Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 23: Menjadi Wacana

“Kita akan gak ketemu lama.”

Masa liburan sudah tiba, berarti tidak perlu aku mengunjungi kampus selama kurang lebih dua bulan—atau setidaknya tidak perlu menyentuh buku pelajaran, sebab aku masih harus pergi ke kampus untuk rapat kepanitiaan dan semacamnya. Tidak ada kelas selama dua bulan, tidak ada kewajiban datang ke kampus selama dua bulan, tidak bertemu dengan teman-teman satu jurusan selama dua bulan.

Dan itu berarti termasuk tidak bertemu denganmu selama dua bulan.

Setidaknya, awalnya itulah yang aku pikirkan saat liburan tiba. Yah, kita punya kesibukan masing-masing yang akan harus kita kerjakan selama liburan, meski tetap ada beberapa hal yang masih harus kita kerjakan bersama, sih. Sejujurnya, aku tidak pernah merasa masalah dengan “tidak bertemu”, karena aku sering mengalaminya dulu dan sudah terbiasa akan hal itu. Dan, biasanya aku menyambut libur seperti menunggu banana split—es krim favoritku, hehe—disajikan di depan mata. Aku menunggu liburan, dan bahagia saat liburan tiba.

Tapi, hal itu tidak berlaku sejak aku … yah, sejak aku dekat denganmu.

Liburan adalah hal yang paling membuatku gemas sebab aku tidak bisa sengaja membuat agenda untuk bertemu denganmu—setidaknya kupikir begitu. Itu sebabnya dulu aku rela menghabiskan hari Minggu di kampus, bersamamu, untuk suatu kegiatan yang kalau dipikir-pikir, tidak begitu berpengaruh terhadap kondisi kita saat ini. Itu sebabnya dulu aku rela pulang kelewat malam dari kampus, dengan dalih mengurus program kerja, hanya supaya aku bisa menghabiskan waktu dulu bersamamu. Itu pula sebabnya dulu aku rela jatah hari liburku berkurang untuk datang ke kampus, bersamamu, hanya sekadar membahas materi yang tidak kaupahami.

Aku sendiri heran dengan perubahanku yang begitu drastis seperti ini, namun aku tidak sepenuhnya menyesal dengan perubahan yang aku rasakan. Entah karena aku memang menyukai perubahan ini, entah karena aku memang mengharapkan diriku seperti ini, atau entah karena kamulah penyebab semua perubahan ini terjadi kepadaku.

Kembali ke kutipan kalimat yang telah kamu ucapkan puluhan kali sejak hari Senin lalu, sejujurnya, aku sudah bosan mendengarnya, namun aku menangkap kebenaran dalam kalimat itu. Kita memang akan tidak bertemu untuk jangka waktu yang cukup panjang karena; satu, liburan; dua, tidak ada kepentingan. Yah, pada akhirnya, karena ego kita masing-masing—mungkin kamu merasa hanya kamu yang punya ego ini sebab aku selalu diam sambil mengiyakan saat kamu bilang kamu mengada-adakan alasan demi bertemu denganku—akhirnya kita membuat agenda-agenda baru untuk mengubah status kalimat “kita akan gak ketemu lama” dari fakta menjadi wacana.

Hari Senin kamu menyangka bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita—sama, aku juga merasa seperti itu. Selamat datang libur panjang, sampai jumpa kamu dua bulan lagi.

Tidak tahunya, agenda dadakanku di hari Selasa membuat kita bertemu lagi, mengubah status “kita akan gak ketemu lama” menjadi wacana. Dan kalau dipikir-pikir, kejadiannya lucu juga. Rencana kita adalah makan bersama, bertiga, tetapi pada akhirnya hanya aku dan kamu yang bertemu dan bercengkerama di meja itu. Sepertinya takdir memang memihak kita sebelum saling mengucapkan kembali selamat datang kepada libur panjang dan sampai jumpa kamu dua bulan lagi.

Lucunya, agenda dadakan lainnya yang kupinta kepadamu di hari Kamis—kemarin ya, kalau dipikir-pikir—membuat kita lagi-lagi bertemu, membuat status kalimat favoritmu sejak hari Senin itu berubah lagi menjadi wacana. Padahal hanya kegiatan sederhana, aku memintamu mengantarku ke kota dan selesai, tetapi pada akhirnya kamu—kita—menghabiskan waktu sampai malam, akibat error alias galat dalam Analisis Regresi selama satu jam yang kamu sebut-sebut. Lagi, aku harus mengucapkan selamat datang kepada libur panjang dan sampai jumpa kamu dua bulan lagi.

Daaan, hari ini adalah hari paling absurd yang pernah kubayangkan dalam hidup. Asal tahu saja, aku tidak pernah datang ke lingkungan kampus—which means, pinggirnya pinggiran kota—jika tidak ada urusan yang benar-benar penting, tetapi hari ini, aku pergi ke sana hanya untuk menemanimu. Maksudku, okelah, aku memang tidak pernah keberatan menemanimu—bahkan jika memang bisa aku akan terus mengajukan diri untuk menemanimu ke manapun—tapi, serius deh, keputusan kita untuk pergi ini mendadak sekali. Saat aku bilang aku diizinkan untuk pergi menemanimu—benar-benar menemani, ya—saat itu juga kamu langsung mengiyakan dan kita bertemu lima puluh menit setelahnya. Lagi-lagi, kalimat fakta yang kukutip darimu berubah status menjadi wacana.

Besok? Aku tidak tahu akan ada apa besok. Aku juga tidak tahu apakah besok kalimat andalanmu selama empat hari terakhir ini akan tetap menjadi fakta atau malah menjadi wacana, tetapi aku tahu satu hal yang pasti.

Aku juga diam-diam mengharapkan kalimat itu akan terus berubah status menjadi wacana.

 

Bandung, 23 Juni 2017 11:56 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

One thought on “#NulisRandom2017 – 23: Menjadi Wacana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s