Posted in #NulisRandom2017

#NulisRandom2017 – 15: Menghilang

Ada kalanya kita lelah menghadapi kenyataan, baik itu kenyataan pahit yang ukurannya kecil seperti malas pergi kuliah, malas mandi, malas bangkit dari kasur, dan sebagainya, maupun kenyataan pahit yang benar-benar pahit sampai membuat “lidah” mati rasa seperti nilai jeblok, dimusuhi sahabat, mendadak putus dengan pacar, dan sebagainya. Pada saat-saat seperti itu, entah mengapa, rasanya kita ingin menghilang saja dari dunia. Setidaknya dengan mematikan ponsel lalu memejamkan mata di atas kasur dan menghabiskan hari hanya untuk tidur. Iya atau tidak?

Hari ini … aku merasa seperti itu.

Bukan, aku bukan merasa hilang. Aku hanya merasa ingin menghilang sejenak dari segala macam tekanan dunia yang hari ini rasanya menyiksaku. Aku ingin bebas untuk sementara, ingin berlari mengejar apa yang aku inginkan setidaknya satu hariii saja. Aku ingin bebas mengetik cerita, ingin bebas bermain game, ingin bebas membuka file-file lama di laptop, ingin bebas menenangkan diri di atas kasur, dan ingin bebas melakukan hal-hal yang tidak dapat kulakukan saat aku “terkekang”.

Mungkin ini adalah pemikiran egois yang dapat kuharapkan hari ini, tetapi percayalah, aku benar-benar ingin melakukannya. Bahkan kalau bisa, saat ini juga, aku ingin menghilang sejenak dari kesibukan yang melanda tiada henti. Aku tidak mengeluhkan kesibukanku, hanya saja, aku menyesal karena tidak bisa mengatur emosiku dengan baik di saat kesibukanku sedang padat.

Rasanya aku terlalu bertele-tele tanpa mendefinisikan dengan jelas ke mana kalimat-kalimatku ini akan bermuara. Kalau begitu … langsung saja, aku akan sedikit menceritakan mengenai kondisi batinku yang sepertinya sedang tidak normal hari ini.

Pagi ini, aku terbangun dalam kondisi pusing, kemungkinan besar karena terlalu banyak tidur atau karena aku tidur setelah sahur yang notabene adalah waktu yang tidak baik untuk tidur. Bangun dalam keadaan tidak bugar adalah hal pertama yang tidak akan membuat emosimu baik selama menjalani hari, percayalah akan hal itu.

Bangun, aku langsung mengerjakan pekerjaan yang memang sudah kujanjikan akan kuselesaikan hari itu; mengurus perhitungan pesangon sebuah perusahaan serta menyamakannya dengan draft laporan yang seharusnya dikerjakan oleh pihak lain sejak berminggu-minggu lalu, tetapi akhirnya dikerjakan olehku. Satu jam, aku masih bisa tahan dengan seluruh angka yang memenuhi layar laptop-ku. Dua jam, aku juga masih bisa tahan. Biasanya aku mengerjakan pekerjaan semacam ini selama berjam-jam, dan akhirnya, pada jam ketiga, aku sudah mulai lelah. Hitunganku tidak kunjung sama, dan pada akhirnya hanya membuatku pusing membuka sheet demi sheet hanya untuk mencari kesalahanku.

Lelah dengan perhitungan yang memang memusingkan, akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi dulu pekerjaan itu. Lagi pula, aku memang sudah harus berangkat ke kampus untuk … bukan, bukan untuk kuliah sebab aku sudah melewati masa UAS-ku. Aku pergi ke kampus untuk rapat, sekaligus mencetak laporan yang telah difiksasi sejak lama, tetapi lagi-lagi tidak mengalami kemajuan lantaran salah seorang pihak tidak kunjung mengurus laporan tersebut.

Aku menghabiskan waktu satu jam untuk menunggu hasil cetak seluruh laporan yang kalau ditotal ada sekitar 108 halaman. Belum cukup laporan, aku juga harus mencetak cover dengan kertas foto yang kalian tahulah, mencetak di kertas foto dengan resolusi tinggi itu benar-benar menguras waktu. Akhirnya, terpaksa aku tinggalkan proses cetak yang memakan waktu itu untuk melakukan hal lain: rapat.

Rapat berjalan cukup lancar dibandingkan biasanya, yah, bisa dibilang cukup berhasil membuat batinku yang sudah lelah agak membaik. Kalian tahu jenis-jenis rapat tidak efektif yang menghabiskan jutaan jam hanya untuk membahas hal tidak penting? Nah, rapat kali ini tidaklah seperti itu, dan aku cukup dibuat bahagia karenanya.

Pukul lima, aku undur diri untuk menyelesaikan urusanku yang tadi: cetak laporan. Dan untungnya, semua yang aku cetak telah selesai sehingga aku dapat melakukan finishing pada laporan tersebut alias … jilid. Terpaksa kutinggalkan lagi laporan-laporan itu, aku harus melakukan agenda umum yang biasa dilakukan banyak orang pada bulan Ramadhan yang suci dan penuh berkah ini: buka bersama. Sudah jelas, ya?

Dari jutaan hal memuakkan yang terjadi hari ini, buka bersama adalah salah satu peningkat mood paling baik yang berhasil kudapatkan. Tidak hanya kenyang, aku juga dapat canda, tawa, obrolan ringan, senyum, dan hal-hal positif lainnya yang tidak kudapatkan dari agenda lainku hari ini. Eh, ada sih, agenda lain di luar agenda wajib yang berhasil membuatku tersenyum, tetapi karena hal itu akan membuatku keluar dari konteks pembicaraan yang sekarang, jadi aku akan membahasnya di akhir saja.

Setelah buka bersama yang penuh tawa itu, kami melanjutkan sesi buka bersama tersebut dengan mengganti kata pertamanya dengan foto, alias foto bersama. Sialnya, foto studio tempat kami akan berfoto penuh sehingga kami harus menunggu hingga satu setengah jam untuk menyelesaikan semua prosesnya mulai dari memesan sampai memilih foto untuk dicetak. Untungnya, ini benar-benar kusyukuri dari semua proses menunggu nirfaedah ini, aku berhasil dibuat tertawa dan tersenyum oleh orang-orang yang bernasib sama denganku, menunggu selama satu setengah jam.

Selesai dengan semua hal yang melelahkan namun di luar dugaan menyenangkan itu, akhirnya aku bisa bernapas lega dan pulang dengan selamat—tentunya setelah mengambil hasil jilid laporan yang sialnya nyaris saja kulupakan. Yah, meski sedikit mendapat semburan saat baru membuka pintu, setidaknya, aku tidak dibiarkan luntang-lantung tidak jelas akibat tidak boleh masuk rumah. Begitulah.

Dan, terakhir, satu hal yang membuatku bahagia dengan segala macam tetek-bengek yang kalau dipikir-pikir cukup menyebalkan, adalah orang yang sejak siang hari ini setia menjemputku dari rumah, mengantarku ke sana kemari mulai dari tempat cetak laporan, tempat rapat, sampai tempat makan dan foto, juga bersedia mengantarku pulang ke rumah dengan selamat. Dan tentu, dia adalah orang yang sanggup membuatku lebih banyak tersenyum hari ini.

Dan orang itu, tentu saja, adalah kamu.

Bandung, 15 Juni 2017 23:42 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “#NulisRandom2017 – 15: Menghilang

  1. Untuk 4 paragraf pertama, aku juga sering punya pemikiran kayak gitu. Jadi kupikir, itu manusiawi kok. Walaupun bikin frustrasi. :”) And I like the last paragraph, entah kenapa semacam twist-ending berupa someone yang berada di balik layar. xD

    Tetap semangat nulis ya, mb!

    salam,
    pejuang nulis blog sebelah

    Like

  2. Untuk seorang pemikir seperti Rifina, aku tidak ragu kamu akan punya pemikiran semacam ini :”)) /heh. Ahaha, he’s, indeed, someone di balik layar~

    Tetap semangat nulis juga, Mb! Masih ada setengah jalan lagi menuju akhir Juni! Semangatttt!

    Salam,
    Tuan Rumah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s