diperiksa ini-itu. Rupanya selain sesak napas akibat sabuk pengaman yang menekan tubuhku—tetapi luka ini lebih baik daripada benjol seperti Adikku, sih—terdapat luka lecet di pinggang dan bahuku. Sedikit, tapi lumayan menyakitkan. Dokter di sana segera mengobati luka itu dengan obat merah standar, lalu beralih kepada Ibu yang bajunya berlumuran darah. Untungnya, lumuran darah itu tidak berasal dari tubuh Ibu sebab aku dapat melihat tubuhnya baik-baik saja. Paling tangannya bengkak besar akibat pecahan kaca, tetapi sisanya baik-baik saja.

Aku, Ibu, dan Adikku dibiarkan berbaring di tempat tidur masing-masing untuk beristirahat sejenak sementara Ayah tidak bisa beristirahat. Pihak rumah sakit sibuk menanyai beliau, pihak kepolisian juga sibuk menanyai beliau, tidak luput, keluarga kami yang bisa menjenguk, baik dari pihak Ayah maupun pihak Ibu, juga harus beliau respons. Untungnya, kondisi beliau secara umum baik-baik saja sehingga masih bisa mengurusi segala macam hal yang lumayan memusingkan itu. Beliau butuh istirahat memang, tetapi sepertinya kepanikan terlalu menguasai dirinya sehingga untuk bersantai sejenak pun beliau tidak sanggup.

Ada sedikit kejadian lucu selama kami berada di UGD. Setelah pemeriksaan luka, aku mendadak muntah. Menurutku sih, itu karena perutku yang kekenyangan tertekan sabuk pengaman saat kami bertabrakan tadi. Supaya tidak muntah lagi—sepertinya muntah itu bahaya, ya?—akhirnya seorang perawat berkata harus menyuntikku dengan obat anti mual. Aku, sejujurnya, takut disuntik, tetapi karena aku memang sudah pernah melakukan donor darah, seharusnya suntik bukan masalah lagi buatku, benar?

Perawat itu menyuntikkan sesuatu ke lengan kiriku sementara aku mengalihkan pandang—kalau melihat jarumnya, aku bisa panik. Anehnya, perawat itu tidak kunjung pergi dari sebelahku. Karena heran, akhirnya aku bertanya dengan nada agak kasar, kemungkinan besar efek kesakitan sih,

“Kok lama amat, sih?!”

Dan dialog ini kini menjadi bahan tertawaan ketika kumpul keluarga. Saat aku memarahi perawatnya waktu itu sih, tidak ada yang tertawa. Hahaha.

Kami berada di UGD lumayan lama, mungkin sekitar empat jam sebelum akhirnya keluar keputusan bahwa hanya Ibu yang perlu rawat inap sedangkan aku dan Adikku dipersilakan pulang. Akhirnya, setelah mendapatkan kamar pada pukul dua pagi, Ibu dan Ayah—yang bertugas menemani Ibu—menginap di sana sementara aku dan Adikku dibawa Nenek pulang ke rumah kami.

Aku masih menderita sakit sepanjang perjalanan pulang. Aku tidak bisa berdiri terlalu lama, tidak bisa mengangkat tangan dengan sempurna, juga tidak bisa duduk terlalu lama. Posisi paling enak bagiku saat itu hanyalah tiduran, yang tentunya tidak bisa dilakukan dengan nyaman di mobil.

Setibanya di rumah pada pukul empat pagi, aku dan Adikku bergegas masuk ke kamarku lalu tidur, lelap, hingga pukul sembilan pagi. Aku tidak puasa karena kebetulan berhalangan sementara Adikku tidak berpuasa karena memang kondisinya masih tidak memungkinkan. Nenek, terpaksa, sahur sendirian, lalu mengurus rumah karena kondisi jiwa dan ragaku dan Adikku benar-benar tidak bisa diajak berkompromi lagi kala itu.

Dan selesailah kejadian mengerikan malam itu.

Seringkali aku berpikir, apa yang sebenarnya ingin Allah tunjukkan kepada kami sampai-sampai kami mengalami kecelakaan yang lumayan parah seperti itu? Apa hikmahnya?

Dan saat kupikir berulang kali lagi, hikmahnya banyak. Satu, kecelakaan separah itu, yang menurut orang-orang saat melihat foto mobil kami adalah tidak ada penumpang yang selamat, hanya menyebabkan badan Ibu lumpuh selama beberapa hari dan sisanya menderita luka ringan serta sesak napas. Ini adalah salah satu hal yang kusyukuri.

Dua, Ayah jadi lebih menaruh perhatiannya kepada kami yang jauh darinya. Sebelumnya kondisi keluarga kami memang sedang agak tidak harmonis, dan kejadian ini membuat kami kembali menyatu seperti dulu kala.

Tiga, aku lebih bersyukur dengan hidup yang kujalani setelah kecelakaan itu. Tanpa kecelakaan itu, yang amit-amit aku tidak mau mengulangnya lagi, mungkin aku akan menjalani hidup seperti biasa saja tanpa peduli seperti apa rasanya mendekati kematian itu.

Semua kejadian punya hikmahnya masing-masing, dan tidak sepatutnya kita menyesali apa yang telah terjadi kepada kita, sekarang maupun dulu. Syukuri saja karena semua akan berbuah manis di kemudian hari.

 

Bandung, 25 Juni 2017 16:01 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

7 thoughts on “#NulisRandom2017 – 29: Kecelakaan

  1. Tulisanmu selalu mampu membawaku kepada keadaan dimana situasinya adalah aku yang sedang menjadi tokoh dalam tulisanmu. Efeknya adalah, aku merasakan sendu yang mungkin kau ingin sampaikan. Furthermore, aku mendapatkan inspirasi to write a piece about the feeling! Nice work, come from a big fan of your writings 😀 kenangan buruk ada untuk membangun…

    Like

  2. Aah, senang bisa menjadi inspirasi dan dapat membawakan cerita ini seolah pembaca yang melakukan XD

    Terima kasih sudah menjadi pembaca setia! :3

    Like

  3. Cerita hari itu ya…. Dari tulisanmu yang ini aku jadi lebih tahu seluk-beluk kejadian sebenarnya sampai apa yang Rana pikirin. :” Semoga keluarga Rana senantiasa dilindungi Allah ya! Dan tetap semangat nulis!

    Lalu aku mendadak ingat waktu itu sempet bikin perutmu sakit gara-gara FF recehku. /YHA

    Like

  4. Aamiin! Makasih banyak loh, Pin! XD

    DAN IYA HAHA AKU JUGA JADI INGET. Itu bener-bener cobaan hidup, tahu gak. Di satu sisi aku pingin baca sesuatu yang menghibur, tapi di sisi lain perutku sakit gegara ketawa. Aku kudu kumaha :”))

    Like

  5. Seketika adik kesayanganmu ini-hoek-kembali mengingat kejadian satu tahun lebih tiga hari lalu… dan entah kenapa rasanya adikmu ini bisa merasakan kembali kejadian saat itu dan ada rasa haru ketika selesai membacanya. Aku merasa tersentuh tepat setelah kata terakhir dituliskan. Entah karena aku memang berada di sana sehingga aku tahu apa yang terjadi dan itu memutar kembali otakku juga hatiku dan aku kembali mengingat semuanya, atau memang gaya penulisanmu yang dapat membuat semua orang merasakannya. Pokoknya, tersentuh! Dan aku lyke :3 (LIAT TUH LIAT AKU PAKE EMOTTT)

    Like

  6. Memang mengingat kembali kejadian yang sebenarnya tidak enak untuk diingat karena menyedihkan dan menakutkan itu sesuatu, sih. Makasih udah bersedia baca dan komen! (ECIE PAKE EMOT HAHAHAH)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s