Posted in Novel, Review

Review for “Holland: One Fine Day in Leiden”

Holland: One Fine Day in LeidenHolland: One Fine Day in Leiden by Feba Sukmana
My rating: 5 of 5 stars

Belanda.

Dengan membaca judul pada sampulnya, yang terlintas dalam benakku tentu saja: oh, itu (yang gak perlu kuberitahu apa). Dan aku gak pernah menyangka bukunya bakal bagus banget, gak sesuai dugaanku.

Sebenarnya Holland ini seri STPC kelima yang aku beli (kalo ngitung yang dari Gagasmedia juga). Sebelum beli ini, aku terlebih dulu beli Swiss. Belum sempat membaca Swiss, aku membuka halaman belakangnya dan menemukan halaman “Next Destination: Belanda”. Otomatis, aku jadi kepingin beli. Dan akhirnya malah buku ini yang lebih dulu selesai.

Kenapa aku kasih bintang lima dari lima?

Satu, karena konflik dalam buku ini buatku KEREN banget. Gimana Kara pergi jauh-jauh ke Belanda buat menghindari masa lalu (berusaha menyibukkan diri, lebih tepatnya) dan akhirnya justru malah jadi deket dengan ibunya, cuma beda kota tempat tinggal. Gimana Yangti-nya Kara gak mau nerima Wulan lagi, kisah cinta Kara sama Rein, masalah keluarga Rein, daaaan sebagai-sebagainya. Aku jarang menemukan konflik seperti itu yang artinya, konflik di buku ini gak mainstream.

Dua, karena penjelasan tentang Leiden, Amsterdam, suasana kota, orang-orang di sana, semuanya enak dibaca. Aku suka bagian penjelasan sikap Linnie yang blak-blakan, orang Belanda memang begitu. Aku juga suka deskripsi benteng itu, apa namanya? Benteng tempat Kara pertama kali bertemu Rein, yang tabrakan. Aku juga suka penjabaran perasaan Kara ketika dia lihat Rein sama Floor, ketika dia stress sendiri di kamarnya; soal ibunya, ketika dia sama temen-temennya, dan lain-lain. Pokoknya, deskripsinya kerennnnn~

Tiga, karena tokoh-tokohnya beragam dan gak mainstream. Misalnya aja, Kara, dia gak bisa bersosialisasi sama laki-laki karena dia gak pernah bersosialisasi sama ayahnya yang notabene udah meninggal sebelum dia lahir. Rein, seringnya tertutup tapi seringkali punya kejutan-kejutan menarik yang simpel tapi romantis buat Kara. Linnie yang blak-blakan, seenaknya sendiri, tapi peka banget dan dia selalu dengerin curhatannya Kara. Yangti yang keras, Wulan yang rada-rada penakut… wah, pokoknya semua karakter novel ini unik.

Mungkin alasan-alasan utama cuma itu. Alasan-alasan lain yang gak penting, misalnya, aku suka novel ini karena Rein kayaknya ganteng. He he, seringkali aku menilai novel dari tokohnya, dan membayangkan sendiri fisik si tokoh itu. Gara-gara bayangan itulah aku jadi terbawa suasana dan seringkali menganggap si tokoh itu nyata.

Sayangnya, bagian akhir cerita menurutku agak gantung. Menurutku, bagian klimaksnya sendiri letaknya bukan di tengah, tapi agak di akhir. Dan akhir yang menggantung itu, akhirnya justru bikin aku kurang puas bacanya. Kurang puas kenapa? Karena aku jadi gak tau akhir pasti dari cerita Kara! Padahal overall, aku suka banget sama novel ini. Empat jempol buat Holland! *ngacungin jempol kaki*

View all my reviews

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s