Posted in Cerpen

PHP

Kalian yang hidup dengan puluhan―mungkin ratusan―mantan mungkin sudah tidak asing dengan istilah ini. PHP, singkatan dari Pemberi Harapan Palsu, adalah sebuah julukan bagi mereka yang sering mengangkat seseorang hingga langit ketujuh kemudian menghempaskannya ke tanah tanpa ampun.

Aku, Reva, di sini tidak akan membahas para PHP dalam masalah cinta. Di sini, aku akan membahas ratusan PHP yang kutemui saat aku hendak… pulang kuliah.

Ya, serius.

PHP saat pulang kuliah itu jauh lebih banyak daripada PHP dalam urusan percintaan, tahu?

Baiklah, jadi aku hanya akan menceritakan kisah menyedihkan pasca kuliah hari itu berakhir.

***

Hari ini benar-benar membuatku muak. Bagaimana tidak? Aku sudah datang pagi-pagi ke kampus–asal tahu ya, jarak antara rumah dengan kampusku itu dua puluh kilometer lebih–dan ternyata kelas pagi dibatalkan karena sang dosen sakit.

Perlu repetisi? Oke.

Kelas pagi dibatalkan!

Baiklah, aku akan menyimpan unek-unekku untuk nanti saja karena mencak-mencak tanpa tujuan sama artinya dengan buang-buang tenaga. Toh, jadwal berkata bahwa akan ada kelas siang, jadi… untuk apa marah jika kedatanganku ke kampus memang tidak sia-sia?

Sambil menunggu jarum jam tiba di angka sebelas, aku menunggu di kost teman yang dekat dengan gedung kuliah. Enaknya tinggal dekat kampus, bisa pulang dan pergi kapanpun tanpa harus mengkhawatirkan jadwal angkutan umum. Yah, hal yang sama sekali tidak bisa kulakukan karena beberapa kendala di rumah.

Oke, kembali ke cerita.

Pukul sebelas telah tiba, waktunya kelas siang. Aku dan teman-temanku berjalan bersama ke gedung kampus, lebih tepatnya menuju aula sebab di sanalah kami akan belajar mata kuliah yang satu ini.

Sialnya, aula hari itu digunakan untuk sebuah acara seminar yang bahkan tidak kuketahui temanya. Lebih sialnya lagi, tidak ada ruang kelas yang kosong untuk kami tempati. Akhirnya, sang dosen memutuskan untuk meniadakan kelas hari ini dan menggantinya di hari lain.

Terkutuk kau, seminar.

Selesai dengan insiden kelas siang, aku kemudian bimbang. Kuliah hari ini telah selesai dan aku tidak punya sesuatu untuk dilakukan hingga nanti sore, hingga rapat kepanitiaanku berlangsung tepatnya. Haruskah aku tinggal demi rapat itu atau pulang saja dan mengabaikannya?

Hem…

Tidak.

Itu keputusanku. Aku tidak akan mangkir dari rapat kali ini akibat emosi sesaat. Yah, siapa tahu rapat nanti menyenangkan?

Baiklah, mari kita menunggu sore.

Lalu sore tiba.

Aku menghampiri kantin tempat kami akan mengadakan rapat. Aku sudah terlambat lima menit akibat terkunci di kamar mandi kost teman―yah, alasannya memang tidak keren―tetapi kantin ini masih sepi?

Ehem… ke mana orang-orang?

Baiklah, kita tunggu saja.

Lima menit, masih kosong.

Sepuluh menit, masih kosong.

Dua puluh menit… masih sama juga.

Tiga puluh menit… oke, emosiku mulai tidak bisa diredam.

Kesal dengan ketidakhadiran panitia yang lain, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon salah satu dari mereka.

“Halo? Kenapa, Rev?”

“Lian!” seruku emosi pada teman satu kepanitiaan yang baru saja menerima telepon dariku itu. “Pada ke mana, sih?! Udah tiga puluh menit juga! Kan, ada rapat!”

“Eh?” Lian membalas dengan nada bingung yang membuat jantungku berdegup kencang―bukan jatuh cinta. “Hari ini kan, rapatnya dibatalin, Rev, soalnya besok tanggal merah.”

… jleb.

“… sumpah, Yan?” Aku bertanya satu kali lagi, khawatir salah dengar. Omong-omong, ‘Yan’ berasal dari ‘Li(y)an’.

“Sumpah, Rev.”

ARGHHH!

“Makasih, Yan!” seruku cepat-cepat sambil menutup telepon. Cih! Tahu begini aku bisa pulang sejak tadi!

Sabar, Rev, sabar, batinku berusaha menenangkan diri sendiri. Tidak lucu bukan, kalau aku sampai mengamuk di depan umum?

“Waktunya naik bus,” ucapku sambil memeriksa arloji. Masih pukul empat, seharusnya bus terakhir masih ada.

Aku berjalan keluar dari kantin dan langsung bergerak menuju halte bus. Aku berjalan dengan kecepatan normal, tidak berlari karena aku lelah secara batin dan tidak berjalan lambat karena aku ingin cepat sampai di rumah dan tidur.

Begitu aku tiba di halte bus…

Bus yang seharusnya kunaiki baru saja pergi.

ITU BUS TERAKHIR, OI. BUS TERAKHIR.

Hah, hilang sudah harapanku pulang dengan nyaman. Terpaksa naik angkutan kota―yang sudah pasti tidak senyaman bus. Hiks.

Aku berjalan menyusuri trotoar, hendak menaiki angkot dari pertigaan yang letaknya agak jauh dari halte. Yah, satu-satunya alasan aku rela berjalan begini karena dengan angkot itu, aku hanya perlu naik satu kali. Kan, malas kalau harus menunggu dua angkot lama parkir demi penumpang.

Baru setengah jalan menuju pertigaan yang tadi kusebut, tiba-tiba hujan datang mendera.

Ehem… yah, aku tidak bawa payung maupun jas hujan.

Terpaksa kukorbankan jaketku tercinta―aku harus bersyukur karena mengenakan jaket menjadi sebuah kebiasaan baik sejak kuliah.

Berlari menerobos hujan tanpa payung… aku merasa seperti pemain sinetron ternama yang sedang memainkan klimaks cerita.

Akhirnya, aku tiba di pertigaan tersebut.

“Angkot!” seruku sambil melambaikan tangan kepada angkot berwarna hijau dan merah yang melintas. Angkot itu berhenti―terima kasih, Tuhan!―tepat di depanku, lalu aku cepat-cepat menaikinya sebelum tubuhku semakin basah kuyup.

Baru bergerak sekitar satu atau dua kilometer dari pertigaan tadi, tiba-tiba angkot itu menepi. Anehnya, tidak ada siapapun di pinggir jalan yang memberhentikan angkot itu. Kalau memang tidak ada penumpang, mengapa ia harus berhenti?

“Kenapa, Pak?” tanyaku waswas.

“Neng turun sini, yah? Saya mau balik ke pangkalan, jalan ke arah sana macet, Neng.”

… yah.

“Oh, ya udah, Pak,” balasku sambil menyerahkan selembar uang abu-abu. “Makasih, Pak.”

Hati ini sakit, oi.

Setelah angkot itu berlalu, aku berusaha berpikir positif. Mungkin masih ada angkot lain sejenis yang akan lewat, benar?

Kenyataannya… tidak ada.

Angkot tadi… adalah angkot terakhir.

HATI INI BENAR-BENAR SAKIT.

Aku hendak menaiki angkot lain untuk mencapai rumah, itulah rencana cadanganku. Yah, memang harganya akan jadi jauh lebih mahal, tetapi yang paling penting adalah aku pulang dengan selamat sampai di rumah. Masalah biaya, toh, ibuku juga tidak pernah ambil pusing.

Baru saja aku hendak memberhentikan sebuah angkot coklat―

“Reva?”

Deg! Siapa itu yang memanggil namaku dari belakang? Bukan hantu, kan?

“I-iya?” balasku gagap tanpa membalikkan badan. Kalau ternyata hantu… aku harus bagaimana?!

“Ngapain hujan-hujanan di sini?”

Aku masih belum mau membalikkan badan. “Satu, aku gak hujan-hujanan, aku berteduh. Dua, aku lagi nunggu angkot, mau pulang. Jelas?”

“Kebetulan aku juga mau pulang,” balas suara itu lagi. “Mau bareng, gak? Aku pake mobil, kok.”

Dahiku mengerut. Aku membalikkan badan lalu seketika tersadar. “Dilan! Kirain siapa!”

Wajah Dilan, pemuda yang merupakan sobat baikku itu, tampak tersinggung. “Jadi dari tadi kamu gak sadar kalo aku yang ajak kamu ngobrol?”

Aku hanya membalas pertanyaannya dengan hehe-hehe ria bonus bahu terangkat.

Dilan mendecak. “Ayo, kuantar pulang.”

Rezeki memang tidak akan ke mana-mana!

***

Yah, itulah sepenggal kisah menyedihkanku. Dalam satu hari saja aku sudah menemukan banyak PHP: dosen satu, dosen dua, teman-teman satu kepanitiaanku, bus, dan angkot. Kalau tidak ada Dilan datang menyelamatkan hari, mungkin aku sudah mati di tempat.

Frase terakhir mohon diabaikan saja.

Pesan moral dariku? Di balik seorang―atau sebuah―PHP, pasti ada pemberi harapan yang sesungguhnya.

FIN.

Salah satu dari 8 karya terbaik Event Cerpen “Cerpen Rakyat” Devils of Death di LINE

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s