Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 19: Kakak-Adik

Hari ini, aku mengalami hal paling random yang mungkin pernah kubayangkan dalam hidupku.

Eh, sebenarnya sebelumnya juga pernah, hanya saja yang ini aku alami secara langsung dan tanpa melalui media online. Aku mengalaminya tepat di depan wajahku.

Hari ini berjalan seperti biasanya saja, aku bangun di pagi hari, mengerjakan beberapa hal terkait urusan kampus dan urusan kepanitiaan online, lalu tahu-tahu matahari terbit. Lebih tahu-tahu lagi, seorang teman satu kepanitiaanku mendadak memintaku mengurus barang danusan—dana usaha(an)—yang harus diambil di kota (kebetulan rumahku agak di pinggiran kota dan kampusku lebih di pinggiran lagi; pinggirnya pinggiran, kasarnya begitu). Akhirnya demi kemaslahatan bangsa, negara, umat, dan anggaran kepanitiaan, akhirnya aku menyanggupi permintaan tersebut.

Dan, yang tidak kusangka adalah, kamu mau-maunya menyusulku mengambil barang danusan dengan bermodalkan usaha bangkit dari kasur (kamu kan, baru bangkit dari setor kesadaran diri). Padahal, serius deh, kamu tidak punya keperluan apapun dengan menyusulku ke kota yang notabene (menurutku) cukup jauh juga dari tempatmu bernaung.

Dan, yang setidaknya lebih kusangka daripada kamu menyusulku mengambil barang danusan, adalah kamu mengekoriku pulang lalu menemaniku menunggu manusia pejuang danus yang datang dari kampus. Setelah menunggu selama … berapa, ya? Satu jam? Dua jam? Pokoknya sekian jam, dan mereka datang, ada satu hal janggal yang mungkin mereka rasa seharusnya tidak ada di rumahku.

Ada kamu di sana, dan bagi mereka, itu bukanlah sesuatu yang lazim—atau setidaknya, bagi salah seorang di antara mereka sampai-sampai mereka berani bertanya, “Kalian kakak-adik?”

Aku tertawa, serius. Mungkin paragraf sebelum ini hanya terdiri dari titik-titik tanpa kata, tetapi serius, aku tertawa puas. Tidak habis aku memikirkan sisi bagian mana dari kita yang pantas disebut kakak-adik; secara fisik mirip kah? Secara kepribadian mirip kah? Atau hanya karena kebetulan kita ada di satu rumah yang sama saat “teman kampus” datang berkunjung?

Untuk memecah ketegangan tiada tara yang ingin membuatku tertawa keras, akhirnya aku menyahut, “Kenalin, ini kakakku.”

Dan lagi, kita—aku dan kamu—tertawa.

Kupikir bercandaan semacam itu hanyalah hal sederhana yang dapat kujadikan sumber tawa—lagi pula, aku memang tertawa. Tidak kusangka, pengaruh lanjutannya agak sedikit … yah, menyakitkan untuk diterima.

Banyak orang telah mengalami yang namanya kakak-adik-zone, atau istilah manusiawinya, hanya dianggap sebagai kakak atau adik yang tidak akan pernah bisa dimiliki. Tidak sedikit orang patah hati karena hal itu, dan aku selama ini menganggapnya konyol karena bagiku, dianggap sebagai kakak atau adik adalah salah satu bentuk apresiasi yang cukup tinggi bagi dua orang yang tidak berhubungan darah.

Dan, oh, aku tidak menyangka bahwa aku sedikit-banyak akan mengalaminya pula.

Mendengar pernyataan sayang memang kerap membuat hati melumer, pikiran melayang, dan jantung menari-nari tidak karuan, tetapi rupanya rasanya berbeda saat pernyataan sayang yang diterima adalah pernyataan sayang antar saudara.

“Kakak sayang sama adik.”

Tidak salah, sih, tapi entah mengapa menyakitkan untuk diterima.

Oke, aku memang tidak keberatan dengan guyonan aku-adikmu dan kamu-kakakku yang kami lakoni hari ini, tetapi rupanya hatiku tidak sanggup menerima bahwa apa yang telah aku dan kamu jalani selama beberapa minggu menuju bulan ini berubah menjadi hal yang sering berakhir patah hati bagi kebanyakan orang.

Ah, mengapa aku menuliskannya di sini saat aku tahu kamu pasti akan membacanya?

Memang seringkali, aku hanya ingin melampiaskan rasa.

Dan omong-omong, bukan berarti aku tidak suka dianggap sebagai adikmu, ya (kamu tahu benar aku ingin punya saudara laki-laki, kalau bisa lebih tua, kalau lebih bisa lagi kembar). Tulisan ini hanyalah curahan hati egoku sebagai seorang perempuan yang ingin dihargai dengan cara yang bukan seperti apa yang kita lakoni hari ini.

 

Bandung, 19 Juni 2017 22:30 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s