Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 17: Macet

Suatu topik random yang benar-benar random karena di Indonesia, rasanya tiada hari tanpa terkena macet, apalagi di kota-kota besar.

Menyedihkannya, kita sebagai manusia pejuang pulang-pergi dengan kendaraan sudah merasa biasa saja menghadapi macet. Padahal, logikanya, seharusnya kita mengakali diri sendiri agar tidak terkena macet terus-menerus hingga jadi terbiasa, benar?

Tapi kenyataannya, kita malas, ‘kan?

“Ah, biarin deh kena macet daripada berangkat kecepetan.”

“Duh, udah mepet acara pula, macet lagi, tapi pasti ngaret sih, jadi biarinlah.”

“Mending ikutan macet deh, daripada lewat jalan sempit.”

Sebagai manusia, tentunya kita ingin melakukan segala hal dengan praktis. Contohnya, untuk mempermudah komunikasi, manusia menciptakan telegram, pager, telepon, lalu handphone. Untuk mempermudah transportasi, manusia menggunakan kuda, lalu membuat kereta kuda, mobil, dan sejenisnya. Intinya, manusia selalu berusaha mencari solusi dari berbagai hal, baik itu masalah sepele maupun rumit.

Lalu, mengapa macet masih menjadi masalah yang tidak kunjung terselesaikan?

Menurutku, masalah macet ini pasti bisa diselesaikan. Bukan dengan cara klise khusus individu seperti naik angkutan umum dan jalan kaki ya, cara seperti itu sih, hanya berlaku bagi orang-orang dengan situasi dan kondisi tertentu. Bukan juga dengan cara melebarkan jalan atau semacamnya sebab hal itu hanya dapat dilakukan dengan biaya super mahal. Bukan juga dengan mengurangi volume kendaraan yang jelas saja tidak dapat kuatur seenak jidat. Di sini, aku bicara hal lain.

Salah satu cara menanggulangi macet adalah … dengan memperbaiki kualitas menyetir pengemudi.

Tidak jarang aku menemukan orang yang berkendara dengan kecepatan kendaraan di bawah rata-rata, posisi di tengah sehingga menghalangi kendaraan lainnya, atau belok kanan dan kiri tanpa permisi. Seringkali hal-hal semacam ini juga menyebabkan macet. Sepele memang, namun efeknya tidak.

Perbaikan kualitas jalan dan kuantitas kendaraan memang perlu, tetapi kualitas menyetir pengemudi juga merupakan faktor penting dalam berkendara. Tanpa pengemudi yang baik, apa jadinya kendaraan itu?

Dan omong-omong, macet itu bisa menambah kadar stress dalam diri seseorang (aku salah satunya), jadi memang seharusnya masalah ini cepat-cepat diatasi sebelum semua orang berubah menjadi stress-zombie yang bahkan aku tidak tahu ada atau tidaknya.

(Lagi pula, stress-zombie itu apa?)

 

Bandung, 17 Juni 2017 22:47 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s