Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 16: Lirik Lagu

Orang bilang, lagu yang tengah disukai seseorang pada suatu waktu biasanya punya cerita yang tidak terucapkan. Yah, aku kerap menganggapnya konyol sih, memangnya menyukai lagu hanya karena alasan sesederhana “lagu ini aku banget”? Kurasa tidak, sebab aku menyukai lagu yang memang enak didengar telingaku, bukan lagu dengan makna tersirat yang bisa dijadikan bahan untuk sindir-menyindir doi.

Akan tetapi, mungkin ini yang namanya karma, ada kalanya aku merasa bahwa pendapat orang-orang itu benar. Aku yang pada awalnya tidak menyukai suatu lagu kini berbalik menyukainya hanya karena satu, aku merasa liriknya cocok sekali dengan situasi serta kondisiku saat ini.

Kuterpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Kuharap kautahu bahwa
Kuterinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu?

(Lirik Lagu Raisa, Jatuh Hati)

Mungkin terdengar picisan, mungkin juga terdengar murahan, tetapi memang lirik lagu yang barusan kukutip adalah benar-benar apa yang kurasakan tanpa dibuat-buat sama sekali.

Perlu penjelasan rinci?

Satu, aku memang mudah dibuai oleh kata-kata manis, baik itu yang sifatnya hanya bercanda alias gombal maupun yang sifatnya serius—dan tentu saja yang serius itu efeknya jauh lebih mengerikan daripada gombal. Dan, oh sial, aku tidak menyangka bahwa kamu adalah seseorang dengan jutaan kata manis yang tersimpan rapat di balik milyaran kalimat receh! Siapa sangka kalau hatiku yang pada dasarnya memang mudah terbawa perasaan semakin terbawa perasaan akibat kata-katamu?

Dua, tersihir jiwamu mungkin adalah contoh kalimat hiperbolis yang tidak terukur. Maksudku, halooo, tersihir, memangnya kita tinggal di dunia sihir Harry Potter? Aku tidak tersihir dengan tongkat atau semacamnya, tetapi memang, keberadaanmu di sekitarku berhasil membuatku … ah, entahlah, seringkali tidak fokus. Kamu, cuma kamu, dan lagi-lagi kamu yang hinggap di pikiranku. “Tersihir”, bukan?

Tiga, aku amat sangat kagum dengan caramu memandang dunia yang luas namun sempit ini. Kamu selalu melihat dunia dari berbagai sudut pandang, tidak membatasi dirimu dengan satu atau dua mata saja. Kamu pun, dengan kokohnya, mempertahankan idealisme yang kamu anut seolah hal itu adalah hal paling benar di dunia. Yah, kamu memang jarang salah, dan lagi-lagi aku mengaguminya, tetapi kamu juga tidak mungkin selamanya benar. Walau begitu, tetap, rasa kagumku padamu tidak berubah.

Empat, kamu adalah sumber inspirasi yang membuatku sanggup menuliskan jutaan paragraf dengan berbagai golakan emosi, hanya tentang kamu. Maksudku, lihatlah, bahkan aku baru saja menjabarkan tiga paragraf panjang mengenai apa yang kurasakan soalmu dan kini aku menegaskannya pada paragraf ini. Belum lagi tulisan-tulisanku yang sebelumnya, iya ‘kan? Kamu benar-benar inspirasiku untuk menulis, lagi dan lagi.

Lima, aku memang tidak pernah memaksa, bahkan meminta saja tidak, kamu untuk menjadi “milik”-ku. Bagaimana ya, bahkan tanpa aku perlu melakukan klaim layaknya seseorang yang diproteksi asuransi meminta hak akan uang manfaatnya pun aku dan kamu sudah terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Mengutip istilah orang, “dunia serasa milik berdua”, mengapa aku harus repot-repot menjadikanmu milikku?

Enam, sekaligus yang paling krusial, adalah pertanyaan yang memang kerap kutanyakan kepada diriku sendiri. Sebut aku hiperbolis, silakan, aku tidak peduli. Apakah salah kalau aku berharap ingin sering menghabiskan waktu bersamamu karena memang, waktu yang telah kuhabiskan bersamamu adalah waktu paling membahagiakan dalam hidupku? Boleh tidak, aku bersikap egois seperti itu?

Tujuh, meski aku tahu seluruh bagian pada lirik di atas telah aku bahas, tetapi ada satu hal yang ingin aku katakan di luar semua itu.

Kamu tahu tidak, bagaimana wajahku saat menuliskan semua ini?

 

Bandung, 16 Juni 2017 21:25 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s