Posted in Novel, Review

Review for “First Time in Beijing: Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu”

First Time in Beijing: Nostalgia Kisah Cinta Semusim LaluFirst Time in Beijing: Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu by Riawani Elyta
My rating: 4 of 5 stars

“Kesetiaan tetap membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah karena satu kerikil itu, bisa menghancurkan kesetiaan yang sudah dipupuk bertahun-tahun.”

adalah quotation favoritku di novel ini.

Bagaimana Daniel tidak mengatakan “wo ai ni” pada Lisa malam festival itu tetapi justru memberikan cincin safir.

adalah bagian favoritku di novel ini. Kapan lagi aku bisa membaca cerita dengan peristiwa ‘penembakan’ tanpa embel-embel “aku cinta kamu”, “aku sayang kamu”, atau “aku suka kamu”? Tentunya jarang, banget.

Lalu kenapa aku kasih bintang empat dari lima?

Satu bintang yang hilang merepresentasikan typo yang cukup banyak di dalam bukunya. Pengarang dan editor memang manusia, tetapi menurutku kesalahan seperti itu harusnya diminimalisasi. Memang gak begitu mengganggu, tetapi yang namanya typo tetap saja kurang enak dipandang mata.

Satu bintang pertama merepresentasikan kesukaanku terhadap deskripsi-deskripsi memukaunya, terutama bagian danau di balik Great Wall, juga tempat yang ditunjukkan Daniel. Deskripsi di bar, restoran, bandara… oke, cukup soal deskripsi. Intinya, deskripsinya bukannya membuatku menguap melainkan justru membuatku semangat baca. K-E-R-E-N~

Satu bintang kedua merepresentasikan rasa sukaku terhadap karakter Lisa dalam novel ini. Lisa… polos, jujur, tapi juga bisa meledak. Aku salut sama jiwa pantangnya menyerahnya, rasa sayangnya sama ayahnya, rasa ibanya sama Hui Ying (aku sempat menemui beberapa “Hui Jing”) sampai bikin kue coklat itu, pokoknya hampir semuanya.

Satu bintang ketiga merepresentasikan rasa sukaku terhadap alurnya yang santai. Novelnya tebal, harus aku akui. Tapi dengan tingkat ketebalan itu, kurasa aku puas bacanya karena alurnya gak maksa dan ceritanya gak menggantung.

Satu bintang keempat merepresentasikan rasa sukaku terhadap epilog cerita dalam novel ini. Aku suka bagaimana kekanak-kanakannya ayah Lisa menjelang “kematian”-nya. Mengajak Lisa, Lee, Kie Ce, Hui Ying, bahkan Vivian juga, ke taman untuk menyaksikan kembang api layaknya anak muda? Berharap pada kembang api ter…besar? Itu lucu banget~ dan kerennya, Daniel muncul dan nembak Lisa lagi. OH MY GOOOOD… KENAPA DIA BELA-BELAIN LISA BANGEEEET?! Ah, udahlah. Intinya, aku suka Daniel dan aku suka epilog cerita ini.

Akhir kata,
KEREN!~

View all my reviews

Advertisements

Author:

Pecinta dunia tulis-menulis dan hitung-hitungan. Mahasiswi S1 Statistika di sebuah universitas di Jatinangor. Berdomisili di Bandung, tepatnya di bawah naungan sebuah rumah satu tingkat dengan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari empat orang anggota bonus tiga belas ekor kucing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s