Posted in #NulisRandom2017, Opini

#NulisRandom2017 – 01: Hari Lahir Pancasila

Hari ini Hari Kelahiran Pancasila.

Sebagai seorang mahasiswa, aku tahu itu. Bisa dibilang semua media yang kuikuti menginformasikannya, bagaimana mungkin aku, dan jutaan manusia lainnya yang juga mengikuti media yang aku ikuti, tidak tahu?

Akan tetapi, aku hanya menanggapi hari ini dengan duduk di bawah naungan cahaya putih sambil menulis “Hari ini Hari Kelahiran Pancasila” tanpa sedikit pun merasa kagum terhadapnya.

Kenapa? Apa sisi diriku yang cinta akan tanah air ini, dengan segala orisinalitasnya, telah memudar―atau bahkan hilang sama sekali?

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, orang-orang sibuk membangun kehidupan yang layak bagi negeri ini. Sekarang, sebagai bentuk “apresiasi” terhadap usaha mereka yang sungguh keras sampai mengorbankan keringat dan darah, aku justru menyimpan buku sejarah di pojokan lemari dengan alibi bahwa aku telah melalui masa wajib belajar dua belas tahun. Aku tidak butuh buku itu lagi.

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Kebangsaan Indonesia merupakan satu dari lima hal yang “digali” Soekarno dari kita, bangsa Indonesia. Sekarang, sebagai bentuk “cinta” terhadap bangsa dan negara, aku justru bahagia dengan tidak perlunya lagi aku mengikuti upacara bendera setiap Senin pagi sebab aku telah melalui masa wajib belajar dua belas tahun. Menurutku, upacara bendera hanyalah untuk para siswa dan pegawai negeri.

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan merupakan satu dari lima hal yang “digali” Soekarno dari kita, bangsa Indonesia. Sekarang, sebagai bentuk “kepedulian” terhadap sesama, aku justru mengomel di dalam hati saat ada yang meminta sumbangan, bahkan terkadang tanpa sadar pun kata bermakna kasar keluar. “Malas amat berusaha sendiri, sih,” pikirku begitu melihat wajah para peminta sumbangan yang tidak jarang dibuat sememelas mungkin.

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Mufakat atau Demokrasi merupakan satu dari lima hal yang “digali” Soekarno dari kita, bangsa Indonesia. Sekarang, sebagai bentuk “persetujuan” atas kedua hal itu, aku malah sibuk mengadakan voting tanpa memedulikan perasaan orang yang tidak memilih suara mayoritas. Yah, nanti juga mereka akan terima-terima saja dengan hasilnya, bukan? Musyawarah itu cuma buang-buang waktu.

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Kesejahteraan Sosial merupakan satu dari lima hal yang “digali” Soekarno dari kita, bangsa Indonesia. Sekarang, sebagai bentuk usaha dalam “menyejahterakan” orang-orang di sekitarku, aku malah menghindar setiap kali mereka menanyakan sesuatu yang tidak mereka pahami. Rasanya aku tidak perlu ikut-ikutan repot mengurusi kebutuhan mereka. Banyak kok, sumber yang dapat mereka baca.

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Ketuhanan yang Berkebudayaan merupakan satu dari lima hal yang “digali” Soekarno dari kita, bangsa Indonesia. Sekarang, sebagai bentuk “perwujudan” manusia yang beragama, aku malah menomorsekiankan ibadah dalam daftar prioritasku. Yang penting tetap kulaksanakan, bukan?

Tahukah kalian? Aku bahkan meringis saat kubaca kembali kalimat-kalimat yang kutulis di atas. Terlalu menohok, menyakitkan. Padahal apa yang aku tulis adalah diriku sendiri. Ya, moralku ternyata sebobrok itu.

Untuk kalian semua yang sedang membaca tulisan ini, coba kalian bayangkan, bagaimana jika para pejuang kemerdekaan negara ini tiba-tiba bangkit dari kubur dan terpaksa harus mati untuk yang kedua kalinya karena terkejut melihat kondisi negara hasil perjuangan mereka yang kini amburadul?

Malu, malulah pada diri sendiri. Abaikan dulu masalah cinta picisan yang seringkali menyita waktu belajar kalian, abaikan dulu masalah unggah-mengunggah foto di sosial media yang seringkali kalian jadikan sebagai ajang pamer kebahagiaan, abaikan dulu masalah belanja kebutuhan tersier hanya demi pemuasan nafsu kalian, abaikan dulu masalah umbar-mengumbar aib orang lain yang bahkan belum tentu benar, dan abaikan semua ego kalian untuk melakukan hal-hal yang tidak berfaedah.

Kawan, kita sebagai orang Indonesia, masih memiliki kelima poin itu. Jauh di lubuk hati kita, mungkin saja terkubur di bawah perasaan sayang pacar atau masih sayang mantan, kita sebenarnya masih memiliki Indonesia yang sesungguhnya, bukan Indonesia dengan moral bobrok yang segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan satu juta rupiah.

Mungkin kalian akan berpikir bahwa kelima poin itu toh, tidak dijadikan dasar negara, lantas untuk apa aku membahasnya? Hei, memangnya Pancasila yang kita kenal sekarang dibuat hanya dengan mengayunkan tongkat sihir? Lima sila pada Pancasila, seharusnya kalian tahu jika mempelajari sejarah, adalah lima hal yang sama dengan lima poin di atas dengan redaksi sebagai pembedanya.

Jadi, masih mau mengelak?

Orang memang tidak dapat diubah semudah itu. Bahkan aku pun tidak akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pribadi Pancasila hanya dengan menulis berparagraf-paragraf opini mengenainya. Semua orang, termasuk di dalamnya aku dan kalian, butuh proses. Kita sama-sama meniti jalan menuju pribadi yang lebih baik di ujung sana tanpa tahu kapan kita mencapainya.

Yang jelas, kita tidak akan mencapainya jika kita tidak mulai melangkah. Sekecil apapun langkah kita itu, asalkan kita terus melakukannya, akan membawa kita pada akhirnya menuju pribadi yang lebih baik.

Jadikanlah 1 Juni ini sebagai momen untuk merenungkan kembali apa yang baik bagi diri sendiri, juga bagi bangsa dan negara ini.

Selamat Hari Kelahiran Pancasila.

Bandung, 1 Juni 2017 05:55 WIB.

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

2 thoughts on “#NulisRandom2017 – 01: Hari Lahir Pancasila

  1. hai teh ran, aku blogwalking, ya! :’) singkat aja sih nggak sepanjang kalau aku ngereview fanfiknya teh ran wkwk XD aku mau bilang kalau … ini sangat membangunkan jiwa nasionalisme yang tertidur di dalam diri :’) apanya yang nulis random teh :’) keren banget ✨✨

    Liked by 1 person

  2. This is, indeed, random thought, Sya XD aku juga berusaha membangkitkan jiwa nasionalisme dalam diriku sendiri, kok, soo, mari kita sama-sama membangun negeri yang lebih baik deh, yaa XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s