Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 25: Jam yang Sama

“Eh, bener tau, kontak batin. Iya, itu jawabannya.”

Berdasarkan dua kalimat di atas yang kukutip dari ucapanmu kala itu, jadi … aku ingin bertanya, di antara kalian apa ada yang percaya dengan kontak batin?

Aku pribadi percaya kontak batin dapat terjadi antara saudara kembar, tetapi aku sendiri tidak tahu seperti apa rasanya karena aku tidak punya saudara kembar. Sempat sih, aku bermimpi ingin punya saudara kembar, tetapi aku seketika tahu bahwa impian itu tidak akan terwujud.

Oke, kenapa aku jadi membahas impianku tentang saudara kembar? Mungkin akan kubahas kapan-kapan (semoga bukan wacana).

Kembali dengan kontak batin, bisa dibilang bahwa aku tidak percaya kalau kontak batin bisa terjadi secara asal, pasti ada maksudnya. Misalnya seperti saudara kembar, mereka punya ikatan spesial selama di rahim dan lahir bersamaan, jadi bisa dibilang bahwa hubungan yang mereka miliki tidak asal. Atau kontak batin antara seorang ibu dengan anaknya, itu juga bukan hubungan yang asal.

Tetapi, kalau kontak batin antara laki-laki dan perempuan yang tidak berhubungan darah dan baru berkenalan secara benar selama beberapa bulan, rasanya tidak mungkin, deh.

Maksudnya, yah, sering membahas topik baru yang sama secara bersamaan tanpa skenario terlebih dulu, bangun tidur di jam yang sama padahal tidak ada pengaturan jadwal, atau memakai pakaian yang sama padahal tidak janjian adalah hal-hal yang … bersifat kebetulan, bukan? Tidak mungkin terjadi terus-menerus kecuali memang disengaja, iya tidak?

Ternyata aku salah.

Aku dan kamu sering tanpa sengaja memulai topik yang sama saat sudah kehabisan topik. Atau, sering juga aku menjawab pertanyaan yang kamu lontarkan dalam waktu yang sama—ini hanya berlaku di chat. Tidak jarang juga kamu menyuarakan sesuatu yang ada di pikiranku, yang menurutku seharusnya tidak semudah itu bisa dipahami orang.

Itu kontak batin, bukan?

Aku dan kamu juga sering tidur pagi—setelah sahur, maksudnya—lalu bangun di jam yang kurang lebih sama. Saat aku bangun pukul sembilan, kamu juga bangun pukul sembilan. Saat aku bangun pukul sebelas, kamu juga bangun pukul sebelas. Saat aku bangun pukul satu siang—ini berlebihan, memang—kamu juga bangun pukul satu siang. Bahkan kadang kalau kita sama-sama tidur sore, kita bangun di waktu yang sama.

Itu kontak batin, bukan?

Aku dan kamu sama-sama suka menulis, atau lebih tepatnya kamu suka membaca dan ingin menulis, hanya saja kamu baru termotivasi setelah mengenalku yang suka menulis. Kita berjanji untuk sama-sama menulis—ya, kita menghabiskan waktu yang sama untuk menulis—dan lucunya, kita selesai menulis di waktu yang sama.

Itu kontak batin, bukan?

Aku dan kamu sering bertemu, dan itu sudah jelas. Ada kalanya, beberapa kali saja sih, tanpa janjian, kita mengenakan jaket yang sama. Oke, mungkin itu tidak penting-penting amat, tetapi bagiku itu lucu, sih. Atau, beberapa kali juga—mungkin tanpa kamu sadari soalnya kamu tidak menyinggung-nyinggung masalah itu—kita mengenakan warna pakaian yang sama.

Semua itu kontak batin, bukan?

Untung saja sebagai individu kita tidak sama persis ya, hanya banyak kesamaan. Tapi aku senang kok, dengan “kontak batin” yang mengikat kita ini.

 

Bandung, 25 Juni 2017 11:10 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s