Posted in Cerpen

Yang Penting Nasi Goreng

“Kamu di restoran X? Pesan apa?”

“Nasi goreng.”

“Eh? Kamu di kafe Y? Pesan apa?”

“Nasi goreng.”

“Kamu lagi jalan-jalan ke kota Z, kan? Kuliner apa, nih?”

“Nasi goreng.”

“Yang penting nasi goreng” mungkin adalah motto hidup seorang Dilan, pemuda umur 18 (jalan 19) tahun yang cinta mati dengan menu tersebut. Tiap Reva, pacarnya, menanyakan menu apa yang dipesan sang cowok di sebuah tempat makan, pasti cowok itu akan mengatakan dua kata yang seolah keramat itu.

“Lan, mau pesan apa?” tanya Reva saat suatu hari mereka berdua mampir di sebuah kafe kecil dengan menu makanan yang lumayan mewah. “Aku bingung mau spaghetti atau steak.”

Dilan menutup buku menunya lalu dengan santai berkata, “Nasi goreng.”

Oh, yang benar saja!

“Kalo dipikir-pikir,” Reva menggumam pelan sambil mengunyah spaghetti yang akhirnya ia pesan, sementara Dilan tetap setia dengan menu andalannya, nasi goreng. “Aku tuh, gak bisa masak, Lan, telor doang.”

Dilan tersenyum kecil sebelum menyuapkan sesendok nasi kecoklatan itu ke dalam mulutnya. “Belajar, lah.”

“Yaa… belajar sih, belajar.” Reva menggigit garpunya. “Cuma gak rajin.”

“Rajinin.” Dilan menunjuk Reva dengan sendoknya. “Kan, kamu sendiri yang mau.”

“Yah, masa nanti pas udah berkeluarga, aku gak bisa masak buat suami dan anak sendiri?” Reva mendesah pelan sambil kembali menyuapkan spaghetti ke dalam mulutnya.

“Aku gak keberatan kok, Rev.”

“Dih, geer amat, emangnya siapa yang merujuk ke kamu?”

“Loh, siapa yang geer? Aku cuma bilang aku gak keberatan kalo kamu gak bisa masak buat suamimu, tapi itu bukan berarti aku yang bakal jadi suamimu.”

Reva menggertakkan gigi, kesal dengan kelitan Dilan.

Dilan terkekeh menyadari kekesalan Reva padanya. “Aku serius, Rev. Mau aku jadi suamimu ataupun nggak nanti, yah, aku gak akan nuntut istriku buat bisa masak.” Jeda sejenak. “Toh, aku bisa masak.

Reva mengerjap mendengar perkataan itu. Dilan saja bisa memasak, masa Reva, seorang perempuan, yang kodratnya adalah memasak, tidak bisa melakukan hal yang bisa dilakukan laki-laki? Siapa yang perempuan sebenarnya di sini?

*

Gadis itu, Reva, akhirnya jadi benar-benar memikirkan soal masa depannya nanti. Ia sudah 18 (jalan 19) tahun, berarti kurang lebih tujuh tahun lagi ia akan hidup dengan seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya. Kalau pria itu tidak menuntutnya bisa masak sih, bukan masalah. Kalau suaminya koki terkenal bagaimana? Reva bisa dipermalukan di tempat.

“Gak ada salahnya nyoba.” Reva mengepalkan tangannya sambil mengangguk. Ia sudah bertekad, mau tidak mau, ia harus bisa memasak. Kalaupun ia tidak bisa memasak masakan bintang lima, minimal ia mulai dengan masakah khas ibu rumah tangga.

Hm… bagaimana dengan makanan favorit Dilan?

“Nasi goreng, eh?” Reva menulis nama menu tersebut di dalam buku ingatannya sambil mencari ibunya yang sedang ada di rumah, tetapi tidak jelas di ruangan mana.

“Ma,” panggilnya saat berhasil menemukan sosok yang lebih tua itu. “Reva mau buat nasi goreng, caranya gimana, ya?”

Mama Reva mengerjap beberapa kali mendengar pertanyaan yang hampir tidak pernah beliau bayangkan akan keluar dari mulut anak sulungnya. “Reva mau belajar masak?”

Reva hanya terkekeh tidak jelas.

“Pertama kamu tumis bawang merah sama putih dulu,” ujar Mama Reva sambil bangkit berdiri dari duduknya yang kelewat nyaman. “Nanti kalo udah, Reva balik lagi ke sini.”

Setengah gondok, Reva memutuskan untuk menurut. Ia ambil wajan berukuran lumayan besar lalu menaruhnya di atas kompor. Tak lupa, ia ambil pula spatula untuk menggoreng dan pisau untuk memotong-motong bawang. Sesuai dengan instruksi dari ibunya, Reva mengambil beberapa siung bawang merah dan bawang putih, lalu memotongnya tipis-tipis dan mulai menumis. Sambil bermain dengan spatula, ia berseru, “Udah gitu apa, Maa??”

“Nasi, Rev!”

Sigap, Reva mengambil sebuah piring dan memindahkan tiga centong nasi dari rice cooker. Ia masukkan nasi tersebut ke dalam wajan sambil menikmati musik dari minyak yang panas.

“Rev, telurnya jangan lupa!”

“Oh, iya.” Reva, setengah berlari, menghampiri kulkas dan mengambil beberapa butir telur dari sana. Ia pecahkan telur-telur itu dan memasukkan isinya ke dalam wajan, mencampurkannya dengan nasi yang tadi dimasukkan lebih dulu.

“Apa lagi, Maa?” Lagi, Reva berseru.

“Kasih sosis aja, Rev!”

Reva hanya menurut. Diambilnya sosis dari freezer, dipotong-potong kecil, lalu digabungkan bersama nasi dan kawan-kawannya. Untuk ukuran memasak nasi goreng, Reva merasa dirinya lemah sekali karena terlalu lama mengerjakannya. Akan tetapi, untuk ukuran orang awam, jujur saja Reva merasa bangga.

Eh… tetapi mengapa nasinya tidak berwarna kecoklatan?

“Ma!” Reva berseru lagi, kali ini setengah panik karena nasinya tampak sudah hampir matang. “Kok, gak pake kecap?”

“Mama kalo bikin nasi goreng gak pernah pake kecap, Rev! Suka gak rata ngaduknya!”

Oke, Reva menurut saja.

Maka saat nasi itu sudah matang, Reva mematikan kompor dan memindahkan isi wajan ke atas piring kosong. Ia ingin mencicipi, tetapi terlalu takut untuk tahu rasanya. Mama sudah beberapa hari ini berubah menjadi manusia anti gorengan, jadi tidak bisa diminta pendapat.

“Peduli amat,” tukasnya cuek sambil menyiapkan kotak bekal untuk Dilan.

Suara klakson sayup-sayup terdengar dari depan rumah Reva. Dilan sudah datang, sudah waktunya bagi Reva untuk pergi.

“Ma, Reva pergi dulu!” seru Reva sambil mengenakan sepatunya. Ibunya tidak menjawab, kemungkinan besar sudah tidur. Yah, biar pembantunya saja nanti yang mengunci pintu.

Reva berlari-lari kecil dari teras rumahnya menuju sebuah sedan hijau zamrud yang tengah berhenti di depan halaman rumahnya.

“Lama nunggu?” tanya Reva sambil membuka pintu mobil. Di dalam, lebih tepatnya di kursi supir, Dilan tengah menanti sambil dengan raut wajah menyebalkan menunjuk arloji hitamnya yang tidak familiar di mata Reva.

“Jam baru? Mau pamer?” balas gadis itu sambil menutup pintu mobil.

Dilan mendengus geli. “Jam lama ini, Rev.” Ia menurunkan tangannya lalu menarik sabuk pengaman. “Lama banget, sih.”

“Nyampe jam berapa tadi?” tanya Reva sambil ikut mengenakan sabuknya.

“10.05.”

Reva melirik jam digital di ponselnya. Pukul 10.07.

“Lan, gak sabaran amat sih, cuma dua menit juga.” Reva berkomentar sambil meletakkan tasnya di bawah, tepatnya di samping kaki kanannya. “Hari ini kita mau kemana?”

“Padang rumput dekat sekolah aja, ya?”

Reva memiringkan kepala sedikit lalu mengangguk. “Kamu bawa makanan?”

“Nggak, tapi bawa minum.”

“Bagus, aku udah bawa soalnya.”

*

Reva dan Dilan tiba di tempat tujuan mereka setelah kurang lebih satu jam perjalanan. Setelah mendapat tempat parkir yang dirasa aman, keduanya berjalan menuju padang rumput yang mereka sebut-sebut sejak tadi.

“Ternyata…” Reva duduk di bawah sebuah pohon setelah memastikan tempatnya duduk bersih. “Kita justru melakukan piknik.”

salah satu dari 8 karya terbaik Event Cerpen Devils of Death di LINE

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s