Posted in #NulisRandom2017, Kuliah, Opini

#NulisRandom2017 – 08: Statistika

Untuk apa kita belajar Statistika?

Kebetulan, sebagai salah seorang mahasiswi yang telah menggeluti ilmu tersebut selama kurang lebih dua tahun, aku pun masih belum bisa dengan tegas menyatakan, apa guna belajar Statistika.

Akan tetapi, aku tahu bahwa apa yang diperhitungkan di dalam Statistika itu tidaklah main-main. Aku tahu pasti bahwa kami memang menghitung dengan Matematika, ilmu pasti, tetapi kami juga menghitung dengan peluang kekeliruan. Peluang adalah bentuk ketidakpastian atas apa yang kami hitung. Tidak pernah ‘kan, Statistika bilang bahwa 2 adalah 2? Seperti limit dalam Matematika, 2 itu bisa berarti 1.999999 atau 2.000001.

Tidak pernah ada yang benar-benar pasti dalam Statistika, baik itu metode yang digunakan maupun hasilnya. Kami menentukan penggunaan metode A untuk jenis data A dan metode B untuk jenis data B karena kami memilih yang paling baik dari yang baik, bukan yang paling benar dari yang benar. Tidak pernah ada kata benar dalam Statistika, karena semua punya peluang kekeliruan.

Tidak hanya dalam proses analisis data, dalam proses pengumpulan data pun Statistika punya aturan. Sampling, atau penentuan sampel, juga punya aturan. Intinya satu, acak. Keacakan menjamin representasi, jumlah sedikit pun tidak masalah asalkan acak. Akan tetapi, tentunya, sedikit pun berdasarkan perhitungan secara Statistika.

Jangan seenaknya mengatakan “jumlah 100 dari 700 tidak representatif” kalau kalian memang tidak pernah benar-benar mengenal Statistika. Memangnya kalian tahu rumus apa yang kami gunakan untuk mendapatkan angka 100 itu? Memangnya kalian tahu jumlah berapa yang tepat untuk merepresentasikan 700 orang dalam populasi? Kalau pada akhirnya kalian mengumpulkan data dari 600 orang demi jumlah yang representatif, lantas untuk apa ada Statistika? Untuk memusingkan para mahasiswanya saja?

Tidak, tulisan ini bukan untuk menghina kalian yang tidak belajar Statistika, melainkan untuk menyadarkan kalian bahwa kami yang mempelajari ilmu ini tidak sembarangan. Kami juga menghitung, secara matematis. Kami juga menghitung peluang kekeliruan dan peluang kebenaran. Kami punya selang kepercayaan, rentang hasil yang mungkin terjadi. Kami tidak tiba-tiba mengeluarkan angka sekian hanya karena kami ingin, tidak.

Aku tidak meminta rasa hormat atau iba kalian kepada kami, tetapi setidaknya, jangan mendebat hasil yang kami kemukakan hanya karena kalian merasa bahwa “100 tidak dapat mewakilkan 700” lalu tiba-tiba menyuruh kami untuk mengadakan survey ulang. Memangnya kami bekerja untuk kalian? Dibayar saja tidak.

Intinya, jangan meremehkan Statistika.

Bandung, 8 Juni 2017 20.28 WIB

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s