Posted in Cerpen

Uang Raib The Mystery

“BALIKIN DUIT GUEEE!!” Lagi, Rizka membanting bantal akibat emosi sesaat. Setelah bantal mendarat dengan mulus di kasur, gadis itu pun tenang lagi.

Entah sudah keberapa kalinya gadis itu kehilangan uang minggu ini. Tiga? Empat? Rizka bahkan tidak sanggup menghitung. Hayati lelah, katanya.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kepada siapa Rizka melampiaskan emosinya? Pacarnya? Sahabat baiknya? Kakak atau adiknya? Lebih parah lagi, orang tuanya?

Jika dugaan Anda adalah salah satu dari keempat poin di atas, maka jawaban Anda salah, Saudara. Rizka tengah melampiaskan seluruh kekesalannya terhadap…

Dua buah benda empuk bernama kasur dan bantal.

Di kamar asramanya.

“Hah, lega gue.” Rizka merapikan kembali kasurnya yang ia acak tadi. “Kemana sih, duit gue?”

“Aku bisa bantu cari.”

HOAH! Bak disambar guntur di siang bolong―saat ini tengah malam omong-omong―Rizka tersentak dan segera memasang kuda-kuda ala karate (yang sama sekali tidak dikuasainya). Ada suara mencurigakan yang asalnya bukan dari dalam ruangan ini!

“Siapa kamu? Kalo berani, muncul sini!”

“Riz, ini Batu. Depan pintu kamarmu.”

Batu, pemuda teman dekat Rizka yang kelihatan kalem, tetapi super menyebalkan. Ajaibnya, pemuda ini selalu berhasil ‘mengelabui’ satpam asrama dan memasuki asrama perempuan dengan santainya.

“Oh.” Cepat-cepat gadis itu mengubah posenya, kini berkacak pinggang. Pantang buka pintu rupanya. “Mau ngapain ke sini? Nyolong HP?”

“Mau pinjam catatan bahasa Inggris―”

“Boleh. Tunggu bentar, Tu, gue―”

“―sekalian jawaban PR.”

“… gak akan gue bukain pintu.”

“Gak apa-apa asal catatannya dikasih pinjam.”

“SIALAN LO!”

Singkat cerita, akhirnya Rizka menyerahkan catatan bahasa Inggrisnya kepada Batu dan membantu pemuda itu mengerjakan PR-nya. Walau agak ‘miring’, sebenarnya Rizka ini jenius juga. “Pantang ngasih sontekan” mungkin adalah moto hidupnya.

“Oh ya, Tu. Tadi lo bilang lo bisa bantu gue?” Rizka membuka percakapan. Normal, kali ini.

“Yap.” Batu mengangguk masih sambil menyalin catatan.

“Bisa bantu cariin duit gue yang raib?”

“Bisa.”

Kedua alis Rizka terangkat. “Caranya?”

Batu mengangkat tangan kirinya yang bebas. “Jawaban PR.”

Spontan Rizka mengetuk kepala Batu dengan gulungan kertas yang ia genggam. “Mimpi aja sana.”

Batu mengusap kepalanya yang diketuk tadi perlahan. “Aku benar-benar bisa bantu.”

“Gak usah kalo imbalannya jawaban PR, mah.”

“Gratis, deh.”

Hening sejenak.

“Dan bonus jasa konsultasi doi.”

“Oke, deal.”

Hanya dengan sodoran sarana ‘curhat’ gratis, Rizka akhirnya membeberkan semua hal yang ‘dirasa fakta padahal opini’ seputar kejadian hilang uangnya kepada Batu. Pemuda yang dijadikan tempat konsultasi itu hanya terus mengangguk sembari mendengarkan cerita Rizka.

“Intinya.” Rizka mengangkat telunjuk. “Hilang tanpa jejak.”

Batu menarik napas. Dia sudah biasa dengan gaya Rizka yang hiperbolis.

“Dipakai belanja, mungkin.”

Rizka mendengus. “Dikiranya gue Jeka Roling yang duitnya unlimited, kali.”

“Kalau uangmu unlimited, kamu gak akan peduli cuma ilang lima puluh ribu.” Jeda sejenak. “Berarti kamu gak kaya.”

Oke, Batu salah fokus.

“Tu, seriously help me.” Rizka mengguncang bahu Batu sampai kepala pemuda itu bergerak-gerak seolah elastis. “Gue belum bayar uang kas!”

“Mau pinjam uangku?”

“TETEP AJA HARUS GUE BALIKIN!”

Batu menahan tangan Rizka lalu bertanya, “Terus gimana? Mau cari sekarang?”

Mata Rizka mengerjap. “Sekarang banget?”

Batu mengangguk sambil membereskan bukunya. “Supaya kamu berhenti ngomong.”

Sebuah jitakan kembali melayang dan mendarat tepat di atas kepala Batu.

~*~

Batu akhirnya benar-benar menemani Rizka mencari uangnya yang hilang―padahal ini sudah lewat larut, untungnya besok hari libur. Dengan berbekal senter dan sebungkus Hepitos baru yang merupakan bekal wajib bagi Rizka, berangkatlah mereka menuju gedung sekolah yang letaknya sekitar tiga ratus meter dari kompleks asrama.

“Lo yakin duit gue ada di kelas?” Rizka bertanya sambil menyorot jalan dengan senter. “Gue kan, pergi kemana-mana.”

“Kita gak akan tau kalo belum nyoba.”

Hm. Kata-kata Batu ada benarnya juga.

Mereka tiba di kelas mereka, sebuah ruangan di pojokan lantai dua. Kelas mereka ini memiliki jendela-jendela lebar pada dua sisinya, membuat ruangan kelas mereka menjadi ruangan paling terang di gedung ini…

Pada siang hari.

“Tadi kamu duduk dimana?” tanya Batu pada Rizka.

Gadis yang ditanya bergegas mendekati tempat duduknya dan berkata, “Di sini.”

“Kalo gitu kamu cari di sekitar sana.” Batu menunjuk daerah dekat Rizka. “Aku yang cari sisanya.”

Mereka mulai mencari sejumlah uang milik Rizka yang hilang. Rizka mengobrak-abrik laci mejanya yang berantakan, tak lupa menyisir setiap halaman bukunya yang ada di dalam sana. Batu mencari sekilas di seluruh penjuru kelas, menyorotkan senter ke sana-sini tanpa hasil pasti.

Sayangnya, nihil.

Satu jam mereka mencari, mereka tidak menemukan apapun.

“Kita balik ke asramamu aja kalo gitu,” putus Batu.

Menggunakan teknik yang sama dengan teknik masuknya ke asrama perempuan tadi, Batu berhasil lolos dari pengawas asrama yang galak. Mereka kembali duduk-duduk di teras kamar asrama Rizka, sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan.

“Coba cari lagi di kamarmu,” saran Batu.

Rizka mengangguk. Ia masuk kembali ke dalam kemarnya, mencoba mencari di segala penjuru kamar mulai dari bawah ranjang sampai sudut terdalam lemari. Bukannya uang, Rizka justru menemukan gelang lamanya yang justru tidak ingin ia temukan. Maklum, pemberian sang mantan.

“Gak ketemu,” ujar Rizka setelah sepuluh menit mengobrak-abrik kamarnya. “Coba kamu yang cari.”

Batu mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam kamar gadis itu dan mulai mencari di tempat yang rasanya jarang ‘diselidiki’ oleh Rizka.

Sama, dia juga tidak berhasil.

“Rizka, coba cari satu kali lagi.” Batu mengedikkan kepalanya, mengarah ke kamar. “Tapi coba cari di tempat yang rasanya gak mungkin.”

Rizka mengerjapkan matanya heran, tetapi dia memutuskan untuk menurut. Kalau Batu sudah memberi titah, sebaiknya jangan dilawan.

Memasuki kamar, Rizka berpikir dulu harus mulai mencari darimana. Tempat yang dirasa tidak mungkin? Apa, ya?

“Bantal.” Didekatinya ranjang dan diambilnya bantal yang malang―korban emosi Rizka sekitar dua atau tiga jam yang lalu.

Rizka merogoh bagian-bagian luang antara bantal dengan seprai yang melapisinya sampai tangannya menemukan tekstur beberapa kembar kertas.

Eh?

Ia tarik kertas itu dan ia dapatkan…

Uangnya yang hilang.

Ada di sana!

“Tuuu!” seru Rizka tanpa beranjak dari kasur. “Batuuu! Ke sini buruaaan!”

Tiba-tiba saja Batu sudah berdiri di belakang Rizka. “Ya?”

“WOAH! Kaget.” Begitu responnya saat membalikkan badan. Kok, Batu tampak menyeramkan, ya? “Uangku ketemu! Seratus persen utuh tanpa potongan!”

Batu tersenyum tipis, sangat tipis. “Baguslah.”

“Makasih udah bantuin, ya!” Rizka menepuk-nepuk pundak Batu. “Sekarang gue bisa bayar uang kas.”

Batu mendengus pelan, tetapi senang. “Ya, baguslah.”

“Eh.” Rizka mengerjapkan matanya. “Ngapain lo masuk kamar gue? Keluar! Keluar! Entar pada salah sangka lagi!”

Batu mengangkat bahu. “Padahal tadi yang nyuruh masuk juga siapa.”

Rizka hanya terkekeh-kekeh sambil mengibaskan tangan, berusaha mengusir Batu. “Hus, hus.”

“Iya, iya, aku pergi.” Batu membalikkan badan sambil melambaikan tangan. “Sampai ketemu besok di kelas.”

Rizka mengangguk lalu mengulas senyum bahagia. Selamatlah dirinya dari amukan sang ibu yang sangat protektif soal uang.

Beberapa bulan kemudian, barulah Rizka ketahui bahwa Batu sengaja menyembunyikan uang Rizka agar mereka dapat menghabiskan malam bersama.

… sial, batin Rizka.

FIN

Pict source: tumblr
Salah satu dari 8 karya terbaik Event Cerpen “Cerpen Admin” Devils of Death di LINE

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s