Posted in Random Thought

Dunia Role Playing

Siapa yang sangka―siapa juga yang tahu―kalau aku akan punya dunia alternatif di samping dunia nyataku yang penuh lika-liku?

Aku ini bukan orang yang mudah mengungkapkan isi hatiku. Hal ini baru kusadari beberapa waktu lalu karena bagiku, minta maaf tidaklah semudah membalik telapak tangan bayi.

Kata-kata mungkin merupakan kekuatanku, tetapi aku tidak selalu dapat menyampaikannya secara lisan. Ya, harus aku akui aku amat sangat payah dalam bicara. Kata-kataku mungkin terstruktur dengan baik dan terangkai dengan indah, tetapi apa gunanya itu semua kalau aku tidak pandai bicara?

Kurasa kini aku tahu hal apa yang mendorongku untuk terus menulis dan menulis.

Karena aku tidak pandai bicara, aku merasa aman mencurahkan isi hati dan pikiranku ke dalam bentuk prosa.

Ya, sepertinya begitu.

Dan tampaknya faktor itulah yang mendorongku pada akhirnya untuk kembali ke dunia yang sudah lama kutinggalkan, dunia role playing. Yah, kutinggalkan bukan berarti aku membencinya, sih. Aku meninggalkan dunia ini karena… bosan. Ya, rasanya bosan dan sudah tidak menarik lagi. Aku meninggalkannya lalu berteman dengan sesama role player melalui media yang lain.

Role playing: sesuai kata pertamanya, di sini orang-orang memainkan sebuah karakter yang sudah ada seperti dari AniManga ataupun karakter yang mereka ciptakan sendiri (original character) melalui sebuah media. Media yang paling booming saat ini, Twitter.

Role player: orang yang melakukan role playing.

Jujur saja aku sendiri bertanya-tanya, apa yang mendorongku kembali ke dunia ini? Bukankah dulu aku sempat bertekad untuk tidak kembali?

Memang iya, tetapi kemudian orang dengan imajinasi yang serupa denganku menghampiri dan mengubah tekadku. Sedikit.

Tidak, dia bukan belahan jiwa, pasangan hidup, atau bahasa semacamnya untuk mereka yang kita sebut sebagai pasangan kita. Ia adikku, orang yang mengenalkanku pada awalnya dengan dunia alternatif, dunia lain tempat mencari teman.

Ia memintaku―setengah memaksa―untuk membantunya membuat sebuah closed agency. Ia bilang, permainan yang kami kerap kali mainkan dulu dapat dijadikan sebagai konsep utamanya. Dengan sedikit ba-bi-bu, akhirnya aku setuju.

Closed agency (bahasa Indonesia: agensi tertutup): sebuah perkumpulan bagi akun role playing dimana para anggotanya terikat dengan banyak aturan. Biasanya agensi seperti ini tidak mengizinkan anggotanya mem-follow akun lain selain akun internal agensi. Berbeda dengan agensi terbuka yang membebaskan anggotanya bersosialisasi dengan siapapun.

Walaupun adikku yang mengusulkan pada awalnya―dan semangat pula pada awalnya, akulah yang berakhir mengurusi agensi itu pada detik-detik terakhir sebelum ditutup. Yah, mungkin memang kami pada dasarnya tidak berbakat mengurusi hal seperti itu. Tidak heran kalau kami tidak menyelesaikanya―salahkan aku yang tidak seratus persen berminat.

Akunku jadi tidak berguna. Sial, percuma ya, aku membuat akun ini?

Tidak, aku itu batal menjadi sia-sia karena adikku kembali mengenalkanku pada agensi lain yang dapat kami ikuti, bukan kami urusi. Aku akhirnya memutuskan untuk menggunakan akun itu di sana, sebuah agensi berkonsep akademi sihir yang kelihatan menyenangkan. Yah, tidak ada salahnya dicoba, bukan?

Kenyataannya, aku justru betah. Entah mengapa rasanya asyik sekali mengobrol di sana―padahal aku tidak tampil sebagai diriku sendiri! Apa benar kata adikku kalau aku pandai meng-in-character-kan sebuah karakter?

In character: lawan dari out of character, sebuah kondisi dimana sikap yang dimainkan sesuai dengan sikap karakter aslinya.

Tapi… itu bukan berarti aku tidak bisa tampil sebagai diriku sendiri, ‘kan?

Selain akun itu, akupun mengaktifkan akun lamaku yang tidak terpakai dengan membuatnya menjadi akun bagi original character-ku, karakter kesukaanku yang kubuat berdasarkan diriku sendiri (dengan beberapa modifikasi, tentunya) dan hampir selalu muncul menjadi tokoh utama dalam novelku.

Dengan dua akun itulah aku kembali ke dalam dunia penuh warna ini.

Pertanyaan berikutnya dariku setelah keduanya kubuat, “Apa yang harus kulakukan?”

Apa lagi? Jalani saja, bukan?

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s