Posted in Novel, Review

Review for “Swiss: Little Snow in Zürich”

Swiss: Little Snow in ZürichSwiss: Little Snow in Zürich by Alvi Syahrin
My rating: 4 of 5 stars

“Kita tidak pernah saling membenci, hanya saling merindu.”

Klausa favoritku di novel ini. Yap, kata-katanya nusuk banget, menyadarkan manusia bahwa jika kita membenci seseorang, sebenarnya kita merindukan orang itu. Kebencian adalah cikal bakal dari rasa suka, kan? Makanya aku suka klausa ini.

Lalu kenapa aku kasih bintang empat dari lima?

Satu bintang hilang: karena menurutku konflik dalam cerita ini udah agak kebaca. Rakel yang melampiaskan rasa rindunya ke Kelly pada Yasmine, menganggap Yasmine adiknya, membuat Yasmine merasa dicintai, membuat Yasmine jatuh cinta, membuat Yasmine sakit hati. Agenda musim dingin itu, udah jelas itu milik seorang cewek yang ada di masa lalu Rakel. Yasmine gak sadar, tentunya. Di tengah agenda itu, rahasia Rakel terkuak. Buatku, itu udah agak kebaca. Jadi bisa dibilang aku kurang puas karena aku bisa nebak alurnya.

Satu bintang pertama: salut buat epilog dan prolognya; sudut pandang salju yang bikin temen-temenku yang baca itu bingung dan nanya ke aku. Buatku, dua bagian itu adalah bagian terbaik. Kata-kata dalam dua bagian itu seolah-olah benar-benar mengajak pembaca untuk menjadi salju dalam cerita itu. Menjadi salju yang lumer di lidah Yasmine, salju yang penasaran dengan kisah cinta dua anak manusia di bawah hujan salju. Sudut pandangnya KEREN banget!

Satu bintang kedua: karakternya gak begitu mainstream. Misalnya Rakel, yang kelihatan seenaknya tapi ternyata punya sisi manis dan jujur di balik semua itu sampai-sampai akhirnya dia mengutarakan perasaannya ke Yasmine. Yasmine, yang agak pemalu tapi baik banget. Elena, yang kelihatan seenaknya padahal dia paling peduli sama teman-temannya dan paling sering diajak curhat. Dylan, diam… diam… diam… tapi sekalinya jatuh cinta, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa “ingin membuat bahagia”-nya.

Satu bintang ketiga: penjabaran yang bagus, meski ada beberapa yang membuatku bingung. Arena skate, gunung… akulupanamanya, danau Zurich, dan lainnya, aku suka. Danau itu, seolah-olah ada di depanku, dengan Rakel dan Yasmine di atas dermaganya, duduk menghadap danau sambil memunggungi satu sama lain. Itu… keren. Penjabaran dalam novel ini membuatku seolah-olah adalah kameramen cerita itu.

Satu bintang keempat: aku suka konsepnya, di musim salju tapi gak mainstream seperti kebanyakan cerita dengan latar “winter“.

Pokoknya aku suka novel ini! Dan karena baca novel ini, kayaknya aku jadi kepingin baca novel Alvi yang lain XD

View all my reviews

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s