Posted in #NulisRandom2017, Opini

#NulisRandom2017 – 26: Sambutan

Biasanya shalat Id, baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha, dimulai pukul setengah tujuh atau pukul tujuh pagi—kalau di sekitaran Jawa Barat dan Jawa Tengah ya, aku kurang tahu kalau di daerah lain. Biasanya pula, shalat Id itu diawali dengan penyampaian laporan keuangan. Kalau Idul Fitri, maka yang dilaporkan adalah zakat fitrah dan sedekah, kalau Idul Adha yang dilaporkan adalah jumlah hewan yang akan dikurbankan. Kurang lebih seperti itulah.

Aku ingat benar setiap aku melakukan shalat Id selama beberapa tahun ini, semua masjid berlaku sama. Penyampaian laporan keuangan, shalat, khutbah, dan selesai. Tidak ada agenda tambahan yang aneh-aneh yang tidak ada hubungannya dengan hari raya.

Akan tetapi, di sini berbeda.

Aku baru pindah ke daerah ini, jadi bisa dibilang ini adalah shalat Id pertamaku di daerah baru. Ayahku tidak tahu pukul berapa tepatnya shalat Id di daerah baru ini dilakukan, jadi beliau mewanti-wanti kami untuk berangkat paling lambat pukul enam lewat sepuluh, jadi kami tidak akan terlambat. Rupanya dugaan beliau tepat sebab saat kami telah tiba di masjid, sekitaran pukul setengah tujuh kurang, terdapat pengumuman bahwa shalat Id akan segera dimulai.

Pukul enam tiga puluh tepat, dilakukanlah penyampaian laporan keuangan dari masjid tersebut. Karena memang terbiasa seperti itu, jadi aku tidak protes ataupun keberatan. Sepertinya menyampaikan laporan keuangan memang agenda wajib bagi semua masjid, jadi ya sudah, ditunggu saja. Asumsiku, penyampaian laporan ini hanya akan berlangsung paling lama lima belas menit dan selesai, shalat dimulai.

Eh, tidak tahunya dugaanku salah.

“Berikutnya akan ada sambutan dari Ketua DKM.”

Aku menghela napas pelan mendengarnya. Baru kali ini aku menemukan shalat Id dengan sambutan—atau aku saja yang kurang update sehingga baru menemukan shalat yang diawali sambutan?

Aku tidak menyimak sambutannya sebab … yah, selain karena aku mudah bosan, aku juga mengantuk. Tambahan lagi, sambutan ini memakan waktu yang terlalu lama sehingga aku mulai naik pitam. Duh, padahal Idul Fitri, tetapi aku malah emosi jiwa.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Akhirnya sambutan itu selesai juga. Aku sudah siap-siap untuk bangkit—sejak tadi kan, aku duduk—tetapi harapanku untuk berdiri pupus seketika gara-gara …

“Berikutnya akan ada sambutan dari Ketua RW.”

TOLONG.

Terpaksa, ini benar-benar terpaksa, aku menahan rasa kesal yang hendak meloncat keluar dari mulut—mau mencak-mencak, maksudnya. Aku hanya bisa bertatapan dengan Nenek dan Adikku yang saat itu duduk di sampingku dengan wajah duh-gusti-ini-kapan-shalatnya.

Penyampaian laporan keuangan tadi mungkin sekitar sepuluh menit, sambutan dari Ketua DKM mungkin sekitar lima menit, sedangkan sambutan dari Ketua RW mungkin sekitar lima belas menit. Ditotal-total jadinya tiga puluh menit, waktu yang kelewat lama hanya untuk ukuran sambutan. Duh, please, bahkan sambutan saat acara perpisahan saja maksimal sepuluh menit untuk semua petinggi acara tersebut!

Serius deh, pagi ini aku emosi berat. Selain karena sambutan yang kelewat lama dan langit yang sudah terang—panas, oi—saat kami memulai shalat, sambutan yang disodorkan juga kurang berhubungan dengan momen yang dirayakan hari ini. Di saat orang-orang sedang bahagia menyambut hari yang fitri, yang dibahas justru gerbang kompleks, pemilihan kepala daerah, bahkan sampai jumlah warga kompleks yang muslim segala. Untungnya, dengan mengesampingkan semua sambutan yang tidak diterima telinga dan otakku dengan baik, aku bisa mengikuti shalat dan khutbah dengan tenang. Alhamdulillah.

Jadi, dari pengalaman pagiku yang sedikit mengesalkan—setidaknya bagiku—ini, aku ingin menegaskan bahwa tidak perlulah kita mengada-adakan suatu agenda yang tidak penting, apalagi dalam sebuah kegiatan yang menyangkut orang banyak. Untuk penyampaian sambutan dengan pembahasan ngalor-ngidul tentunya ada momen lain yang dapat digunakan. Sesuaikan momen dengan kegiatannya, tidak perlu mengada-adakan agenda yang sepatutnya tidak ada.

 

Bandung, 25 Juni 2017 14:30 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “#NulisRandom2017 – 26: Sambutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s